Sabtu, 07 Juli 2012

Nama-Nama Indonesia pun Tertera di Angkasa

Planet minor adalah istilah yang digunakan untuk obyek langit non planet atau komet yang mengitari Matahari.  Planet minor pertama yang ditemukan adalah Ceres pada tahun 1801 yang kemudian dikenal juga sebagai planet katai setelah IAU melakukan redenefinisi terhadap klasifikasi planet di tahun 2006.
Sampai dengan Desember 2010, sudah 257.455 planet minor yang sudah diberi nomor identifikasi / kodifikasi dari 535000 lebih planet minor yang sudah ditemukan. Dan dari 257.455 planet minor itu  baru sekitar 16154 planet minor yang sudah memiliki nama resmi.  Di antara ribuan nama tersebut, beberapa di antaranya memiliki nama Indonesia, yang diberikan sebagai penghargaan ataupun pengingat akan suatu tempat dan kejadian.

Nama Asteroid Berdasarkan Nama Mantan Kepala Observatorium Bosscha

Observatorium Bosscha. kredit : ivie
Yang terbaru, pada bulan November 2010, IAU memberikan 4 nama Indonesia sebagai nama 4 asteroid yang berada di Sabuk Utama Asteroid. Keempat nama tersebut merupakan nama-nama mantan kepala Observatorium Bosscha yang diberikan oleh IAU sebagai penghargaan kepada Observatorium Bosscha yang merupakan observatorium di Indonesia sekaligus yang memiliki peran penting dalam sejarah perkembangan astronomi di langit selatan.
Keempat nama tersebut diberikan pada 4 asteroid yang ditemukan oleh suami istri Cornelis Johannes van Houten dan Ingrid van Houten-Groeneveld yang melakukan analisa dari plat fotografi yang diambil oleh Tom Gehrels tanggal 16 Oktober 1977 dalam Palomar – Leiden Trojan Survey. Penemuan asteroid – asteroid tersebut dilakukan dengan menggunakan teleskop Schmidt 122cm  di Observatorium Palomar. Dalam pengamatan tersebut, pemotretan dilakukan dengan menggunakan 68 plat untuk melakukan survei trojan di antara Mars- Jupiter. Di antara planet minor yang ditemukan, 4 asteroid yang diberi nama berdasarkan nama mantan kepala Observatorium Bosscha adalah :
12176 Hidayat / 3468 T-3
Bambang Hidayat promotor astronomi di Indonesia. Ia dikenal dalam pekerjaannya di bidang bintang ganda tampak dan bintang dengan garis emisi H. Ia juga menjadi direktur Observatorium Bosscha di Lembang dari 1968 – 1999 dan menjadi Wakil Presiden IAU dari 1994 – 2000.
Asteroid 12176 Hidayat. Kredit : NASA
12177 Raharto  / 4074 T-3.
Diambil dari nama Moedji Raharto, seorang astronom Indonesia sekaligus dosen senior di Astronomi ITB. Ia pernah menjabat sebagai kepala Observatorium Bosscha dari tahun 1999 – 2004. Moedji bekerja dalam bidang Struktur Galaksi berdasarkan katalog Hipparcos dan IRAS-Point Source catalogue.
Asteroid 12177 Raharto. Kredit : NASA
12178 Dhani / 4304 T-3
Diambil dari nama astronom dan ahli Fisika Matahari Indonesia Dhani Herdiwijaya yang juga pernah menjabat sebagai direktur Observatorium Bosscha pada tahun 2004- -2006. Ia dikenal dengan pekerjaannya dalam hal bintang ganda, aktivitas magnetik Matahari dan kaitannya dengan cuaca dan iklim.
Asteroid 12178 Dhani. Kredit : NASA
12179 Taufiq / 5030 T-3
Dinamakan berdasarkan nama Taufiq Hidayat yang pernah menjabat sebagai Kepala Observatorium Bosscha pada tahun 2006 – 2010. ia dikenal untuk pekerjaannya dalam bidang Tata Surya dan transit Extrasolar serta aktif menentang efek urbanisasi di sekeliling Observatorium Bosscha. Atau dengan kata lain problematika pembangunan di sekeliling Bosscha yang mengancam keberadaan Bosscha sebagai observatorium penelitian.
Asteroid 12179 Taufiq. Kredit : NASA
Selain ke-4 nama tersebut, sebelumnya sudah ada beberapa nama mantan kepala Bosscha yang juga diabadikan sebagai nama asteroid yakni :
2019 van Albada / 1935 SX1
Asteroid ini ditemukan tanggal 28 September 1935 oleh H. van Gent seorang astronom Belanda yang melakukan pengamatan dari Leiden Southern Station dan the Union Observatory di Johannesburg Afrika Selatan. Dinamakan berdasarkan nama Gale Bruno van Albada yang menjadi kepala Observatorium Bosscha pada bulan  Mei 1949 s.d Juli 1958. Van Albada sendiri merupakan perintis pendidikan astronomi di Indonesia dan diangkat sebagai guru besar astronomi ITB pada tahun 1951.

5408 Thé / 1232 T-1

Dianamakan berdasarkan nama Thé Pik Sin, yang menjabat sebagai kepala Observatorium Bosscha dari 1959 -1968. Asteroid ini ditemukan oleh Cornelis Johannes van Houten, Ingrid van Houten-Groeneveld dan, Tom Gehrels pada 25 Maret 1971 dari pengamatan di Observatorium Palomar. Nama Thé diberikan sebagai penghargaan pada Thé Pik Sin pada ulang tahunnya yang ke-65.

Nama Asteroid Berdasarkan Kontribusi dari dan untuk Astronomi Indonesia

Selain nama-nama tersebut ada beberapa nama yang juga diberikan oleh IAU pada nama planet minor sebagai penghargaan atas kontribusi mereka dalam astronomi dari Hindia Belanda atau Indonesia, yakni :
5494 Johanmohr / 1933 UM1
Ditemukan pada tahun 1933 oleh Karl Wilhelm Reinmuth di Heidelberg dan diberi nama johanmohr sebagai penghargaan atas kesuksesan kontribusi Pendeta Johan Maurits Mohr (1716-1775) dalam pengamatan astronomi dan meteorologi. Termasuk di dalamnya pengamatan okultasi Venus di Batavia pada tahun 1761 dan 1769 dari observatorium pribadinya di Molenvliet, Batavia, Hindia Belanda (sekarang Indonesia).
2378 Pannekoek / 1935CY
Dinamakan beradasarkan nama astronom Belanda Antonie Pannekoek dan ditemukan oleh H. van Gent tanggal 13 Februari 1935 di Johannesburg (LS). Pannekoek merupakan pembimbing dari G.B. van Albada dan memiliki peran yang besar bagi astronomi di Indonesia.

10966 van der Hucht / 3308 T-1

Ditemukan 26 Maret 1971 oleh C. J. van Houten, I. van Houten-Groeneveld dan T. Gehrels. Karel A. van der Hucht adalah astronom di Space Reserach Center Utrecht dan bekerja aktif dalam kajian bintang Wolf-Rayet dan menyusun Catalogue of Galactic Wolf-Rayet Stars.  Saat ini ia menjabat sebagai penasehat dalam Komite Eksekutif IAU.
11431 Karelbosscha / 4843 T-1
Ditemukan pada tanggal 13 Mei 1971 oleh pasangan suami istri C. J. van Houten dan I. van Houten-Groeneveld di Leiden berdasarkan plat foto obyek planet minor yang diambil oleh T. Gehrels di Palomar Observatory. Asteroid ini dinamakan berdasarkan nama Karel Albert Rudolf Bosscha (1865-1928), seorang pengusaha kebun teh Belanda di Malabar, Jawa Barat yang bersama-sama dengan keponakannya Rudolf Albert Kerkhoven memberikan kontribusi besar pada pembangunan observatorium di Lembang.  Di Indonesia, nama Bosscha selain digunakan sebagai nama observatorium juga digunakan pada nama salah satu ruang kuliah di Program Studi Fisika. Selain itu, Bosscha dan Kerkhoven dalam kaitan Leids Kerkhoven-Bossca Fonds masih memberikan bantuan bagi kelangsungan riset astronomi di Indonesia.
11432 Kerkhoven / 1052 T-2
Ditemukan tanggal 29 September 1973 oleh pasangan suami istri C. J. van Houten dan I. van Houten-Groeneveld di Leiden berdasarkan plat foto obyek planet minor yang diambil oleh T. Gehrels di Palomar Observatory. Rudolf Albert Kerkhoven (1879 – 1940) merupakan salah seorang tokoh Belanda yang memberikan kontribusi bagi pendirian dan keberlangsungan Observatorium bosscha di Lembang bersama sang paman Karel Albert Rudolf Bosscha. Warisannya sampai saat ini masih mendukung riset Astronomi di Indonesia dan Belanda di bawah bendera Leids kerkhoven-Bossca Fonds, yang memberikan bantuan dana bagi kebutuhan riset dan pendidikan astronomi di Indonesia.
Nama asteroid berdasarkan nama tempat di Indonesia maupun yang memiliki keterkaitan dengan Indonesia adalah :
536 Merapi / 1904 OF
Ditemukan 11 Mei 1904 oleh G. H. Peters di Washington dan dinamai berdasarkan nama gunung Merapi / Marapi Sumatera Barat yang merupakan situs ekspedisi dari US Naval Observatory dan beberapa ekspedisi lainnya saat melakukan pengamatan gerhana Matahari tanggal 17 Mei 1901. Gunung ini mengeluarkan asap secara kontinyu / terus menerus dan namanya sendiri berarti “with fire / dengan api”. Nama Merapi diajukan oleh penemu asteroid 536 Merapi yang juga salah satu anggota ekspedisi Gerhana Matahari di Sumatera.
731 Sorga / 1912 OQ
Ditemukan 15 April 1912 oleh A. Massinger di Heidelberg dan dinamai Sorga yang berasal dari bahasa Indonesia Surga. Surga di Bumi disebut juga Surga dunia.
732 Tjilaki / 1912 OR
Ditemukan 15 April 1912 oleh A. Massinger di Heidelberg dan dinamai Tjilaki / Cilaki dari nama sungai dan desa Tjilaki / Cilaki yang berasal dari gunung Malabar. Tji artinya sungai.
754 Malabar / 1906 UT
Ditemukan 22 Agustus 1906 oleh August Kopff di Heidelberg. Dinamakan berdasar nama pegununungan Malabar di  Daerah Malabar yang terkenal sebagai perkebunan teh. Nama ini diambil untuk mengenang ekspedisi Gerhana Matahari yang dilakukan oleh belanda dan Jerman ke Kepulauan Christmas tahun 1922.
770 Bali / 1913 TE
Ditemukan 31 Oktober 1913 oleh A. Massinger di Heidelberg. Nama Bali merupakan nama daerah di Indonesia yang mayoritas beragama Hindu. Bali dalam nama asteroid ini didedikasikan pada nama Raja klan Daityas dalam Puranas Hindu.
772 Tanete / 1913 TR
Ditemukan 19 Desember 1913 oleh A. Massinger di Heidelberg dan dinamakan Tanete berdasarkan nama tempat di Sulawesi, Indonesia.
863 Benkoela / 1917 BH
Ditemukan 9 Februari 1917 oleh M. Wolf di Heidelberg dan dinamakan Benkoela dan diperkirakan nama tersebut merupakan nama kota Benkoelen (Bengkulu) yang ada di Sumatera, Indonesia.
2307 Garuda / 1957 HJ
Asteroid di Sabuk Utama Asteroid yang ditemukan pada tanggal 18 April 1957 di Observatorium La Plata.  Diyakini nama ini sebenarnya terkait dengan nama India. Garuda yang diajukan sebagai nama asteroid 1957 HJ berasal dari Bahasa Sansekerta dan merupakan putra Kasyapa dan Vinata dalam mitologi India.
7172 Multatuli / 1988 DE2
Ditemukan 17 februari 1988 oleh E. W. Elst di European Southern Observatory. Dinamai dengan nama penulis terkenal dari Belanda, Multatuli atau Eduard Douwes Dekker (1820-1887). Di tahun 1838, Multatuli datang di Hindia Belanda dan di tahun 1856 ia mengundurkan diri dari posisi Assistant Commissioner of Lebak Java karena tidak adanya dukungan oleh pemerintah (Belanda -red) dalam perjuangannya untuk melindungi orang jawa dari eksploitasi majikan mereka. Ia kemudian kembali ke eropa dan dikenal secara internasional karena novelnya Max Havelaar (1860) yang kemudian membawa Multatuli untuk melakukan pembelaan dan menuntut keadilan di Jawa dan menyindir mental bangsa Belanda kelas menengah. Nama Multatuli diajukan oleh sang penemu asteroid dan didukung oleh C.F. Merks dan J. Meeus.
Penamaan Asteroid sendiri membutuhkan waktu panjang karena pada awal ditemukan ia hanya diberi kode khusus dan diberi nomer jika orbitnya diketahui dengan baik. Pengajuan nama yang dilakukan oleh si penemu akan dibahas oleh IAU dan disetujui dahulu sebelum diberi nama yang resmi.
Referensi : A&A, NASA JPL, Dictionary of Minor Planet Names

Tags: , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , ,
 
Sumber: http://langitselatan.com/2011/01/12/nama-nama-indonesia-pun-tertera-di-angkasa/

Foto Dari Lokasi Pendaratan Manusia di Bulan

Pernahkah manusia mendarat di Bulan? Itu pertanyaan yang bertahun-tahun lamanya muncul dan diperdebatkan oleh mereka yang mempercayai teori konspirasi. Tapi apakah foto-foto terbaru dari  Lunar Reconnaissance Orbiter (LRO) masih akan memberi ide baru bagi para penganut teori konspirasi dan mereka yang suka sekali dengan hoax tentang pendaratan di Bulan?
Pendaratan di Bulan tidak hanya terjadi sekali saja. Setidaknya ada 5 kali pendaratan di Bulan setelah Apollo 11. Misi pendaratan terakhisr adalah Apollo 17 sementara misi Apollo 13 gagal dan perencanaan misi Apollo 18,19 dan 20 dibatalkan.
Foto-Foto dari Bulan
Wahana pengorbit bulan Lunar Reconnaissance Orbiter (LRO) yang diluncurkan pada tahun 2009, bertugas untuk melakukan pemetaan di Bulan. LRO dalam misinya ini memotret tiga lokasi yang berasal dari pendaratan Apollo 12, 14 dan 17 dari angkasa. Citra yang diambil sangat tajam dan menujukkan jalur perjalanan astronot saat menjelajah permukaan Bulan.

Citra dari lokasi pendaratan Apollo 17 di Bulan yang diambil LRO. Kredit : NASA's Goddard Space Flight Center/ASU)
Di lokasi pendaratan Apollo 17, jejak yang ditinggalkan rover bulan terlihat sangat jelas. Tampak juga jejak kaki terakhir yang ditinggalkan dari astronot Eugene Cernan dan Harrison Schmitt.  Tak hanya itu, citra yang diambil LRO juga menunjukkan lokasi tempat diletakannya beberapa instrumen ilmiah oleh para astronot yang kemudian menjadi mata bagi manusia untuk melihat dan mengenali interior dan lingkungan Bulan.
Dari citra yang dihasilkan LRO, para peneliti masa kini bisa menelusuri kembali jejak para astronot dengan sangat jelas untuk mengetahui dimana mereka mengambil contoh-contoh dari Bulan.  Dari tiga citra berbeda yang diambil LRO, tampak jejak di tanah tipis saat astronot keluar dari modul pndaratan  dan mulai menjelajah dengan berjalan kali. Pada citra Apollo 17, jejak perjalanan para astronot termasuk di dalamnya jalur terakhir yang dibuat oleh manusia di Bulan bisa dengan mudah dibedakan dari jejak ganda yang ditinggalkan oleh rover Bulan, yang diparkir di area timur pendaratan.
Citra yang dihasilkan LRO, diambil dengan Narrow Angle Camera yang memiliki ketajaman luar biasa untuk memotret permukaan Bulan dari ketinggian rendah.
Pada setiap lokasi, ada jejak menuju ke arah barat pendaratan. Di tempat tersebut, astronot menempatkan Apollo Lunar Surface Experiments Package (ALSEP) yang digunakan untuk memantau interior dan lingkungan Bulan.  Peralatan yang satu ini merupakan bagian penting dalam semua misi Apollo karena ia memberikan pandangan awal dari struktur internal Bulan, mengukur tekanan permukaan Bulan dan komposisi atmosfernya. Untuk kasus Apollo 11, saat itu ia membawa versi lebih sederhana dari paket sains untuk dibawa ke Bulan. Hal ini mengingat Apollo 11 merupakan awal dari pendaratan di Bulan.

Citra dari lokasi pendaratan Apollo 12 di Bulan. Kredit : NASA's Goddard Space Flight Center/ASU)
Salah satu detil yang ada pada citra adalah bentuk L dalam foto Apollo 12. Bentuk L tersebut menandai lokasi kabel dari stasiun utama ALSEP ke 2 instrumennya. Meskipun kabel sangat kecil untuk bisa dilihat langsung namun mereka bisa tampak karena dapat memantulkan cahaya dengan sangat baik.
Untuk foto yang diambil dari lokasi pendaratan Apollo 14,tampak juga jejak yang ditinggalkan oleh Alan Shepard dan Edgar Mitchell saat berjalan di Bulan. Misi ini juga dikenal karena Alan Shepard saat berjalan di bulan yang ke-2 ia “bermain” golf aka memukul 2 buah bola golf. Selain itu tahap ketika modul Antares turun di Bulan juga tampak dalam foto yang diambil LRO.

Lokasi pendaratan Apollo 14 di Bulan. Tampak lokasi turunnya modul Antares dan jejak perjalanan astronot. Kredit : NASA's Goddard Space Flight Center/ASU
Manuver LRO
Bagaimana LRO bisa mengambil foto sedemikian jelas?  Resolusi tinggi yang dihasilkan juga diperkirakan karena penyesuaian yang dibuat pada orbit LRO yang dibuat sedikit oval atau elips tanpa merubah tinggi rata-rata. Akibatnya, bagian terendah orbit berada pada sisi yang diterangi Matahari. Pada posisi ini LRO bisa mengambil foto dengan sangat jelas.
Manuver itu membawa LRO turun dari ketinggian standarnya yakni 50 km ke ketinggian 21 km saat ia melintasi permukaan Bulan.  Wahana LRO berada pada orbit ini selama 28 hari sehingga akan cukup untuk menyelesaikan 1 rotasi dan mengambil keseluruhan permukaan Bulan dengan kamera sudut lebar. Siklus tersebut sudah berakhir dan kini LRO kembali ke ketinggian 50 km lagi.
Apa Dampaknya?
Dari kacamata sains, citra yang didapat sangat pernting karena foto-foto ini memberi informasi ciri fotometri Bulan. Salah satunya mengapa tampak gelap? Inilah yang menjadi pertanyaan untuk dijawab.  Alasan lebih praktis, foto-foto ini sekaligus menunjukkan dengan tepat area dimana contoh dari Bulan diambil.
Citra yang lebih tajam juga memberi petunjuk bagi para astronom untuk mengidentifikasi perkakas yang ditinggalkan disana sebelum mereka meninggalkan Bulan.
Dan bagi mereka yang tertarik dengan bendera yang dikibarkan oleh misi Apollo, akan sulit untuk bisa melihat bendera itu “masih ada disana” setelah lewat beberapa dekade. Lokasi tempat bendera itu ditancapkan jelas masih ada. Namun suhu ekstrim panas dingin dan juga lingkungan yang dihujani sinar ultraungu mungkin tidak akan meninggalkan apapun dari bendera yang terbuat dari nilon tersebut. Kalau pun maish ada mungkin bentuknya sudah compang camping.
Sumber : NASA
Tags: , , , , , ,
Sumber:http://langitselatan.com/2011/09/07/foto-dari-lokasi-pendaratan-manusia-di-bulan/

Pelacakan Tapak Observatorium Tertua di Indonesia

Observatorium adalah bangunan yang ditujukan untuk mengamati langit dan bumi dalam disiplin ilmu astronomi, meteorologi, geologi, oseanografi dan vulkanologi. Namun dalam praktiknya nama observatorium lebih sering disematkan kepada bangunan yang dikhususkan untuk mengamati benda-benda langit dan peristiwa-peristiwa langit sekaligus mencatatnya. Maka observatorium berbeda bila dibandingkan dengan proto-observatorium, dimana yang terakhir ini lebih merujuk kepada bangunan multifungsi yang juga berperan sebagai pos observasi benda langit, baik secara rutin maupun sesekali.
Observatorium tertua di Indonesia (dan bukan proto-observatorium) adalah observatorium Mohr. Dinamakan demikian sebab observatorium ini merupakan milik pribadi seorang Johann Mauritz Mohr (1716-1775), ilmuwan Belanda yang juga pendeta Kristen, yang tinggal di Batavia pada masa kekuasaan VOC. Observatorium yang dibangun di atas tanah pribadi Mohr di Mollenvliet (kini Glodok, Jakarta Barat) berdampingan dengan wihara Kim tek I atau Cin te Yuen/Jinde Yuen (kini wihara Dharma Bhakti, Glodok) berbentuk menyerupai bagian depan observatorium Uraniborg (Denmark), tempat kerja astronom Tycho Brahe dua abad sebelumnya, namun dalam skala lebih kecil dan lebih diperkuat.
Observatorium itu berupa bangunan enam lantai yang adalah bangunan tertinggi di Batavia, dengan puncak atap datarnya setinggi 30,5 meter dari permukaan tanah serta memiliki panjang 22,5 meter dan lebar 17,5 meter. Ongkos pembangunannya mencapai 200.000 gulden atau setara Rp 82 milyar (kurs Juni 2012), hampir dua kali lipat lebih mahal dibanding ongkos pembangunan istana Gubernur Jenderal VOC di Buitenzorg (kini istana Bogor). Kemegahannya menjadi buah bibir di Batavia, bahkan dalam dunia ilmiah internasional. Sehingga jalan penghubung observatorium dengan jalan raya Mollenvliet Barat (kini Jalan Gajah Mada) pun dinamakan torenlaan atau gang Torong dalam istilah lokal.
Observatorium Mohr dalam lukisan J. Clement. Sumber: Zuidervaart & Gent, 2004.
Observatorium Mohr dalam lukisan J. Clement. Sumber: Zuidervaart & Gent, 2004.
Observatorium Mohr dilengkapi dengan instrumen astronomi terbaik pada masanya. Di antaranya jam astronomik setinggi 180 cm dengan lebar 43 cm, sepasang globe berdiameter 60 cm, kuadran astronomik bergaris tengah 60 cm, instrumen equal-altitude (teodolit?) selebar 60 cm, mesin paralaktik, oktan laut sepanjang 76 cm, teleskop sepanjang 550 cm, pluviometer (pengukur curah hujan), anemometer dan kompas. Observatorium Mohr dibangun sejak 1765 dan berfungsi hingga sepuluh tahun kemudian. Selama masa itu dilakukan berbagai observasi langit dan sejumlah fenomena alam, diantaranya Jupiter dan satelit-satelitnya, transit Venus 4 Juni 1769, transit Merkurius 10 November 1769, curah hujan Batavia, dinamika angin dan deklinasi magnetik Batavia. Tiadanya dukungan VOC, terutama lewat Gubernur Jenderal van de Parra, membuat hanya laporan transit Venus dan Merkurius saja yang sempat terpublikasikan secara luas. Bagaimanapun, aktivitas Mohr menginspirasi terbentuknya Batavia Society of Arts and Sciences (Bataviaasch Genootschap van Kunsten en Wetenschappen) pada 1778.
Lukisan pertama Rach, diambil dari Jalan Mollenvliet Barat (kini Jalan Gajah Mada), menggambarkan sepenggal gang Torong dengan observatorium di latar belakang. Lokasi tempat berdirinya dua pohon besar di latar depan mungkin telah menjadi halte bus Transjakarta kawasan Glodok di masa kini. Sumber: Zuidervaart & Gent, 2004.
Lukisan pertama Rach, diambil dari Jalan Mollenvliet Barat (kini Jalan Gajah Mada), menggambarkan sepenggal gang Torong dengan observatorium di latar belakang. Lokasi tempat berdirinya dua pohon besar di latar depan mungkin telah menjadi halte bus Transjakarta kawasan Glodok di masa kini. Sumber: Zuidervaart & Gent, 2004.
Aktivitas observatorium Mohr harus terhenti setelah Johann Mauritz Mohr wafat pada 25 Oktober 1775. Tidak ada yang melanjutkan kinerja observatorium ini. Pada 1780, bangunan observatorium rusak berat setelah diguncang gempa kuat yang menghancurkan sebagian Batavia. Kemalangan bertambah lagi dengan wafatnya istri Mohr pada Mei 1782. Namun sebelum wafat, istri Mohr telah menjual instrumen observatorium kepada Johanes Hooijman, yakni pada tahun 1776, dalam kondisi sebagian besar rusak oleh tingginya kelembaban udara Batavia. Hooijman mengirimkannya kembali ke Belanda untuk diperbaiki dan kini sejumlah instrumen itu terpampang pada beberapa museum di Belanda.
Pada Juni 1782, bangunan yang telah rusak itu dijual dan selanjutnya pada 1784 beralih lagi ke tangan Willem Vincent van Riemsdijk dari keluarga Gubernur Jenderal Hindia Belanda Jeremias van Riemsdijk. Riemsdijk mengubah bangunan itu menjadi penginapan murah sebelum kemudian Gubernur Jenderal Daendels, yang dikenal akan kekejamannya, menutupnya dan mengubahnya jadi barak tentara. Sebagian bangunan itu masih tersisa hingga 1812, namun pada 1844 hanya tinggal pondasinya saja yang masih terlihat.
Dimanakah lokasi tapak observatorium Mohr pada masa kini?
Observatorium Mohr hanya disebutkan terletak di Glodok masa kini, namun dimana posisi sesungguhnya tapaknya tidak jelas. Pasca 1844, tidak ada kejelasan bagaimana status sisa bangunan dan lahan yang pernah menjadi observatorium Mohr. Terlebih salah satu penanda kolektif kota Batavia akan eksistensi observatorium ini, yakni gang Torong, telah bersalin nama sejak 1945.
Lukisan kedua Rach, menggambarkan kompleks wihara Kim Tek I (Dharma Bhakti) di sebelah kiri dan observatorium Mohr di sebelah kanan. Sumber: Gunawan dkk, 2012.
Lukisan kedua Rach, menggambarkan kompleks wihara Kim Tek I (Dharma Bhakti) di sebelah kiri dan observatorium Mohr di sebelah kanan. Sumber: Gunawan dkk, 2012.
Beruntung terdapat lukisan-lukisan yang menggambarkan situasi observatorium Mohr, seperti dari Johannes Rach dan J. Clement. Terdapat dua lukisan Rach, yang pertama menggambarkan observatorium Mohr dari jauh yakni dari jalan Mollenvliet Barat dan yang kedua menggambarkannya berdampingan dengan wihara Kim Tek I. Sementara lukisan Clement menggambarkan arsitektur observatorium Mohr dilihat dari bagian depan (arah timur) dan sisi utara. Wihara Kim Tek I (Dharma Bhakti) hingga kini masih ada di Glodok, sehingga dapat dipastikan tapak observatorium Mohr berada di sekitar wihara ini.
Namun, di sebelah mana wihara?
Semula diduga tapak observatorium Mohr terletak di sebelah barat wihara, di lokasi yang kini menjadi lahan Yayasan Pendidikan Ricci dan Gereja Katolik Santa Maria de Fatima. Alasannya, lukisan kedua Rach dianggap mengabadikan pemandangan observatorium dan wihara dari arah timur. Karena observatorium terletak di sisi kanan agak ke belakang dari wihara, maka ditafsirkan tapak observatorium Mohr berada di sebelah barat wihara. Selain itu lahan Mohr, setelah dikuasai pemerintah kolonial Hindia Belanda, dianggap beralih ke tangan kapitan Tionghoa bermarga Tjioe dan kemudian dibeli yayasan dan gereja Katolik tersebut pada 1953.
Perbandingan sketsa kompleks wihara antara lukisan kedua Rach, foto Troppenmuseum dan foto masa kini. Perhatikan kesan atap bersusun dua di latar belakang (tanda panah) yang menjadi ciri khas. Kesamaan ini memastikan lukisan kedua Rach digambar dari sisi selatan kompleks wihara.
Perbandingan sketsa kompleks wihara antara lukisan kedua Rach, foto Troppenmuseum dan foto masa kini. Perhatikan kesan atap bersusun dua di latar belakang (tanda panah) yang menjadi ciri khas. Kesamaan ini memastikan lukisan kedua Rach digambar dari sisi selatan kompleks wihara.
Namun tinjauan lapangan yang dipadukan analisis komprehensif lukisan kedua Rach dengan lukisan Clement menyajikan hasil berbeda. Jika Clement benar dalam perspektifnya, maka bangunan observatorium Mohr memiliki sisi-sisi bangunan yang simetris, khususnya pada sisi yang saling berhadapan. Sehingga sisi utara berbentuk sama dengan sisi selatan dan demikian pula sisi barat dengan sisi timur. Jika pengetahuan ini diterapkan dalam memandang lukisan kedua Rach, maka bisa disimpulkan titik tempat Rach mensketsa lukisan keduanya bukanlah di sebelah timur, melainkan di sebelah utara atau selatan kedua bangunan tersebut.
Kunci selanjutnya guna mengetahui tapak observatorium Mohr di masa kini terletak pada arsitektur wihara Dharma Bhakti. Lukisan kedua Rach memperlihatkan gambaran wihara dari arah salah satu pintu gerbangnya. Perbandingan dengan foto wihara dari dekade 1930-an yang dikoleksi Troppenmuseum dan tinjauan lapangan memperlihatkan, meski di masa kini bentuk pintu gerbangnya sudah berubah, namun ada pemandangan serupa yang masih tetap ada. Yakni panorama atap bangunan wihara yang mengesankan bertumpuk dua di latar belakang, serta bangunan wihara lainnya di sisi kiri. Panorama tersebut hanya terlihat jika kita memandang seluruh kompleks wihara hanya dari arah selatan, tepatnya dari arah pintu gerbang utamanya. Apa yang mengesankan sebagai atap bertumpuk dua sebenarnya atap dari dua bangunan utama wihara namun keduanya memiliki ketinggian berbeda.
Penggalan-penggalan jalan dalam lukisan kedua Rach pun masih bisa diidentifikasi pada saat ini. Jalan di depan pintu gerbang wihara kini menjadi Jalan Kemenangan 3, sementara jalan di sisi kanan (yang memisahkan kompleks wihara dan observatorium Mohr) menjadi Jalan Kemenangan Raya. Karena dalam lukisan kedua Rach observatorium Mohr digambarkan terletak di sebelah kanan kompleks wihara, maka dapat disimpulkan bahwa tapak observatorium Mohr terletak di sisi timur wihara Dharma Bhakti.
Citra satelit sepenggal kawasan Glodok (Jakarta Barat) masa kini, dengan posisi wihara Dharma Bhakti (1), SD Katolik Ricci 1 (2) dan kemungkinan tapak lokasi observatorium Mohr (M). Ukuran kotak tapak observatorium telah disesuaikan dengan dimensi observatorium Mohr seperti yang dicatat Zuidervaart & Gent. Jalan-jalan disekitarnya adalah Jalan Kemenangan Raya (a), Kemenangan 3 (b), Kemurnian 1 (c) dan Kemurnian 2 (d). Jalan Kemurnian 1 mungkin adalah gang Torong di masa silam. Sumber : Sudibyo, 2012 dengan citra Google Maps.
Citra satelit sepenggal kawasan Glodok (Jakarta Barat) masa kini, dengan posisi wihara Dharma Bhakti (1), SD Katolik Ricci 1 (2) dan kemungkinan tapak lokasi observatorium Mohr (M). Ukuran kotak tapak observatorium telah disesuaikan dengan dimensi observatorium Mohr seperti yang dicatat Zuidervaart & Gent. Jalan-jalan disekitarnya adalah Jalan Kemenangan Raya (a), Kemenangan 3 (b), Kemurnian 1 (c) dan Kemurnian 2 (d). Jalan Kemurnian 1 mungkin adalah gang Torong di masa silam. Sumber : Sudibyo, 2012 dengan citra Google Maps.
Lukisan Rach menggambarkan observatorium Mohr sebagai bangunan enam lantai, dengan lantai pertama terlukis separuh. Dengan ketinggian 30,5 meter, maka tinggi rata-rata tiap lantai adalah 5 meter. Cukup menarik bahwa batas antara lantai pertama dan kedua observatorium berada pada level relatif sama dengan puncak atap bangunan utama wihara Dharma Bhakti. Maka dengan menganggap tinggi puncak atap bangunan utama tersebut adalah 4 meter, tapak observatorium Mohr persis berseberangan dengan bangunan utama wihara, dipisahkan sepenggal jalan Kemenangan Raya. Amat menarik perhatian bahwa kini bahwa di tempat tersebut terdapat sepetak lahan, tepatnya pada koordinat 6,1440 LS 106,8131 BT. Lahan tersebut diapit sepasang jalan kecil (gang) masing-masing jalan Kemurnian 2 di sisi selatannya dan jalan Kemurnian 1 di sisi utaranya. Bila ukuran observatorium Mohr (yakni panjang 22,5 meter dan lebar 17,5 meter) diplotkan dalam lahan yang kini dimiliki perorangan tersebut, ternyata ukurannya pas.
Ujung lorong jalan Kemurnian 2 yang bertemu dengan jalan Kemenangan Raya. Di sinilah kemungkinan tapak observatorium Mohr berada. Dari sini dengan menatap ke barat terlihat bangunan SD Katolik Ricci 1 (latar belakang), di belakang bangunan utama wihara Dharma Bhakti. Sumber : Sudibyo, 2012.
Ujung lorong jalan Kemurnian 2 yang bertemu dengan jalan Kemenangan Raya. Di sinilah kemungkinan tapak observatorium Mohr berada. Dari sini dengan menatap ke barat terlihat bangunan SD Katolik Ricci 1 (latar belakang), di belakang bangunan utama wihara Dharma Bhakti. Sumber : Sudibyo, 2012.
Inikah tapak observatorium Mohr? Untuk memastikannya harus dilakukan penelitian lebih lanjut dengan menyertakan disiplin ilmu terkait seperti arkeologi dan sejarah. Namun, untuk sementara, kita bisa mengatakan inilah tapak observatorium Mohr.
Sumber :
Zuidervaart & Gent, 2004.A Bare Outpost of Learned European Culture on the Edge of the Jungles of Java, Johan Maurits Mohr (1716-1775) and the Emergence of Instrumental and Institutional Science in Dutch Colonial Indonesia. Isis, 95 (2004), pp. 1-33.
Gent. 2005. Observations of the 1761 and 1769 Transits of Venus from Batavia (Dutch East Indies). in DW Kurtz, eds, Proceedings IAU Colloqium, 196 (2005), pp. 67-72.
Gunawan dkk. 2012. Kala Bintang Kejora Melintas Sang Surya, Transit Venus 2012. Buku elektronik. Yogyakarta : Kafe Astronomi.com Publisher.
http://langitselatan.com/2012/06/19/pelacakan-tapak-observatorium-tertua-di-indonesia/

Bung Karno Berteriak: Persetan Dengan PBB, Inggris Kita Linggis, Amerika Kita Setrika!


RIMANEWS - Suatu hal yang lumrah apabila kita melihat seseorang berkorban demi apa yang dicintainya, demikian juga Bung Karno. Demi Indonesia Bung Karno mengabaikan penyakit yang menggerogoti dirinya.
Bung Karno selalu tampil prima dihadapan publik, walau pada hakekatnya dia dalam keadaan lemah. Hal tersebut dilakukan demi menjaga rasa percaya diri seluruh rakyat Indonesia.
Berulang-kali dokter pribadinya memberi nasihat kepada Bung Karno. Ini terkait dengan sakit ginjalnya, yakin makin para di akhir tahun 60-an.
"Kalau Bapak bisa tenang sedikit, dan tidak berteriak-teriak, niscaya Bapak tidak akan mendapat ulcers."
Yang dimaksud dokter adalah peradangan pada lambung akibat sakit ginjalnya itu. Baru saja dokter berhenti memberikan nasihatnya, Bung Karno meradang dan berteriak, "Bagaimana aku bisa tenang kalau setiap lima menit menerima kabar buruk?"
Berteriak adalah "hobi" Sukarno. Ia berteriak untuk memberi semangat rakyatnya. Ia berteriak juga untuk mengganyang musuh-musuh negara. Jika konteksnya adalah membakar semangat rakyat, maka Bung Karno adalah seorang orator ulung.
Bahkan paling unggul pada zamannya. Sebaliknya, jika ia berteriak karena terinjak dan teraniaya harga dirinya sebagai presiden dan kepala negara, maka Sukarno adalah presiden paling berani yang pernah hidup di atas bumi ini.
"Inggris kita linggis! Amerika kita setrika!", atau "Go to hell with your aid" yang ditujukan kepada Amerika.
"Malaysia kita ganyang. Hajar cecunguk Malayan itu! Pukul dan sikat jangan sampai tanah dan udara kita diinjak-injak oleh Malaysian keparat itu", yang ini saat Indonesia berkonfrontasi dengan di negara boneka bernama Malaysia.
Bukan hanya itu. Organisasi dunia yang bernama Perserikatan Bangsa Bangsa (PBB) pun pernah dilawan.
Tanggal 20 Januari 1965, Bung Karno menarik Indonesia dari keanggotaan PBB. Ini karena ketidak-becusan PBB dalam menangani persoalan anggota-anggotanya, termasuk dalam kaitan konflik Indonesia – Malaysia.
Ada enam alasan yang tak bisa dibantah siapa pun, termasuk Sekjen PBB sendiri, yang menjadi dasar Indonesia menarik diri dari keanggotaan PBB.
Pertama, soal kedudukan PBB di Amerika Serikat. Bung Karno mengkritik, dalam suasana perang dingin Amerika Serikat dan Uni Soviet lengkap dengan perang urat syaraf yang terjadi, maka tidak sepatutnya markas PBB justru berada di salah satu negara pelaku perang dingin tersebut. Bung Karno mengusulkan agar PBB bermarkas di Jenewa, atau di Asia, Afrika, atau daerah netral lain di luar blok Amerika dan Soviet.
Kedua, PBB yang lahir pasca perang dunia kedua, dimaksudkan untuk bisa menyelesaikan pertikaian antarnegara secara cepat dan menentukan. Akan tetapi yang terjadi justru PBB selalu tegang dan lamban dalam menyikapi konflik antar negara. Indonesia mengalami dua kali, yakni saat pembebasan Irian Barat, dan Malaysia. Dalam kedua perkara itu, PBB tidak membawa penyelesaian, kecuali hanya menjadi medan perdebatan.
Selain itu, pasca Perang Dunia II, banyak negara baru, yang baru saja terbebas dari penderitaan penjajahan, tetapi faktanya dalam piagam-piagam yang dilahirkan maupun dalam preambule-nya, tidak pernah menyebut perkataan kolonialisme. Singkatnya, PBB tidak menempatkan negara-negara yang baru merdeka secara proporsional.
Ketiga, Organisasi dan keanggotaan Dewan Keamanan mencerminkan peta ekonomi, militer dan kekuatan tahun 1945, tidak mencerminkan bangkitnya negara-negara sosialis serta munculnya perkembangan cepat kemerdekaan negara-negara di Asia dan Afrika. Mereka tidak diakomodir karena hak veto hanya milik Amerika, Inggris, Rusia, Perancis, dan Taiwan. Kondisi yang tidak aktual lagi, tetapi tidak ada satu orang pun yang berusaha bergerak mengubahnya.
Keempat, soal sekretariat yang selalu dipegang kepala staf berkebangsaan Amerika. Tidak heran jika hasil kebijakannya banyak mengakomodasi kepentingan Barat, setidaknya menggunakan sistem Barat. Bung Karno tidak dapat menunjung tinggi sistem itu dengan dasar, "Imperialisme dan kolonialisme adalah anak kandung dari sistem Negara Barat. Seperti halnya mayoritas anggota PBB, aku benci imperialisme dan aku jijik pada kolonialisme."
Kelima, Bung Karno menganggap PBB keblinger dengan menolak perwakilan Cina, sementara di Dewan Keamanan duduk Taiwan yang tidak diakui oleh Indonesia.
Di mata Bung Karno, "Dengan mengesampingkan bangsa yang besar, bangsa yang agung dan kuat dalam arti jumlah penduduk, kebudayaan, kemampuan, peninggalan kebudayaan kuno, suatu bangsa yang penuh kekuatan dan daya-ekonomi, dengan mengesampingkan bangsa itu, maka PBB sangat melemahkan kekuatan dan kemampuannya untuk berunding justru karena ia menolak keanggotaan bangsa yang terbesar di dunia."
Keenam, tidak adanya pembagian yang adil di antara personal PBB dalam lembaga-lembaganya. Bekas ketua UNICEF adalah seorang Amerika. Ketua Dana Khusus adalah Amerika. Badan Bantuan Teknik PBB diketuai orang Inggris. Bahkan dalam persengketaan Asia seperti halnya pembentukan Malaysia, maka plebisit yang gagal yang diselenggarakan PBB, diketuai orang Amerika bernama Michelmore.
Bagi sebagian kepala negara, sikap keluar dari PBB dianggap sikap nekad. Bung Karno tidak hanya keluar dari PBB. Lebih dari itu, ia membentuk Konferensi Kekuatan Baru (Conference of New Emerging Forces/ Conefo) sebagai alternatif persatuan bangsa-bangsa selain PBB. Konferensi ini sedianya digelar akhir tahun 1966.
Langkah tegas dan berani Sukarno langsung mendapat dukungan banyak negara, khususnya di Asia, Afrika, dan Amerika Selatan. Bahkan sebagian Eropa juga mendukung.
Sebagai tandingan Olimpiade, Bung Karno bahkan menyelenggarakan Ganefo (Games of the New Emerging Forces) yang diselenggarakan di Senayan, Jakarta pada 10 – 22 November 1963. Pesta olahraga ini diikuti oleh 2.250 atlet dari 48 negara di Asia, Afrika, Eropa, dan Amerika Selatan, serta diliput sekitar 500 wartawan asing.
Bung Karno dengan Conefo dan Ganefo, sudah menunjukkan kepada dunia, bahwa organisasi bangsa-bangsa tidak mesti harus satu, dan hanya PBB.
Bung Karno sudah mengeluarkan terobosan itu. Sayang, konspirasi internasional (Barat) yang didukung segelintir pengkhianat dalam negeri (seperti Angkatan '66, sejumlah perwira TNI-AD, serta segelintir cendekiawan pro Barat, dan beberapa orang keblinger), berhasil merekayasa tumbangnya Bung Karno. Wallahu a'lam. (IRIB Indonesia/GFI/SL)

http://www.rimanews.com/read/20120324/58023/bung-karno-berteriak-persetan-dengan-pbb-inggris-kita-linggis-amerika-kita

Japan's Earthquake - Natural Or Engineered?

By Stephen Lendman

 
An earlier article considered whether Haiti's January 2010 quake was engineered. Despite no corroborating proof, technologies exist to do it. More information below.
 
On March 11 at 14.46 JST, the earth shook around 81 miles east of Japan's Oshika Peninsula of Tohoku near Sendai, its hypocenter about a 20 mile depth. Measured at 9.0, it triggered a 33-foot high tsunami in minutes, compounding the destructive damage over a wide area.
 
Of greatest concern is damage to four or more nuclear reactors at Tokyo Electric's (TEPCO) Fukushima Daiichi plant. So far (besides many thousands injured and homeless), those dead or missing number almost 30,000, a total to rise exponentially if the worst Fukushima's fears materialize.
 
According to some experts, it's no longer speculation. It's reality, though government and media reports deny it, concealing the disaster's magnitude, affecting the entire Pacific rim and Northern Hemisphere.
 
Nonetheless, on March 29, New York Times writers Ken Belson and Hiroko Tabuchi headlined, "Confidence Slips Away as Japan Battles Nuclear Peril," saying:
 
Plutonium traces in soil and increasing hazards for plant workers "forced government officials to confront the reality that the emergency measures they have taken to" contain the disaster haven't worked. In fact, conditions are worse, not better, suggesting perhaps nothing can contain this monster, threatening to make northern Japan (the size of Pennsylvania) an uninhabitable dead zone, though it's still too early to tell.
 
On March 29, London Guardian writer Ian Sample headlined, "Japan may have lost race to save nuclear reactor," saying:
 
"The radioactive core in a reactor at the crippled Fukushima nuclear power plant appears to have melted through the bottom of its containment vessel (onto) a concrete floor, experts say, raising fears of a major release of radiation at the site." It's already major and increasing.
 
According to Richard Lahey, former GE boiling-water reactors head of safety research:
 
"The indications we have, from the reactor to radiation readings and the materials they are seeing, suggest that the core has melted through the bottom of the pressure vessel in unit two, and at least some of it is down on the floor of the drywell. I hope I am wrong, but that is certainly what the evidence is pointing towards."
 
"The reason we are concerned is that they are detecting water outside the containment area that is highly radioactive and it can only have come from the reactor core." Lahey added that it won't be as bad as Chernobyl. In fact, it's multiples worse from:
 
-- increasing radiation releases, including deadly plutonium;
 
-- spreading them catastrophically across the entire Northern Hemisphere, especially over wide parts of Japan;
 
-- causing permanent contamination; and
-- potentially killing millions from deadly cancers.
 
According to Dr. Tom Burnett:
 
"Fukushima is going to dwarf Chernobyl. (Its) reactions are getting worse. I suspect three nuclear piles are in meltdown....When the molten mass (reaches) the water table, (it) will explode (releasing) more radioactive particulate matter. The concrete will melt and the problem will get worse."
 
It'll continue for months. The only solution is bad; namely, "detonat(ing) a 10 kiloton fission device inside each reactor containment vessel and hope to vaporize the cores."
 
Nuclear core meltdowns are self-sustaining. Only halting the reaction can stop them. That "require(s) a nuclear weapon....in each containment vessel....(b)ut it will be messy."
 
On March 30, New York Times writer David Jolly headlined, "High Radiation Levels Found in Seawater Near Nuclear Plant," saying:
 
Seawater "about 300 yards from the (site contained) iodine-131 at 3,355 times the safety standard, the highest levels reported so far." Each day, they're rising and spreading hazardous contamination. Yet Japan's Nuclear and Industrial Safety Agency's (NISA) Hidehiko Nishiyama claims public health isn't threatened, perhaps waiting for corpses for proof.
 
"In a separate development, smoke was seen rising from a second (TEPCO Daini nuclear plant) about six miles south of" Daiichi. As expected, NISA and TEPCO officials downplayed it, perhaps again concealing the worst.
 
Coverup and Denial in America
 
Despite spreading contamination in America, the Environmental Protection Agency (EPA) stopped measuring radiation levels in eight of its 18 monitoring stations, including California, Oregon and Washington because readings are getting too high.
 
In addition, Obama's EPA may substantially increase allowable radiation amounts called safe in food, water and the environment. New guidelines will also permit much laxer long-term cleanup thresholds, greatly endangering public health.
 
Five Types of Human Activity Causing Quakes
 
(1) Damn construction
 
Since water is heavier than air, the crust beneath it is greatly stressed, easily setting off mostly moderate shocks. University of Alaska seismologist Larry Gedney explained:
 
"Since the (Hoover Dam) reached its peak of 475 feet in 1939, the level of seismicity has fluctuated in direct response to water level. None of the shocks have been particularly damaging - the largest was about magnitude 5 - but the area had no record of being seismically active."
 
According to geophysical hazards expert Christian Klose, dams trigger about one-third of human-caused quakes. No wonder given their global proliferation, 845,000 according to Discover magazine, including 80,000 in America. Hoover Dam is the largest, storing 1.2 trillion cubic feet of water. China's Three Gorges Dam is the world's largest, holding back 1.4 trillion cubic feet. In 1967, western India's Koyna Dam may have caused a 7.0 magnitude quake. If so, damns in seismically active areas may be much more destructive than believed.
 
(2) Liquid injection into the ground
 
In 1951, the US Army constructed Basin F at the Rocky Mountain Arsenal to handle 243 million gallons of contaminated liquid chemical wastes in about a 93 acre area. In 1961, another way was chosen - by drilling a 12,000-foot deep well in the Rocky Mountains to inject napalm toxic waste into the earth's crust. From 1962 - 1966, 165 million gallons went in, likely triggering regional quakes and getting the Army to shut it down. According to seismologist Dave Wolney:
 
"If you are doing deep well injection, you are altering the stress on the underlying rocks and at some point, (it) will be relieved by generating an earthquake."
 
Klose also worries about carbon dioxide sequestration, a process of compressing CO2 from coal plants and injecting it into underground deposits. It, too, can generate quakes close to cities, as that's where facilities are located.
 
(3) Coal mining
 
Coal provides over half of America's electricity and an even larger percentage in China. Mines produce millions of tons annually, extract up to a dozen times as much water as coal, and cause huge regional mass changes. They, in turn, increase stress that can cause quakes as explained above. According to Klose, mining produces over half of recorded ones.
 
(4) Oil and gas drilling
 
A June 23, 2009 New York Times article headlined, "Deep in Bedrock, Clean Energy and Quake Fears," explaining that former oil man, Markus O. Haring, drilled a hole three miles down in Basel, Switzerland prospecting for clean, renewable energy, deep within the earth's bedrock. On December 8, 2006, an earthquake terrifyied residents who remembered the devastating one striking the city 650 years earlier.
 
Haring terminated his project, but a US start-up company, AltaRock Energy, uses the same technology to drill deep into quake-prone areas two hours' drive north of San Francisco for geothermal energy. The Energy Department backs it with more than $36 million, and several large venture capital firms are involved, despite the risk.
 
According the The Times:
 
"The California project is the first of dozens that could be operating in the United States in the next several years, driven by a push to cut emissions of heat-trapping gases and the Obama administration's support for renewable energy. Using the Basel method, it's hoped a breakthrough can be achieved, even though it's known that large quakes occur at great depths."
 
Three of the largest human-caused ones happened near an Uzbekistan natural gas field, the result of liquid extraction and injection changing its tectonic action. The most severe one registered 7.3, and according to Russian scientists:
 
"Few will deny that there is a relationship between hydrocarbon recovery and seismic activity, but exactly how strong a relationship exists has yet to be determined."
 
In regions with high tectonic activity, like northern California near San Francisco, Haiti around Port-au-Prince, or Japan, extraction could trigger severe quakes. It's believed Haiti has significant oil, gas, and other mineral deposits, including gold, copper, and coal. Perhaps drilling around Port-au-Prince bay, the Gulf of La Gonave, and the Island of La Gonave set off the quake, why US domination and human neglect are related to it, and why America, France, Canada and other nations seek to profit from disaster.
 
(5) Large building construction
 
On December 2, 2005, Kate Ravilious' UK Guardian article headlined, "Skyscraper that may cause earthquakes." It referred to Taipei 101 in Taiwan, the world's tallest building at 1,667 feet, weighing 700,000 tons. According to National Taiwan Normal University geologist Cheng Horng Lin, the building's stress may have reopened an ancient fault.
 
Before its construction, the Taipei basin was very stable with no surface ones. Thereafter, "The number of earthquakes increased to around two micro-earthquakes per year during the construction period (1997 - 2003). After completion, two larger quakes were registered, strong enough to feel at magnitudes 3.8 and 3.2."
 
Lin believes that "the considerable stress might be transferred into the upper crust due to the extremely soft sedimentary rocks beneath the Taipei basin. Deeper down this may have reopened an old earthquake fault."
 
Other experts are more cautious. UCLA quake expert John Vidale says "A building will change the stress on the ground under (it), but this probably won't reach down to around 10km, the level where earthquakes occur." Compared with dams, coal mining, oil drilling, and underground waste deposits, skyscrapers cause minor stress to the earth's surface. Klose shares that view.
 
HAARP Technology - High Frequency Active Auroral Research Program
 
HAARP manipulates the atmosphere, climate, and weather for military purposes. Based in Gokona, Alaska, it's a jointly managed US Air Force/Navy weather warfare program, operating since 1992, yet the HAARP web site explains its purpose as follows:
 
"HAARP is a scientific endeavor aimed at studying the properties and behavior of the ionosphere (the atmosphere's upper layer), with particular emphasis on being able to understand and use it to enhance communications and surveillance systems for both civilian and defense purposes. (It will be used) to induce a small, localized change in ionospheric temperature so that resulting reactions can be studied by other instruments located either at or close to the HAARP site."
 
According to Rosalie Bertell, a distinguished scientific expert and president of the International Institute of Concern for Public Health:
 
HAARP functions as "a gigantic heater that can cause major disruptions in the ionosphere, creating not just holes, but long incisions in the protective layer that keeps deadly radiation from bombarding the planet."
 
Writing in Earthpulse Press on November 5, 1996, Bertell explained that:
 
"Military interest in space became intense during and after World War II because of the introduction of rocket science, the companion of nuclear technology....During this time of intensive atmospheric nuclear testing, explosions at various levels above and below the surface of the earth were tried. Some of the now familiar descriptions of the earth's protective atmosphere....were based on information gained through stratospheric and ionospheric experimentation."
 
Numerous projects preceded HAARP, including:
 
-- Project Argus in 1958 "to assess the impact of high altitude nuclear explosions on radio transmission and radar operations," and learn more about the geomagnetic field;
 
-- Project Starfish in 1962, using nuclear detonations to disrupt the ionosphere and assess the effects on the earth's magnetic field;
 
-- SPS: Solar Power Satellite Project in 1968, using them in geostationary orbit 40,000 km above the earth to intercept solar radiation with solar cells that potentially could be environmentally destructive;
 
-- Poker Flat Rocket Launch from 1968 to the present to "understand chemical reactions in the atmosphere associated with global climate change;" perhaps more to influence climate for military purposes;
 
-- Saturn V Rocket in 1975; due to a malfunction, it burned unusually high in the atmosphere (above 300 km) producing a "large ionospheric hole," resulting in over a 60% reduction in "total electron content" over a 1,000 km area lasting several hours; all telecommunications over the Atlantic Ocean were disrupted;
 
-- SPS Military Implications in 1978 to develop a satellite-based beam weapon for anti-ballistic missile (ABM) use; also as a mind-control/anti-personnel weapon by affecting the human brain;
 
-- Orbit Maneuvering System in 1981 to study the effect of Shuttle injected gases on the ionosphere; it was learned they could induce holes;
 
-- Innovative Shuttle Experiments in 1985 using gases to create ionospheric holes;
 
-- Mighty Oaks in 1986 to develop x-ray and particle beam weapons;
 
-- Desert Storm in 1991, during which the US deployed an electromagnetic pulse weapon, designed to mimic the electricity flash of a nuclear detonation; and
 
-- HAARP since 1992
 
Bertell says it's:
 
"related to fifty years of intensive and increasingly destructive programs to understand and control the upper atmosphere. (It's) an integral part of a long history of space research and development of a deliberate military nature. (Their) implications (are) alarming. Basic to this project is control of communications, both (their) disruption and reliability in hostile environments. The power wielded by such control is obvious."
 
"The ability of the HAARP/Spacelab/rocket combination to deliver very large amounts of energy, comparable to a nuclear bomb, anywhere on earth via laser and particle beams, are frightening." Yet the public is told it's "a space shield against incoming weapons (or) a devise for repairing the ozone layer."
 
By modifying the ionosphere, HAARP can be hugely destructive. Potentially, it can trigger floods, droughts, hurricanes, tsunamis, forest fires, and power blackouts over entire regions. It can disrupt radar, other communications, agriculture, ecology, and financial and other markets. It can use weather to wage war, and perhaps cause earthquakes like the one devastating Japan.
 
America "Carried Out a Second Nuclear Attack on Japan"
 
Noted Pakistani journalist Nusrat Mirza believes that the March 11 disaster was artificially caused by America's X-37B spaceplane. In his article titled, "The Japanese Earthquake and Tsunami - Natural or Artificial?" he argued that Washington caused numerous disasters, including Pakistan's 2005 quake, the country's 2010 floods, the 2004 Indian Ocean quake/tsunami, and 2011 Japanese calamity, possibly by HAARP technology.
 
Specifically he said:
 
-- "Whenever the US Spaceplane X-37B is sent Into space, a natural disaster occurs somewhere in the world. He gave examples, including Pakistan devastated by monsoon-triggering floods.
 
-- America's "objectives are to continue its domination of the world, and not let another power or group of powers challenge its domination. Japan may have been targeted for collaborating with "other countries to replace the US dollar with a new currency for international trading." According to a Nibira TV report, former Japanese finance minister Heizo Talaneka "was warned to hand over the Japanese financial system to (America or be) attacked by an earthquake.
 
-- "Today, 'rulers (especially in America) are coming to the forefront and, using science, are causing earthquakes, tsunamis, weather alterations, changes in airplanes' routes, plane crashes, and floods."
The Pentagon's Alaska-based transmitter ability to send three billion watts of electromagnetic waves at a frequency of 2.5 - 10 megahertz can cause all of the above destruction and more.
 
Geoscientist Leuren Moret believes a HAARP-aerosol/chemtrails plasma weapon likely caused Japan's disaster, citing:
 
-- its intensity and characteristics; and
 
-- using the Stuxnet virus (a Windows computer worm targeting industrial software and equipment) at Fukushima, causing malfunctions in cooling pumps and valves. "The trouble after the earthquake was that the pumps and valves and controllers malfunctioned so workers could not get (them) working. This just adds to the HAARP earthquake and much more evidence that it was a false flag HAARP event."
 
Moreover, HAARP-created vortex clouds over San Francisco on March 18 triggered heavy irradiated rain over the Bay area.
 
Moret also explained calculations she made, saying spent fuel rods stored in cooling ponds above each of six reactors are releasing the equivalent of "92,000 nuclear bombs. Each unit has 400 assemblies of spent fuel rods, with 60....for each assembly. Each individual rod holds 72 pounds of uranium (compared to) a 20-pound" nuclear bomb payload.
 
She believes enormous amounts of radiation are now being released into the troposphere, traveling below 300 feet over Japan and America, heading east. As a result, air, earth, water, food and humans are being contaminated with deadly radiation. Downplaying the hazard is scandalous.
 
Investigative journalist Jane Burgermeister also blames HAARP for Japan's disaster and the 2010 one in Haiti, saying:
 
Haiti and Japan quakes "show surprising similarities that point to an artificial cause and the use of HAARP technology." In January 2010, "low frequency signals of 2.1 Hz were detected for 40 hours before the earthquake occurred, while (in) Japan something similar happened. Low frequency signals of 2.5 Hz were detected for about 55 hours before the earthquake (struck) as well as for 4 hours afterwards."
 
"A steady signal lasting for so many hours at such a low frequency is highly likely not caused by natural activity in space but by some type of artificial 'human-made' activity." Notably in the case of Haiti, "this signal stopped abruptly at full swing on January 11 at 01:00 hours UTC only to resume with full amplitude again at 3:30 hrs UTC as if it had been switched off and on at full power."
 
The UN Convention on the Prohibition of Military or Any Other Hostile Use of Environmental Modification Techniques (1977)
 
Its Article I states that:
 
"Each State Party to this Convention undertakes not to engage in military or any other hostile use of environmental modification techniques having widespread, long-lasting or severe effects as the means of destruction, damage or injury to any other State Party."
 
Article II refers to "environmental modification (ENMOD) techniques (as) any technique for changing - through the deliberate manipulation of natural processes - the dynamics, composition or structure of the Earth, including its biota, lithosphere, hydrosphere and atmosphere, or of outer space."
 
Citing Ecology News, Sourcewatch.org defines environmental warfare as:
 
"(1) the intentional modification of a system of the natural ecology, such as climate and weather, earth systems such as the ionosphere, magnetosphere, tectonic plate system, and/or the triggering of seismic events (earthquakes);
 
(2) to cause intentional physical, economic, psycho-social, and physical destruction to an intended target geophysical or population location;" and
 
"(3) as part of strategic or tactical war."
 
Environmental war weapons include chemtrails, chemical weapons systems (climate and weather modification) and electromagnetic weapons systems (climate and weather modification, as well as seismic warfare).
 
Other definitions are broader, including the use of depleted uranium and other environmentally destructive weapons, practices and techniques.
 
International standards on environmental protections during armed conflict date back as early as the 1868 Declaration of St. Petersburg. It stated that "the only legitimate object which States should endeavour to accomplish during war is to weaken the military forces of the enemy."
 
The 1907 Hague Regulations stressed restraint, saying "The right of belligerents to adopt means of injuring the enemy is not unlimited," and the Geneva Conventions (including Protocol I and Common Article 3) defined the principles of international humanitarian law.
 
In 1973, the US Senate adopted a resolution calling for an international agreement "prohibiting the use of any environmental or geophysical modification activity as a weapon of war...." President Nixon ordered the Defense Department to review the military aspects of weather and other ENMOD techniques.
 
During the July 1974 summit meeting in Moscow, Nixon and General Secretary Brezhnev agreed to hold bilateral talks to achieve "the most effective measures possible to overcome the dangers of the use of environmental modification techniques for military purposes."
 
Discussions continued in 1974 and 1975, resulting in an agreement on a common approach and language. The 1977 UN Convention followed, ratified 98 - 0 by the Senate on November 28, 1979. It took effect on January 17, 1980, but was violated thereafter by both sides.
 
Human environmental modification techniques (ENMOD) can cause irreversible damage. Yet international standards haven't stopped their development or use.
 
A Final Comment
 
On February 17, 1950, Council on Foreign Relations (CRF) member James Warburg told the Senate Foreign Relations Committee:
 
"We shall have world government whether or not you like it, by conquest or consent," because powerful globalists want it.
 
American ones, in fact, want total control of the world's money, resources, law, communications, populations, and military supremacy, no matter how much destructive force it takes to achieve, perhaps using HAARP and other technologies to create enormous new opportunities for greater power and profits.
 
Other schemes relate to America's longstanding depopulation agenda, a model Henry Kissinger presented in his 1974 National Security Study Memorandum 200 (NSSM 200). Shaped by Rockefeller interests, it developed over time to cull unwanted "useless eaters" by various means, including:
 
-- violence;
 
-- depleted uranium and other hazardous weapons;
-- withholding disaster relief;
 
-- sterilization;
-- disease;
 
-- starvation;
 
-- earthquakes, tsunamis, oil spills, chemical proliferation, and other environmental disasters; as well as
-- widespread radiation contamination, another way to detonate bombs.
Perhaps Japan's disaster is their latest assault on human life, welfare and survival, so global elitists can benefit more by less of us. Think unlikely? Think again.
 
Stephen Lendman lives in Chicago and can be reached at lendmanstephen@sbcglobal.net. Also visit his blog site at sjlendman.blogspot.com and listen to cutting-edge discussions with distinguished guests on the Progressive Radio News Hour on the Progressive Radio Network Thursdays at 10AM US Central time and Saturdays and Sundays at noon. All programs are archived for easy listening.
 
 
Source:http://rense.com/general93/earg.htm
 

Pro Kontra Pendaratan Di Bulan

Pernah nonton Jejak Petualang? Tentu menyenangkan kalau kita bisa menjelajahi daerah-daerah yang ada di Indonesia. Atau pernah nonton Star Wars? Wah seperti apa yah rasanya menjelajah alam semesta ini?. Mungkin bagi sebagian orang menjelajah Indonesia jauh lebih masuk akal ketimbang menjelajah alam semesta. Jangan jauh-jauh alam semesta. Menjelajahi tata surya saja belum tentu bisa. Tapi apa menjelajah ruang angkasa hanya sekedar mimpi?


Mimpi dan harapan untuk menjelajah dan menemukan seorang teman di sudut semesta telah menginspirasi lahirnya film fiksi ilmiah selama bertahun-tahun. Impian menjelajah Tata Surya seringkali menghiasi imajinasi manusia. Bukan hanya mimpi memang yang bisa membuat kita berandai-andai berada di planet lain. Nyatanya, ada banyak misi yang dilakukan untuk mewujudkan impian tersebut.
Tahun 1969, pesawat Apollo 11 berhasil membawa dan menjejakkan manusia untuk pertama kalinya di Bulan. Tentu kita semua ingat siapa itu Neil Amstrong, manusia pertama yang menjejakkan kaki di Bulan. Namanya menghiasi buku IPA di SD, SMP maupun SMA. Tak pelak peristiwa ini bisa dikatakan menjadi salah satu tonggak sejarah penting dunia IPTEK. Dengan demikian, impian untuk menjelajah lebih jauh lagi dari Bulan hanya menunggu waktu untuk direalisasikan.
Setelah lebih dari tiga dekade terlewati, pro kontra masih membayangi peristiwa bersejarah itu. Skeptisme muncul karena ada anggapan NASA-saat itu- belum memiliki teknologi yang memungkinkan pendaratan di Bulan. Era tahun 1969 merupakan masa dimana perang dingin antara Uni Soviet dan Amerika belum berakhir. Tekanan “Perang Dingin” dengan Soviet membuat Amerika harus melakukan sesuatu untuk memenangkan perang tersebut. Terlebih lagi setelah Soviet berhasil mengorbitkan Yuri Gagarin. Karena itu bisa saja pendaratan Apolo 11 di Bulan hanya sebuah skenario politik untuk memenangkan perang dingin.
Tapi kalau pendaratan itu palsu, harusnya Uni Soviet sudah menjadikan ini sebagai sebuah serangan balik bagi Amerika. Tapi sampai saat ini, bahkan saat histeria pendaratan itu terjadi, pihak Soviet tidak memberikan reaksi menyerang.
Jika dilihat dari foto yang dipublikasikan memang ada beberapa hal yang aneh. Diantaranya foto yang memperlihatkan bendera tampak berkibar padahal di Bulan tidak ada atmosfer dan angin. Selain itu ada juga foto yang tidak memperlihatkan adanya satu bintangpun pada langit latar belakang Bulan yang gelap.
Bendera Berkibar Tanpa Angin? Mustahil!
Bendera yang berkibar mungkinkah? Pertanyaan ini sering muncul jika melihat foto pendaratan Apollo. Di bulan kan tidak ada angin. Tapi memang untuk bisa berkibar, bendera tidak selalu membutuhkan angin. Setidaknya di ruang angkasa hal inilah yang terjadi. Pada kondisi di Bulan, bendera dipancangkan bukan hanya pada tiang vertikal, tapi terdapat juga tiang horizontal yang ditambahkan di bagian atas bendera, sehingga bendera tersebut tampak tergantung dan merentang. Selain itu permukaan Bulan yang keras mempersulit pemancangan tiang bendera, sehingga para astronot harus memutar tiang tersebut maju mundur agar bisa ditanamkan di tanah bulan. Akibat gerakan ini, bendera tersebut berkibar, atau yang sebenarnya lebih tepat jika disebut bergetar. Di Bumi kibaran bendera terjadi beberapa detik dan diperlambat oleh udara, tapi kondisi vakum di Bulan menyebabkan gerakan bendera tersebut tidak akan berhenti karena tidak ada gaya dari luar yang menghentikannya.
Di Langit Tak Ada Bintangkah?
Pertanyaan lain yang muncul saat melihat foto-foto yang dipublikasikan, mengapa tidak ada bintang pada gambar yang diambil para astronot dari permukaan Bulan. Logikanya tanpa atmosfer otomatis langit Bulan menjadi gelap. Jika demikian tentunya pengamat bisa melihat objek-objek terang seperti bintang.
Pada langit Bumi, partikel-partikel atmosfer Bumi akan menghamburkan cahaya matahari pada panjang gelombang biru, sehingga langit siang hari pun tampak biru. Berbeda dengan Bulan, yang hampir dapat dikatakan tidak memiliki atmosfer sehingga langit senantiasaÊ gelap, baik siang maupun malam. Jadi, jika kita berada di Bulan, tentunya bintang akan selalu terlihat. Tetapi kenapa tidak terekam dalam gambar yang diambil Apollo? Dalam foto itu, sebenarnya bintang tersebut ada, namun terlalu redup untuk ditangkap kamera. Kamera dan film yang digunakan oleh para astronot disetel untuk mengambil gambar-gambar kegiatan di Bulan. Exposure timenya diatur sedemikian rupa agar dapat merekam kondisi permukaan Bulan yang terang, bukan untuk mengambil gambar objek-objek lemah pada langit latar belakang.
Jejak Kaki yang Membandel
Pada foto yang lain, tidak tampak adanya lubang bekas semburan roket pada lokasi pendaratan. Untuk roket seukuran Apollo seharusnya semburannya dapat menimbulkan lubang yang besar pada permukaan Bulan. Jadi, bagaimana bisa roket mendarat mulus tanpa membekaskan jejak besar?
Untuk melakukan sebuah pendaratan tentu tidak dilakukan dengan kecepatan tinggi tapi dengan kecepatan yang diperlambat. Tidak ada satu orangpun yang memarkirkan mobilnya dengan kecepatan 100 km/jam. Hal yang sama berlaku juga pada Apollo 11. Semburan roket memiliki dorongan 5000 kg, tetapi roket tersebut diperlambat sampai sekitar 1500 kg saat mendekati permukaan. Dengan diameter pipa pengeluaran roket sebesar 54 inci (dari Ensiklopedia Astronautica), dan ukuran roket sekitar 2300 inci persegi, semburan roket hanya menimbulkan tekanan sekitar 0.75 kg /inci persegi. Tekanan sebesar ini tidak akan sampai menimbulkan jejak lubang yang besar.
Hasil foto-foto yang diambil di Bulan juga memperlihatkan adanya bayangan yang kurang gelap. Obyek yang seharusnya gelap karena berada dalam daerah bayangan, tetapi dalam foto dapat jelas terlihat, termasuk tulisan di sisi pesawat. Jiika Matahari merupakan satu-satunya sumber cahaya, dan tidak ada udara yang dapat menghamburkan cahaya, seharusnya bayangan yang terjadi sangat gelap. Sebuah persepsi yang salah. Memang ini bukan diÊ Bumi dan cahaya Matahari tidak dapat dihamburkan dalam kondisi hampa udara. Tapi di Bulan masih ada sumber cahaya lain yang berasal dari Bulan sendiri. Debu di Bulan memiliki sifat yang khas: yaitu memantulkan kembali cahaya ke arah sumber cahaya berasal.
Foto Yang Sempurna
Kejanggalan lainnya, foto-foto yang dihasilkan oleh para astronot terlalu bagus dan hampir sempurna untuk ukuran seorang amatir, belum lagi kondisinya berbeda dari Bumi. Seorang fotografer profesional saja belum tentu semua foto yang diambil memiliki hasil sempurna. Kok bisa, para astronom yang amatir dalam fotografi memiliki hasil foto yang begitu bagus.
Sebelum diberangkatkan ke Bulan, para astronot ini selain menerima pelatihan untuk beradaptasi dengan kondisi Bulan mereka juga dilatih bagaimana mengambil foto di Bulan. Awak Apollo 11 dalam penjelajahannya mengambil sekitar 17000 foto di permukaan Bulan. Ada banyak foto yang gagal, dan tentunya yang dipublikasikan adalah foto-foto yang dianggap bagus dan berhasil. Sama seperti seorang fotografer, foto yang dipublikasikan tentunya foto-foto yang bagus bukan yang gagal.
Bukti Yang Sahih
Salah satu bukti yang tidak bisa disangkal adalah keberadaan batuan dari Bulan. Sekitar 841 pon batu dibawa dari Bulan untuk diteliti. Batu-batu ini sangat berbeda dari batu yang ada di Bumi. Penelitian terhadap batu tersebut bisa menunjukkan asal usul, serta kondisinya yang berada dalam keadaan tanpa udara dan tanpa air selama ribuan tahun. Tidak ada yang bisa membuat replika batu seperti ini baik secara alami maupun buatan manusia. Selain itu batuan ini tidak mungkin berasal dari asteroid karena contoh batuan yang berasal dari asteroid telah dikoleksi oleh NASA maupun para peneliti di belahan Bumi lainnya. Batu ini pun bukan berasal dari batu yang jatuh sebagai meteorit dari angkasa karena batu yang jatuh sebagai meteorite akan dioksidasi saat melewati atmosfer. Dan ini tidak terjadi pada batu-batu tersebut.
Para ahli geologi dari seluruh dunia telah meneliti batuan tersebut, dan merupakan hal yang bodoh jika membuat batuan palsu untuk menipu semua peneliti. Jauh lebih mudah untuk pergi ke Bulan dan mengambil batuan tersebut dibanding memberi argumentasi palsu melawan semua ahli geologi sedunia. Para ahli tersebut bukan orang bodoh yang bisa ditipu.
Memang benar Amerika Serikat sebagai negara adikuasa bisa melakukan apapun untuk menjadi yang terdepan, namun bukan berarti persepsi seperti ini membuat kita menutup mata terhadap keberhasilan yang telah diraih oleh dunia sains dan teknologi.
Seandainya pendaratan tersebut memang palsu, apakah NASA begitu ceroboh sehingga meninggalkan banyak bukti untuk diungkapkan? Jika bayangan yang muncul di foto salah, mengapa tidak satupun personel NASA yang menyadarinya?
Mungkin jauh lebih mudah untuk menerima bahwa NASA telah berulang kali berhasil mengirimkan misi tanpa awak. Tapi juga bukan berarti penerbangan berawak menjadi sesuatu yang mustahil. Saat ini eksplorasi ruang angkasa tanpa awak telah berhasil menguak misteri tata surya mini di Saturnus (Saturnus dan satelit-satelitnya, lihat misi Cassini-Huygens). Perjalanan Misi Deep Impact berhasil memberi ruang baru untuk menguak misteri komet dan langkah awal untuk memahami pembentukan Tata Surya. Bahkan direncanakan beberapa tahun lagi, akan ada misi berawak kembali ke Bulan untuk menjajaki kemungkinanan hidup di Bulan. Misi ini akan menjadi misi awal sebelum melangkah ke Mars. Mungkin setelah Mars, hanya hitungan waktu dan Titan akan menjadi sasaran koloni berikutnya.
sumber :
Moon Base Clavius
Science@NASA : The Great Moon Hoax
Bad Astronomy

Sumber: http://langitselatan.com/2007/04/11/pro-kontra-pendaratan-di-bulan/

Fisikawan Indonesia Terlibat Dalam Penemuan Partikel Tuhan

Fisikawan Indonesia, Suharyo Sumowidagdo, terlibat dalam penemuan partikel yang dijuluki sebagai partikel Tuhan, Higgs boson. Lembaga penelitian nuklir Eropa Conseil Europeene pour la Recherche Nucleaire atau CERN mengumumkan penemuan Higgs boson pada 4 Juli 2012.

Dunia fisika dikejutkan dengan penemuan partikel Higgs Bosson. Selama ini keberadaan partikel ini hanya ada dalam model teori standar. "Tanpa partikel ini tak ada akan ada berat, maka tak ada alam semesta. Tak akan ada apa-apa," kata Haryo saat diwawancara melalui voice chat, 5 Juli 2012.

Partikel Tuhan adalah partikel terakhir dalam teori model standar. Ilmuwan mulai mencarinya sejak tahun 1964. Dalam model ini, alam semesta tercipta dari 12 partikel dasar dan enam pembawa gaya. Sebelumnya, baru lima partikel pembawa gaya yang ditemukan.

"Selama ini kita melihat benda-benda yang punya berat, ada gravitasi yang membuat bumi berputar. Artinya, harus ada sesuatu yang menghasilkan massa untuk partikel-partikel itu," kata pria kelahiran Tabanan, Bali ini. Sebuah partikel Higss bisa mempengaruhi massa jutaan partikel lain. Selama ini dia selalu ada di seluruh alam semesta, tapi baru ditemukan.

 
Haryo Sumowidagdo

Haryo adalah satu dari dua fisikawan Indonesia yang terlibat dalam penelitian ini. Fisikawan lain, Rahmat Rahmat, bekerja dari laboratorium Fermilab di Amerika Serikat. Adapun Haryo bekerja di laboratorium CERN di Jenewa, Swiss.

Menemukan partikel ini bukan hal yang mudah. Ribuan peneliti yang ada dalam dua kelompok, ATLAS dan CMS, bekerja bersama untuk menemukan partikel tersembunyi ini. "Ini bukan hasil kerja segelintir orang tapi kolaborasi banyak lembaga dari puluhan negara," kata dia.

Haryo terlibat dalam penelitian CMS di Jenewa, Swiss, untuk menemukan Higgs boson. "Saya bertanggungjawab untuk memastikan komponen detektor beroperasi. Komponen detektor itu harus terus dipelihara, untuk bisa mendeteksi partikel," kata doktor berusia 36 tahun ini.

Lulus sarjana dan master di Universitas Indonesia, Haryo kemudian mendapatkan beasiswa untuk program doktoral di Florida State University tahun 2001. Di situlah dia mulai terlibat dalam pencarian Higgs Boson, berkolaborasi dengan Fermilab. Pada Januari 2009, Haryo menjadi bagian dari tim CERN di Swiss.

Haryo juga berperan dalam pengambilan data dari percobaan yang sudah berlangsung selama bertahun-tahun ini. Dia juga disibukkan dengan kolaborasi dengan peneliti-peneliti lain serta diskusi dengan peneliti yang lain. Dia juga terlibat dalam beberapa percobaan lain mengenai fisika partikel.

Pencarian Higgs boson dilakukan dengan mesin Large Hadron Collider yang beroperasi selama 24 jam, tujuh hari seminggu. Haryo sendiri bekerja tak kalah keras, biasanya dimulai pukul delapan pagi hingga sebelas malam.

"Ilmuwan itu dinilai dari produktivitasnya, seperti pengusaha. Kalau tak kerja sebanyak-banyaknya, sulit untuk menang dari peneliti lain," kata Haryo yang gemar memotret saat senggang. Selain meneliti, Haryo juga menguasai ilmu teknik. Pasalnya, alat penelitian ilmuwan partikel tak bisa dibeli di supermarket terdekat. Mereka harus bisa membuat alatnya sendiri, atau setidaknya tahu cara memelihara dan merawatnya.

Lalu apa sebenarnya guna penemuan partikel Higgs boson untuk umat manusia? "Ini penemuan yang ada di luar imajinasi kita. Pengetahuan baru yang ilmuwan pun belum tahu apa kegunaan praktisnya," kata pemegang gelar doktor dari Florida State University ini. Kegunaan praktis itu mungkin belum akan diketahui dalam puluhan bahkan ratusan tahun ke depan.

Haryo mencontohkan, penemuan ini seperti teori relativitas Einstein yang ketika diumumkan tujuh puluh tahun lalu belum bisa dipahami. Kini, GPS bekerja berdasarkan teori itu. Tanpa teori Einstein, GPS tak akan bisa menunjukkan lokasi dengan tepat dan akan meleset 50 hingga 100 meter.

"Bagi ilmuwan, mendapat pengetahuan baru tentang dunia dimana kita hidup, akan membawa apresiasi lebih kepada hidup ini," kata Haryo yang saat dihubungi tengah menghadiri konferensi International Conference for High Energy Physics di Melbourne.

Penemuan Higgs boson istimewa bagi Haryo karena penemuan ini mengingatkannya pada kejadian yang menginspirasi dia menjadi seorang fisikawan partikel. 18 tahun lalu, seorang fisikawan Indonesia bernama Stephan van den Brick ikut membuktikan adanya partikel quark top, salah satu partikel yang juga mendukung model standar.

"Waktu itu saya baru diterima di UI, tak tahu apa-apa. Saya takjub bahwa ada lulusan UI yang bisa menjadi bagian dari penemuan menakjubkan itu," kata dia. Guntingan koran tahun 1994 itu masih disimpannya hingga sekarang.
Klik pada gambar untuk memperbesar.

Kini, Haryo benar-benar mencapai cita-citanya. Dia ikut menemukan partikel Higgs boson, keping terakhir model standar, kunci dari rahasia besar alam semesta. Namun kerja belum selesai. Penemuan ini baru awal pekerjaan panjang para ilmuwan.

Karenanya, Haryo berharap, penemuan ini menginspirasi anak muda Indonesia untuk menjadi fisikawan.  "Semuanya mungkin asal mau bekerja keras. Jangan takut mencoba dan meninggalkan zona nyaman," kata Haryo.

Sumber:http://id.berita.yahoo.com/blogs/newsroom-blog/fisikawan-indonesia-terlibat-dalam-penemuan-partikel-tuhan.html