Selasa, 08 Oktober 2013






TEMPO.CO, Stockholm - Ahli fisika Inggris, Peter Higgs, dan fisikawan Francois Englert dari Belgia dianugerahi penghargaan Hadiah Nobel bidang fisika tahun 2013, Selasa, 8 Oktober 2013. Komite pemilihan menyebut dua ilmuwan itu berperan besar dalam penemuan teori tentang mekanisme yang membantu manusia memahami asal-usul partikel subatomik.

Higgs, 84, terkenal dengan penemuannya tentang teori Higgs boson atau populer dengan sebutan "partikel Tuhan". Partikel ini merupakan kunci untuk menjelaskan keberadaan massa, keragaman, dan asal-usul kehidupan di alam semesta. Profesor di Universitas Edinburgh ini sebelumnya sudah santer diprediksi menyabet Nobel karena penemuannya itu. 

Englert, profesor emeritus di Université Libre de Bruxelles, juga berperan besar dalam penemuan teori mekanisme Higgs. Kedua ilmuwan itu berhak atas hadiah uang sebesar US$ 1,25 juta. 
Nama Higgs dan Englert dipilih secara mayoritas oleh Komite Hadiah Nobel yang bermarkas di Royal Swedish Academy of Sciences di Stockholm, Swedia. "Mereka berperan besar dalam penemuan teori mekanisme yang berkontribusi atas pemahaman kita tentang asal usul massa partikel subatom, dan yang belum lama ini dikonfirmasi lewat penemuan partikel fundamental itu di Large Hadron Collider di CERN,”kata Komite Hadiah Nobel dalam pengumumannya.  
Penemu Teori Partikel Tuhan Sabet Hadiah Nobel
Penelitian 'partikel tuhan' oleh CERN. AP Photo/Keystone/Salvatore Di Nolfi, File
Panitia sempat menunda acara pengumuman penghargaan paling bergengsi bagi para fisikawan ini selama satu jam. Namun tidak ada penjelasan resmi dari Komite Hadiah Nobel mengenai alasan penundaan itu.

Sejak Higgs mengemukakan teorinya, para ilmuwan bersemangat untuk menemukan "partikel Tuhan". Pada Juli 2012, para ilmuwan di Fasilitas Penelitian Nuklir Eropa (CERN) di Swiss mengumumkan keberhasilan menemukan partikel yang cocok dengan deskripsi Higgs boson.

Penemuan "partikel Tuhan" itu menjadi tonggak penting dalam bidang fisika modern meski wujud aslinya tak pernah terlihat. Partikel Tuhan dianggap sebagai kunci untuk menjelaskan asal-usul alam semesta dan semua benda di dalamnya.


François Englert adalah warga Belgia. Ia lahir tahun 1932 di Etterbeek, Belgia. Englertd meraih gelar sarjana pada tahun 1959 dari Université Libre de Bruxelles, Brussels, Belgia. Ia juga mendapatkan gelar profesor dari universitas ini.

Sementara itu, Peter W. Higgs adalah keturunan Inggris. Ia lahir pada tahun 1929 di Newcastle, Inggris. Ia meraih gelar sarjana pada tahun 1954 dari King College, Universitas London, Inggris. Ia dianugerahi gelar profesor di Universits Edinburgh, Inggris. Kini, ia telah pensiun.


Sumber:

Senin, 07 Oktober 2013

Belajar Al Quran, Madonna Dikabarkan Masuk Islam

Belajar Al Quran, Madonna Dikabarkan Masuk Islam
Penyanyi Madonna dan pacarnya Brahim Zaibat saat berjalan-jalan di Turki. Penyanyi 55 tahun ini mengaku mulai mempelajari kitab suci Al Quran sejak berpacaran dengan Brahim Zaibat. Uniem.org
REPUBLIKA.CO.ID, CALIFORNIA -- Penyanyi terkenal, Madonna mengungkap tengah mempelajari Alquran. Madonna juga akan mendirikan sebuah sekolah untuk anak perempuan di negara Muslim. 
"Saya membangun sekolah untuk anak perempuan di negara-negara Islam dan mempelajari Alquran. Saya pikir ini penting untuk mempelajari semua kitab suci." ujarnya dalam wawancara dengan Harper's Bazaar yang dilansir Al-Arabiya, edisi Ahad (6/10). 
Madonna mengaku sepakat dengan temannya bahwa Muslim juga sebaik agama lain. Baru-baru ini, foto mirip Madonna menggunakan jilbab dipasang di Facebook oleh penggemarnya. 
Ketertarikan penyanyi Like a Prayer tersebut pada Islam berkembang dalam beberapa tahun terakhir setelah dia memiliki kekasih Brahim Zaibat, seorang Muslim kelahiran Aljazair. Tahun lalu, Madonna difoto di Turki dengan Zaibat. Dia memakai penutup kepala saat mengunjungi sebuah masjid di Turki. 
Sumber:

Jumat, 04 Oktober 2013

Sejarah Masjid Nabawi di Kota Madinah


Masjid Nabawi adalah masjid kedua yang dibangun oleh Rasulullah saw., setelah Masjid Quba yang didirikan dalam perjalanan hijrah beliau dari Mekkah ke Madinah.Masjid Nabawi dibangun pada tahun 1 Hijriyah atau bertepatan pada bulan September 662 Masehi. Masjid Nabawi dibangun saat pertama Rasulullah saw. tiba di Madinah, ialah di tempat unta tunggangan Nabi saw. menghentikan perjalanannya. Lokasi itu semula adalah tempat penjemuran buah kurma milik As’ad Ibnu Zurrah dan anak yatim dua bersaudara Sahl dan Suhail bin ‘Amr, yang kemudian dibeli oleh Rasulullah saw. untuk dibangunkan masjid dan tempat kediaman beliau. Luas tanahnya mencapai 1.050 meter persegi.

Saat membangun Masjid ini, Nabi sendiri yang meletakkan batu pertamanya. Sementara batu ke dua, ketiga, keempat dan kelima masing-masing diletakkan oleh sahabat Abu Bakar, Umar, Usman dan Ali. Selanjutnya pembangunan dikerjakan secara gotong royong sampai selesai.

Sejarah Masjid Nabawi di Kota Madinah
Jangan pernah membayangkan Masjid Nabawi saat itu sudah semegah saat ini. Tiang-tiangnya saja pada waktu itu masih terbuat dari batang kurma, atapnya terbuat dari pelepah daun kurma, dan halaman ditutup dengan batu-batu kecil. Sementara arah kiblat menghadap Baitul Maqdis karena pada saat itu perintah Allah untuk berkiblat ke Ka'bah belum turun.Masjid Nabawi saat itu tampil sangat sederhana tanpa hiasan, tanpa tikar, dan untuk pencahayaan di malam hari hanya menggunakan pelepah kurma yang kering dan dibakar.

Pada tahun ke 4 Hijriyah, masjid ini mengalami perbaikan untuk kali pertama. Lantai diperbaiki dengan lantai dari batu bata. Setelah itu, Masjid Nabawi berulang kali mengalami perbaikan dan perluasan.

Perbaikan paling signifikan terjadi pada tahun 1265 H pada masa pemerintahan Sultan Abdul Majid. Dalam pembangunan yang memakan waktu 12 tahun itu, dinding dan tiang-tiang masjid dipercantik dengan ukiran dan kaligrafi indah yang masih bisa disaksikan sampai sekarang.

Kronologi Pengubahsuaian Masjid Nabawi berdasarkan tahun Masihi.
Pada era selepas Sayidina Utsman Al-Affan pula berlakulah penambahan demi penambahan. Berikut kronologinya :
622 – Didirikan oleh Nabi Muhammad
629 – Diperluas oleh Nabi
638 – Diperluas oleh Saidina Umar al-Khattab.
650 – Saidina Uthman Affan menggantikan tiang dan atap serta memperluas bahagian lantai.
707 – Diperbaiki oleh Walid bin Abd Malik dan Umar bin Abd Aziz (Bani Umaiyah).
778 – Diperluas oleh al-Mahdi (Bani Abbasiah).
1247 – Terbakar.
1256 – Malik az-Zahir (Mamluk) menambah menara serta lantai bahagian hadapan.
1468 – Diperbaiki oleh Asyraf Qaitbay (Penguasa Mamluk).
1481 – Terbakar lagi.
1574 – Salim I (Uthmaniah) menggunakan marmar.
1818 – Diperbesar oleh Mahmud II (Uthmaniah). Kubah dicat hijau.
1849 – Dibangun besar-besaran oleh Sultan Abdul Majid (Uthmaniah).
1952 – Diperluas oleh Raja Abd Aziz ibnu Sa’ud (Arab Saudi).
1984 – Diperluas dan diperbaiki oleh Raja Fahd (Arab Saudi).

Sejarah Masjid Nabawi di Kota Madinah

Raja Fahd bin Abdul aziz juga turut berperan dalam perluasan Masjid Nabawi. Hasilnya luas seluruh bangunan masjid sekarang ini menjadi 165.000 m2. Jumlah menarapun bertambah, dari semula empat buah menjadi 10 buah. Empat diantaranya mamiliki ketinggian 72 meter dan enam lainnya setinggi 92 meter. Jumlah pintu juga bertambah sehingga menjadi 95 buah pintu. Maka, Masjid Nabawi pun tampil cantik dan megah sehingga menjadi kebanggaan umat Islam di seluruh dunia saat ini.

Masjid Nabawi didirikan bukan hanya untuk tempat beribadah, tapi juga merupakan tempat sekolah bagi kaum muslimin untuk  menerima pengajaran islam dan bimbingan-bimbingannya, sebagai tempat pertemuan dan tempat untuk mempersatukan berbagai unsur kekabilahan dan sisa-sisa pengaruh perselisihan semasa jahiliyah, sebagai tempat mengatur segala urusan, dan sekaligus sebagai gedung parlemen untuk bermusyawarah dan menjalankan roda pemerintahan.

Sejarah Masjid Nabawi di Kota Madinah

Disamping itu semua, masjid tersebut juga dijadikan tempat tinggal dan bermukim orang-orang muhajirin yang miskin, yang datang ke madinah dengan tanpa memiliki harta, tidak memiliki kerabat dan masih bujang atau belum berkeluarga.

Demikian sekilas uraian singkat mengenai Sejarah Masjid Nabawi di Kota Madinah, semoga apa yang telah disampaikan dalam artikel ini dapat menambah kecintaan kita kepada Masjid-Masjid Allah dan senantiasa selalu berusaha untuk memakmurkannya.

Sumber:

Kamis, 03 Oktober 2013

Dubes Paraguay untuk ASEAN Masuk Islam di Masjid Istiqlal

Duta besar Paraguay untuk lima negara Asia, Cecar Estebon Grillon (kanan) membaca doa usai membaca dua kalimat syahadat didampingi Menteri Agama RI, Suryadharma Ali saat memutuskan untuk menjadi muallaf di masjid Istiqlal, Jakarta, Jumat (27/9)
Duta besar Paraguay untuk lima negara Asia, Cecar Estebon Grillon (kanan) membaca doa usai membaca dua kalimat syahadat didampingi Menteri Agama RI, Suryadharma Ali saat memutuskan untuk menjadi muallaf di masjid Istiqlal, Jakarta, Jumat (27/9)


REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Duta Besar (Dubes) Republik Paraguay, Cecar Estebon Grillion memutuskan untuk menjadi muallaf dan memeluk Islam di Masjid Istiqlal, Jakarta, Jumat (27/9). 
Pengesahan muslim Cecar dengan pengucapan dua kalimat syahadat ini dilakukan usai shalat Jumat di hadapan ribuan jamaah dengan disaksikan Menteri Agama (Menag) Suryadharma Ali.
Pengucapan syahadat Cecar Estebon Grillion dibimbing langsung oleh Imam Besar Masjid Istiqlal, KH. Ali Mustafa Yaqub. Dengan sedikit terbata-bata Cecar mengucapkan syahadat dengan bahasa Arab. 
"Asyhadu anla Ilaha illa Allah, Wa asyhadu anna Muhammad ar Rasulullah," kata Cecar, yang langsung disambut "Alhamdulillah," oleh ribuan jamaah masjid Istiqlal yang menyaksikan.
Imam Besar Masjid Istiqlal, KH. Ali Mustafa Yaqub mengatakan keinginan Cecar memeluk Islam ini bukan karena tekanan atau karena akan menikah dengan wanita muslimah semata, tapi memang karena hidayah dari Allah. 
Cecar mengakui memang telah sejak lama tertarik dengan Islam. Namun, ia belum berani untuk mengungkapkan keinginannya untuk menjadi muslim.
Bantuan hidayah itu, jelas dia, ternyata ditunjukkan Allah melalui jodoh yang ia dapatkan. Yakni seorang muslimah dari Indonesia bernama Yulie Setyohadi. Dari sinilah ia memantapkan akan mempelajari Islam. 
Keseriusan Cecar ini pun dapat dilihat ketika ia memutuskan akan mempelajari Islam langsung dari tokoh besar umat Islam indonesia, Prof. KH. Quraish Shihab dan ia sendiri sebagai Imam Besar Masjid Istiqlal. 
Untuk nama pengganti, Cecar mengakui belum akan mengganti namanya menjadi muslim dan masih akan tetap menggunakan nama lama yang dimilikinya.

Begini Awalnya Dubes Paraguay Tertarik Islam

Hidayah adalah rahasia Allah, tidak ada yang bisa menghalang-halanginya. Setidaknya itulah yang diyakini setiap umat Islam.
Hidayah inilah yang dirasakan Duta Besar Republik Paraguay untuk lima negara ASEAN, Cecar Estebon Grillion setelah resmi menjadi muallaf ketika mengucapkan dua kalimat syahadat usai Sholat Jumat di Masjid Istiqlal, Jakarta, Jumat (27/9).
Ia mengungkapkan, Islam itu ternyata agama yang indah, mengatur segala sendi kehidupan dan jauh dari seperti yang digambarkan oleh kelompok tertentu.
Ketertarikannya terhadap Islam muncul begitu saja tidak pernah ia sangka-sangka. Awalnya ia hanya berpikir, kalau memang Tuhan itu ada, bagaimana mungkin nama-nama Tuhan itu berbeda-beda. 
Cecar pun mulai mempelajari dan membaca bahwa sebenarnya ada kesamaan nama-nama Tuhan dari agama yang diturunkan dari keluarga Ibrahim.
Sejak awal ia sepakat bahwa Tuhan itu maha kuasa dan esa. Ini sesuai dengan konsep asli agama-agama keturunan Ibrahim. Dan itu terlihat bagaimana nama-nama Tuhan di agama Ibrahim. 
"Di Yahudi Tuhan disebut Elohim, di Kristen disebut Alah dan di Islam disebut Allah," ujarnya yang di dampingi calon istrinya Yulie Setyohadi, sebagai penerjemah.
Belakangan Cecar benar-benar memahami hanya Islam yang secara tegas mendeklarasikan bahwa Allah itu satu dan tidak ada tandingan atau keturunan yang dapat menandinginya. 
"Dari sinilah ketertarikannya terhadap Islam," ujar Yulie kepadaRepublika. Setelah menyampaikan ketertarikannya tersebut, Cecar pun memutuskan untuk mempelajari Islam lebih mendalam.
Yulie memastikan keinginan calon suaminya mencari hidayah itu bukan karena paksaan dari dirinya atau hanya karena alasan pernikahan.
Keseriusan Cecar mendalami Islam ini terlihat ketika ia memutuskan mengenal Islam dari tokoh besar Islam Indonesia, Prof. KH. Quraisy Shihab dan dibimbing juga oleh Imam Besar Masjid Istiqlal, KH. Ali Mustafa Yaqub.
Imam Besar Masjid Istiqlal, KH. Ali Mustafa Yaqub mengatakan, sejak awal sudah terlihat keseriusan Cesar untuk memperdalam Islam. Keseriusannya ini pun ia tunjukkan dengan menghafal bacaan dua kalimat syahadat. "Dia sebenarnya sudah bersyahadat, dengan berusaha menghafal berkali kalimat syahadat itu," katanya. 
Ini terlihat ketika pengucapan syahadat di Istiqlal, Cecar tidak menghadapi masalah dalam pengucapan. Menurut Ali, inilah hidayah Allah yang diberikan kepada Cecar, Dubes Republik Paraguay untuk Indonesia dan lima negara ASEAN lain. "Hidayah ini tidak bisa ditolak dan dihalangi, karena ini keajaiban yang diberikan Allah," ujarnya.
Sumber:

Pengawal Bung Karno: Yang Setia dan yang Berkhianat

Mantan presiden Soekarno

Mantan presiden Soekarno

REPUBLIKA.CO.ID, 
Saat peristiwa G30S 1965 terjadi, Maulwi Saelan menjabat sebagai Wakil Komandan Cakrabirawa. Dialah orang yang terus mendampingi Bung Karno selama dua hari terkelam sejarah politik Indonesia --mulai 30 September hingga 1 oktober 1965.

Sebagai satu-satunya orang dekat Bung Karno yang masih hidup, kesaksian Saelan amat penting dalam rangka membersihkan tuduhan dan fitnah yang dialamatkan kepada Bung Karno dalam peristiwa G30S.

“Bung Karno tidak tahu sama sekali penculikan Jendral pada 1 Oktober 1965 subuh,” kata Saelan saat menerima ROL beberapa waktu lalu.

Tuduhan keterlibatan Bung Karno dalam peristiwa G30S bermula dari kesaksian salah seorang ajudan presiden bernama Letnan Kolonel (KKo) Bambang Setijono Widjanarko. Dalam berita acara pemeriksaan (BAP) kepada Ajun Komisaris Besar Polisi (AKBP), Azwier Nawie dan Letnan Kolonel (CPM) Soegiardjo dari tim pemeriksa pusat (teperpu), Bambang mengatakan Bung Karno telah mengetahui rencana penculikan dan pembunuhan yang akan dilakukan Letkol Untung Samsoeri terhadap para Jendral Angkatan Darat pada malam 1 Oktober dini hari.

Bambang mengatakan, pada malam 30 September 1965 --beberapa jam sebelum penculikan para Jendral dilakukan, Bung Karno menghadiri acara Musyawarah Nasional Teknik (Munastek) di Istora Senayan Jakarta. Saat sedang menunggu waktu berpidato, seorang anggota Cakrabirawa dari kepolisian Adjun Inspektur Polisi (AIP) I Sogol Djauhari Abdul Muchid menghadap Bung Karno.

Sogol membawa sepucuk surat dari Komandan Batalion I Cakrabirawa Letkol Untung Samsoeri yang berisi kesiapan pasukan melakukan penculikan. Setelah menerima surat itu Bung Karno beranjak ke toilet untuk membaca surat dari Untung. “… isinya pemberitahuan dari Untung kepada presiden tentang akan dimulainya penindakan terhadap perwira tinggi angkatan darat yang tidak disenangi Bung Karno,” kata Bambang.

Tuduhan Bambang semakin liar. Dia menyebut pada 4 Agustus 1965 --dua bulan sebelum G30S terjadi, Bung Karno sempat mengadakan pertemuan khusus dengan Komandan Resimen Cakrabirawa Brigadir Jendral Sabur dan Letkol Untung di Istana. Kepada keduanya, Bung Karno meminta agar segera diambil 'tindakan' kepada para para jendral yang tidak loyal.

Pernyataan Bambang memunculkan reaksi keras dari Saelan. Saelan mengatakan tuduhan yang disampaikan Bambang adalah kebohongan. Menurut Saelan, pada malam 30 September 1965 dirinya terus mengawal Bung Karno di acara Munastek.

Selama menjaga Bung Karno dia tidak melihat ada anggota Cakrabirwa yang datang mendekati Bung Karno. Selain itu, tambah Saelan, Bung Karno juga tidak pernah meninggalkan kursinya hingga masuk sesi pidato. 
“Saya yang terus mendampingi Bung Karno dan tidak pernah meninggalkannya walaupun sebentar tidak melihat kedatangan pelayan Sogol yang menitipkan sepucuk surat yang katanya dari Untung untuk diserahkan kepada Bung Karno,” kata Saelan menegaskan.

Saelan mengatakan, terdapat sejumlah kejanggalan dari kesaksian Bambang. Menurutnya tidak mungkin seorang perwira militer sekelas Untung menitipkan surat dengan tingkat kerahasiaan tinggi kepada seorang pelayan seperti Sogol.

Selain itu, Teperpu juga tidak pernah memeriksa Sogol atas kesaksian yang disampaikan Bambang. Soal pertemuan Bung Karno dengan Sabur dan Untung pada 4 Agustus 1965 juga dibantah Saelan. Menurutnya pada tanggal itu Sabur dan Untung sedang tidak bertugas di Istana.

“Sehingga sangat tidak mungkin pada hari itu mereka berdua bertemu presiden di Istana. Apalagi sampai Bapak langsung memberikan penugasan untuk menculik,” ujar Saelan.

Yang membuat hati Saelan miris, tuduhan Bung Karno terlibat G30S tidak disampaikan musuh Bung Karno. Tuduhan itu justru disampaikan ajudan yang amat disayangi Bung Karno.

Ya, sebelum peristiwa G30 meletus, Bambang merupakan ajudan kepercayaan Bung Karno. Boleh dikata Bambang adalah anak emas Bung Karno. “Iya dia anak emas Bapak,” kata Saelan.

Saelan sendiri baru mengetahui tuduhan Bambang selepas keluar dari penjara. Dia mengaku sempat menghubungi Bambang untuk meminta penjelasan atas keterangannya di BAP. “Kamu kok menulis seperti itu tentang Bapak? Maksudnya apa?” tanya Saelan kepada Bambang. “Saya ingin kita bertemu,” tambah Saelan. Ajakan Saelan bertemu tidak pernah dipenuhi Bambang.

Saelan menceritakan dirinya sempat diminta menandatangangi BAP yang sudah dibuat Teperpu. Saelan menolak. Dia menilai isi BAP mendiskreditkan dan memojokan Bung Karno dalam peristiwa G30S. Bahkan BAP itu jelas-jelas menuduh Bung Karno sebagai dalang G30S.

“Gara-gara tidak mau tanda tangan saya dipenjara selama lima tahun (empat tahun delapan bulan),” ujar Saelan.

Belakangan Saelan tahu kenapa Bambang rela membuat tuduhan keji kepada Bung Karno. Menurutnya dari sekian banyak ajudan yang terkenal dekat dengan Bung Karno, hanya Bambang yang tidak dipenjara rezim Soeharto.

Mereka yang lain seperti Brigardir Jendral Saboer yang menjabat sebagai Komandan Cakrabirawa di penjara. Letnan Kolonel (Pol) Mangil Martowidjojo yang menjabat Komandan Detasemen Kawal Pribadi Cakrabirawa ditahan selama tiga setengah tahun. Letnan Kolonel Soeprapto, pengemudi mobil Kepresidenan ditahan lima tahun. Letnan Kolonel Infantri, Ali Ebram yang menjabat sebagai Asisten Intelejen Resimen Cakrabirawa ditahan 12 tahun.

Sedangkan Saelan sendiri ditahan empat tahun delapan bulan. “Sekarang saya mengerti kenapa hanya Bambang satu-satunya orang yang tidak dipenjara,” katanya.

Kesaksian Bambang yang tidak akurat dan bahkan cenderung mengada-ada memang menarik untuk dicermati. Pasalnya, pemeriksaan terhadap Bambang baru dilakukan pada akhir 1970. Alhasil, kesaksian Bambang soal keterlibatan Bung Karno dalam peristiwa G30S muncul setelah Bung Karno wafat pada Juni 1970.

Spekulasi yang berkembang menyebutkan pemeriksaan Bambang sengaja dibuat terlambat agar tidak bisa dikonfrontir dengan Bung Karno. “Pengakuan Bambang bukan fakta. Seluruhnya karangan yang dibuat untuk mencari-cari kesalahan Bung Karno,” kata Saelan menyayangkan terbitnya buku-buku yang merujuk kesaksian Bambang.

Rabu, 02 Oktober 2013

Mbah Liem, Ulama Nasionalis Sejati


KH Moeslim Rifa’i Imampuro atau Mbah Liem.


Akhir Mei lalu, tepat setahun meninggalnya seorang ulama asal Klaten yang kharismatik nan nyentrik, KH Moeslim Rifa’i Imampuro atau yang biasa dikenal dengan nama Mbah Liem. Mbah Liem dikenal sebagai ulama besar sekaligus nasionalis sejati. Ia meninggal pada usia 91 tahun.

Mbah Liem lahir di lingkungan Keraton Kasunanan Surakarta Hadiningrat. Pada 1959, ia mengasingkan diri ke gubuk kecil di pinggiran kali di Desa Troso Kecamatan Karang- anom Klaten. ”Tempat itulah yang kini jadi pesantren dengan ribuan alumnus,” papar Jazuli A Kasmani, menantu Mbah Liem, ketika itu.
Mbah Liem meninggalkan sembilan anak dan 18 cucu. Dia dikenal sebagai kiai nasionalis sekaligus nyentrik. Nama Pesanteran Al Muttaqien Pancasila Sakti dan Kampus Kader Bangsa (KKB) yang didirikannya adalah bentuk kecintaannya kepada Ibu Pertiwi.

Kepada para santrinya, Mbah Liem selalu mewajibkan menyanyikan Indonesia Raya sebagai lagu pembuka setiap kegiatan. Dia juga peduli terhadap kerukunan antarumat beragama. Dia merintis Joglo Perdamaian Umat Manusia Sedunia di kompleks pesantren.

Dia juga dikenal sebagai pribadi yang sederhana, ia senang memakai topi saja atau topi dikalung sorban macam petani di desa-desa, gayanya mirip petani dan rakyat biasa, ia senang berjalan-jalan dengan sepedanya. Namun, jangan salah di dalam kesederhanaannya itu, Mbah Liem merupakan tokoh yang disegani. Bahkan, setiap keruwetan politik penting, banyak pejabat yang datang ke pesantrennya untuk minta pencerahan dari Mbah Liem.

Weruh Sakdurunge Winarah
Sebagai seorang tokoh ulama, ia juga dikenal sedikit ‘nyentrik’. Perilaku nyentrik ditunjukkan dengan banyak hal. Beberapa kali Mbah Liem menyambut tamu dengan sarung dan baju lengan panjang murahan. Kadang dia mengenakan topi usang kebanggaannya. Pernah pula dia dengan sepeda motor tuanya memboncengkan musisi kondang Iwan Fals. Saat bersama Iwan Fals di panggung, Mbah Liem berbaju koko, bersarung dan bersepatu boot.

Namun kenyentrikannya itu juga diimbangi dengan sikap beliau yang terkadang disebut orang sebagai weruh sakdurunge winarah (tahu sebelum terjadi). Seperti halnya ketika menjelang Muktamar NU ke-28 tahun 1989 di Yogyakarta, saat itu Mbah Kiyai Hamid Kajoran tengah sakit. Mbah Lim  mengajak Gus Dur menengok ke kediaman beliau.

“Aku tak mati yo, Lim… (Aku mau mati nih, Lim),” kata Mbah Hamid.
“Ndak bisa ndak bisa ndak bisa….”, Mbah Lim dengan gayanya yang khas, “mau Muktamar kok mati… enak aja…”
“Lha gimana…?”
“Mati ya mati tapi nunggu Muktamar dulu!”
Tepat empat puluh hari sesudah hari itu, beberapa minggu sesudah Muktamar, Mbah Hamid Kajoran wafat.

Maut pula yang kemudian juga mempertemukannya kembali dengan Mbah Hamid Kajoran. Mbah Liem wafat Kamis 24 Mei setahun silam. Jenazah Mbah Liem dikebumikan di Joglo Perdamaian Umat Manusia Sedunia di kompleks pesantren pada Kamis pukul 20.00 WIB. Jenazah dikebumikan berdampingan dengan makam istrinya Umi As’adah. 

Politik NU sebagai Siyasah 'Aliyah Samiyah

Oleh: KH M.A. SAHAL MAHFUDH


Sebagaimana telah dimaklumi bersama, NU merupakan جمعيّة دينيّة إجتماعيّة (organisasi keagamaan yang bersifat sosial). Sebagai organisasi keagamaan Islam, tugas utama NU adalah menjaga, membentengi, mengembangkan dan melestarikan ajaran Islam menurut pemahaman أهل السّنّة والجماعة di bumi nusantara pada khususnya dan di seluruh bumi Allah pada umumnya.

Tugas ini tidaklah sederhana, di tengah-tengah era keterbukaan yang memberi peluang masuknya aliran-aliran dan kelompok-kelompok keagamaan yang cenderung memanfaatkan kebebasan untuk mencaci maki dan menyesat-nyesatkan (تضليل), bahkan menkafir-kafirkan (تكفير) terhadap pihak lain yang berbeda pemahaman keagamaan dengan dirinya. Padahal seharusnyalah era keterbukaan dan kebebasan membuat setiap kelompok semakin memantapkan sikap toleran (تسامح) dalam menyikapi perbedaan.

Alangkah dalamnya makna ungkapan Al-Imam Muhammad bin Idris asy-Syafi’i dalam kaitan ini:

مذهبنا صواب يحتمل الخطأ, و مذهب غيرنا خطأ يحتمل الصواب
(Pendapat saya benar namun mungkin memuat kesalahan, pendapat orang lain salah namun mungkin juga ada benarnya: Red)

Menghadapi kenyataan yang tidak menggembirakan tersebut, menjadi tugas PBNU untuk menggerakkan secara optimal perangkat organisasi yang terkait dengan fungsi menjaga, mengembangkan dan melestarikan ajaran Islam ASWAJA, seperti mendorong optimalisasi peran dan kinerja Lembaga Dakwah NU (LDNU), Lembaga Takmir Masjid NU (LTMNU) dan Lajnatut-Ta’lif wan-Nasyr NU (LTNNU). Dengan pendekatan حكمة dan موعظة حسنة dapat dipelihara kelangsungan ajaran ASWAJA, tanpa harus terlibat dalam tindakan-tindakan anarkhis yang sangat merugikan citra paham ASWAJA sebagai representasi ajaran Islam رحمة للعالمين.

Sebagai organisasi sosial (جمعيّة إجتماعيّة), NU harus mencurahkan perhatiannya secara serius pada bidang sosial, seperti ekonomi, kesehatan, pendidikan, pertanian dan lain-lain yang menjadi problem kehidupan sehari-hari warga, masyarakat dan bangsa.


Hal ini perlu diingatkan, menjelang tahun 2014 yang merupakan tahun politik bangsa kita, karena dikhawatirkan tidak sedikit pengurus NU di berbagai tingkatan yang memperlakukan NU seakan-akan sebagai sebuah partai politik (حِزْبٌ سِيَاسِيٌّ), yang bergerak pada tataran politik praktis alias politik kekuasaan.

KH M.A. SAHAL MAHFUDH pada Rapat Pleno PBNU tanggal 6-8 September 2013 di Pondok Pesantren UNSIQ Al-Asy’ariyah Kalibeber, Wonosobo, Jawa Tengah.


Politik kekuasaan yang lazim disebut politik tingkat rendah (low politics/سياسة سافلة) adalah porsi  partai politik dan warga negara, termasuk warga NU secara perseorangan. Sedangkan NU sebagai lembaga, harus steril dari politik semacam itu. Kepedulian NU terhadap politik diwujudkan dalam peran politik tingkat tinggi (high politics/سياسة عالية سامية ), yakni politik kebangsaan, kerakyatan dan etika berpolitik.

Politik kebangsaan berarti NU harus إستقامة dan proaktif mempertahankan NKRI sebagai wujud final negara bagi bangsa Indonesia. Politik kerakyatan antara lain bermakna NU harus aktif memberikan penyadaran tentang hak-hak dan kewajiban rakyat, melindungi dan membela mereka dari perlakuan sewenang-wenang dari pihak manapun.



Etika berpolitik harus selalu ditanamkan NU kepada kader dan warganya pada khususnya, dan masyarakat serta bangsa pada umumnya, agar berlangsung kehidupan politik yang santun dan bermoral yang tidak menghalalkan segala cara.

Dengan menjaga NU untuk bergerak pada tataran politik tingkat tinggi inilah, jalinan persaudaraan di lingkungan warga NU (أخوّة نهضيّة) dapat terpelihara. Sebaliknya,manakala NU secara kelembagaan telah diseret ke pusaran politik praktis, أخوّة نهضيّة akan tercabik-cabik, karenanya نعوذ بالله من ذلك !



Oleh karena itu, sinyalemen adanya Rais Syuriyah dan Ketua Tanfidziyah di beberapa daerah yang dicalegkan dan lain sebagainya, wajib mendapatkan respons yang sungguh-sungguh dari Rapat Pleno ini, sesuai dengan ketentuan AD/ART tentang larangan rangkap jabatan.

Kiranya inilah pesan dan arahan yang perlu kami sampaikan.

DR. KH. M. A. SAHAL MAHFUDH
Rais ‘Aam PBNU


*Sambutan dan Pengarahan Rais ‘Aam Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) disampaikan pada Rapat Pleno PBNU tanggal 6-8 September 2013 di Pondok Pesantren UNSIQ Al-Asy’ariyah Kalibeber, Wonosobo, Jawa Tengah.