TV9 milik PWNU Jatim akan menjangkau seluruh Jatim pada 2013 |
Metrotvnews.com, Surabaya: Media massa elektronik TV9 milik Pengurus Wilayah Nahdlatul Ulama (PWNU) Jawa Timur akan memancarkan siarannya ke seluruh Jatim mulai 2013.
"Masyarakat Jatim perlu media alternatif. Selama ini, TV9 hanya untuk Surabaya dan sekitarnya, tetapi tahun depan akan menjangkau seluruh Jatim," kata Ketua PWNU Jatim K.H. Hasan Mutawakkil Alallah di Surabaya, Ahad (9/9).
Ditemui di sela-sela Halalbihalal PWNU Jatim dan PCNU se-Jatim, dia mengaku pihaknya serius menggarap pertelevisian karena siaran yang telah dilakukan selama ini terbukti menarik minat masyarakat.
"Akan tetapi, kami belum punya modal. Alhamdulillah, tahun ini sudah ada kerja sama dengan investor yang sanggup mendanai hingga ratusan miliar. Oleh karena itu, kami siap menjangkau seluruh masyarakat Jatim mulai tahun depan," katanya.
Apalagi, katanya, TV9 juga mendapatkan izin (IPP) dari Menteri Komunikasi dan Informasi Tifatul Sembiring sehingga pancaran siarannya sudah dapat ditingkatkan jangkauannya.
"Tayangan televisi yang tidak sesuai dengan selera masyarakat memang sulit dipahami kalangan pertelevisian. Oleh karena itu, NU membuat 'tandingan' saja sebab kalau dilawan juga akan capek sendirian," katanya.
Hal itu mendapat tanggapan dari praktisi pertelevisian Ishadi S.K. yang juga hadir dalam halalbihalal pengurus NU se-Jatim itu. "Masyarakat sekarang memang sudah saatnya menerima tayangan yang baik, seperti TV9," katanya.
Menurut dia, era digitalisasi pertelevisian saat ini sudah seharusnya menjadi kesempatan bagi pemerintah melalui Kemenkominfo untuk memilah tayangan yang baik bagi masyarakat.
"Artinya, era digitalisasi merupakan kesempatan bagi pemerintah untuk mengenai pajak yang tinggi bagi media televisi tertentu dan memberi subsidi bagi media televisi yang baik untuk masyarakat, seperti TV9," katanya.
Sementara itu, Rektor IAIN Sunan Ampel Surabaya Prof. Abu A'la menilai pemerintah memang sulit membendung liberalisasi di segala bidang. Namun, pemerintah dapat melakukan intervensi dalam hal tertentu.
"Misalnya, Pemerintah bisa mendorong dunia pendidikan untuk mengarah kepada pendidikan spiritual melalui intervensi kurikulum, ujian (UN), termasuk mendukung sejumlah media alternatif," katanya.
Bahkan, kata dia, pemerintah sudah saatnya mendukung organisasi kemasyarakatan tertentu, seperti NU dan Muhammadiyah, untuk menjadi semacam "penjamin mutu" dalam nilai-nilai moral dan spiritual di tengah masyarakat. (Ant/Wrt3)
"Masyarakat Jatim perlu media alternatif. Selama ini, TV9 hanya untuk Surabaya dan sekitarnya, tetapi tahun depan akan menjangkau seluruh Jatim," kata Ketua PWNU Jatim K.H. Hasan Mutawakkil Alallah di Surabaya, Ahad (9/9).
Ditemui di sela-sela Halalbihalal PWNU Jatim dan PCNU se-Jatim, dia mengaku pihaknya serius menggarap pertelevisian karena siaran yang telah dilakukan selama ini terbukti menarik minat masyarakat.
"Akan tetapi, kami belum punya modal. Alhamdulillah, tahun ini sudah ada kerja sama dengan investor yang sanggup mendanai hingga ratusan miliar. Oleh karena itu, kami siap menjangkau seluruh masyarakat Jatim mulai tahun depan," katanya.
Apalagi, katanya, TV9 juga mendapatkan izin (IPP) dari Menteri Komunikasi dan Informasi Tifatul Sembiring sehingga pancaran siarannya sudah dapat ditingkatkan jangkauannya.
"Tayangan televisi yang tidak sesuai dengan selera masyarakat memang sulit dipahami kalangan pertelevisian. Oleh karena itu, NU membuat 'tandingan' saja sebab kalau dilawan juga akan capek sendirian," katanya.
Hal itu mendapat tanggapan dari praktisi pertelevisian Ishadi S.K. yang juga hadir dalam halalbihalal pengurus NU se-Jatim itu. "Masyarakat sekarang memang sudah saatnya menerima tayangan yang baik, seperti TV9," katanya.
Menurut dia, era digitalisasi pertelevisian saat ini sudah seharusnya menjadi kesempatan bagi pemerintah melalui Kemenkominfo untuk memilah tayangan yang baik bagi masyarakat.
"Artinya, era digitalisasi merupakan kesempatan bagi pemerintah untuk mengenai pajak yang tinggi bagi media televisi tertentu dan memberi subsidi bagi media televisi yang baik untuk masyarakat, seperti TV9," katanya.
Sementara itu, Rektor IAIN Sunan Ampel Surabaya Prof. Abu A'la menilai pemerintah memang sulit membendung liberalisasi di segala bidang. Namun, pemerintah dapat melakukan intervensi dalam hal tertentu.
"Misalnya, Pemerintah bisa mendorong dunia pendidikan untuk mengarah kepada pendidikan spiritual melalui intervensi kurikulum, ujian (UN), termasuk mendukung sejumlah media alternatif," katanya.
Bahkan, kata dia, pemerintah sudah saatnya mendukung organisasi kemasyarakatan tertentu, seperti NU dan Muhammadiyah, untuk menjadi semacam "penjamin mutu" dalam nilai-nilai moral dan spiritual di tengah masyarakat. (Ant/Wrt3)
NU Dorong Pemerintah Dukung Tontonan Alternatif
Perkembangan jaringan komunikasi digital menjadikan persaingan di
dunia penyiaran semakin ketat. Untuk tersedianya tontonan alternatif
sebagaimana disajikan lembaga penyiaran dengan modal kecil, Nahdlatul
Ulama (NU) sebagai civil society mendorong Pemerintah untuk memberikan
dukungan nyata.
Ini terlontar dalam seminar Pra Munas Alim Ulama dan Konferensi Besar
NU di Aula PWNU Jawa Timur, Sabtu (8/9), yang mengambil tema "Mengawal
Entitas Kebudayaan Indonesia di Tengah Liberalisasi dan Keterbukaan
Informasi-Komunikasi".
Hadir sebagai pembicara dalam seminar tersebut adalah Prof. Sasa
Djuarsa Sendjaya, Ph.D (Guru Besar Ilmu Komunikasi Universitas
Indonesia), Prof Dr Solichin Abdul Wahab (Guru Besar Ilmu Sosial
Universitas Brawijaya), Prof Dr Abdul A'la (Guru Besar dan Rektor IAIN
Sunan Ampel Surabaya), H As'ad Sa'id Ali (Wakil Ketua Umum PBNU), dan Dr
Ishadi SK (Direktur Trans Corp).
"Perkembangan jaringan komunikasi digital ini mestinya bisa menjadi
solusi. Jaringan baru ini lebih efektif daripada analog, baik dari
kualitas suara maupun gambar, karena tidak tergantung pemancar dan
menara," ungkap Ishadi.
Meski demikian, jaringan komunikasi digital tidak bisa dijalankan
dengan biaya murah, sehingga hanya lembaga penyiaran tertentu yang bisa
melaksanakannya. Di saat yang sama lembaga penyiaran seperti TV 9 milik
NU Jawa Timur, yang bisa menyajikan tontonan alternatif untuk
masyarakat, sangat membutuhkan perhatian.
"Mestinya Pemerintah bisa mengambil sikap, jaringan televisi
alternatif harus mendapatkan perhatian. Ini harus dibantu, karena kalau
tidak mereka tidak akan bisa bersaing dengan lembaga yang dikelola
pemodal besar," tandas Ishadi.
Sasa Djuarsa Sendjaya mengungkapkan, perkembangan jaringan komunikasi
digital ini harus bisa dimanfaatkan dengan maksimal dan baik. Terlebih
mengenai proporsi siaran tak terbatas, yang apabila tidak dijalankan
dengan baik, dikhawatirkan justru mengakibatkan pelemahan di masyarakat.
"Tidak ada aturan mengenai porsi siaran pendidikan. Ini terutama
terjadi setelah era reformasi. Semua berubah. Negara telah digantikan
pasar, dan penguasa telah digantikan pengusaha," tegas Sasa.
Abdul A'la lebih menyoroti tontonan alternatif yang harus lebih
disodorkan ke mastarakat, untuk tujuan kemajuan. "Lembaga pendidikan dan
Organisasi Kemasyarakatan seperti NU harus bisa berada di garda depan
dalam mengarahkan warga, terutama generasi mudanya dalam memilih
tontonan-tontonan yang berkualitas. Tentunya dengan tidak mengecilkan
peran Pemerintah," ujarnya.
Sementara penanggungjawab seminar Pra Munas Alim Ulama dan Konbes NU
Andi Najmi Fuaidy, mengatakan apa yang dihasilkan dalam kegiatan ini
akan dijadikan masukan, untuk selanjutnya dibahas dalam Munas Alim Ulama
dan Konbes NU mendatang di Cirebon. "Munas dan Konbes mengambil tema
Kembali ke Khittah Indonesia 1945. Apa yang dibahas dalam seminar kali
ini adalah penggalian bahasan dari perspektif kebudayaan," pungkas Andi.
Sumber:
http://www.metrotvnews.com/metromain/news/2012/09/09/105300/2013-TV9-Milik-NU-Memancar-ke-Seluruh-Jatim
http://www.republika.co.id/berita/dunia-islam/islam-nusantara/12/09/09/ma1zwl-nu-dorong-pemerintah-dukung-tontonan-alternatif
Tidak ada komentar:
Posting Komentar