Senin, 19 Januari 2015

Kisah Mimpi Aneh yang Mengantarkan Profesor Matematika Masuk Islam

Jeffrey Lang © bersamadakwah.com
Jeffrey Lang © bersamadakwah.com

Sungguh sebuah mimpi yang aneh. Sebagai seorang berbakat, Jeffrey Lang tidak habis pikir dengan mimpi itu. Namun hati kecilnya mengakui, mimpi itu membawa kedamaian di tengah kehidupan “ilmiah”-nya yang gersang.

Dalam mimpi itu, Jeffrey bersimpuh menghadap Tuhan. Caranya, ia berdiri, kemudian membungkuk, berdiri lagi, kepala menyentuh lantai, hingga duduk di atas tumit. Ia melakukannya di sebuah ruang yang hening, tanpa meja tanpa kursi. Hanya ada karpet dan dinding yang berwarna putih keabuan. Selain Jeffrey, di ruangan itu juga banyak laki-laki membentuk beberapa barisan. Jeffrey berada di barisan ketiga. Sedangkan di depan mereka, ada seorang laki-laki yang duduk sendiri, tak ada orang lain di sampingnya. Ia tampak memimpin ‘ritual’ itu. Jeffrey tak bisa melihat wajahnya, tapi Jeffrey ingat betul di atas kepala pria itu ada kain putih dengan motif berwarna merah.

Tidak sekali itu saja Jeffrey bermimpi begitu. Berkali-kali, selama 10 tahun menjadi atheis, Jeffrey bermimpi yang sama. Namun, ia mengabaikannya begitu saja dan memenangkan nalar ‘ilmiah’-nya.

Jeffrey Lang lahir dan besar dalam keluarga Katolik. Namun sejak kecil, ia telah menjadi anak yang kritis. “Ayah, apakah surga itu benar-benar ada?” tanyanya saat masih menjadi bocah.
Saat ia memasuki usia remaja, pertanyaannya semakin banyak dan kritis. Namun pendeta dan orang-orang seagama yang ditemuinya tidak mampu memberikan jawaban yang memuaskan. Ketia ia berusia 18 tahun, Jeffrey merasa logika mengenai Tuhan menemui jalan buntu. Karenanya ia kemudian memilih menjadi atheis menjelang kelulusannya dari sekolah Notre Dam Boys High.

Dua puluh tahun berlalu sejak mimpi pertamanya bersimpun menghadap Tuhan. Jeffrey menjadi dosen di University of San Fransisco. Di Universitas itu, Jeffery bertemu dengan Ghassan, pemuda muslim yang menjadi mahasiswanya. Keduanya menjadi sering berdiskusi. Semula tentang pelajaran, kemudian Jeffrey juga mengenal keluarga mahasiswanya tersebut.
Suatu hari, Jeffrey diberi hadiah sebuah mushaf Al Qur’an terjemah. Di situlah titik hidayah itu dimulai. Jeffrey akhirnya membaca Al Qur’an itu. Halaman demi halaman. Ia merasa tertantang.

“Sejak awal, buku ini menantang diriku,” kata Jeffrey mengenang saat-saat itu. Agaknya ia membaca ayat kedua surat Al Baqarah: “Inilah kitab yang tidak ada keraguan di dalamnya, petunjuk bagi orang-orang yang bertaqwa.”

Jeffrey terus membaca Al Qur’an. Ia merasa setiap kali ia membantah ayat-ayat yang dibacanya, ayat berikutnya menjadi jawaban atas bantahannya tersebut. “Seolah Penulis kitab itu membaca pikiranku,” kenangnya.

Jeffrey mulai sadar bahwa kitab di depannya itu melampaui pikirannya. Ia sadar kitab di depannya itu telah mengisi kekosongan jiwa yang selama ini ia rasakan. Kitab itu bukan hanya menjawab pertanyaan-pertanyaannya tentang Tuhan dan alam semesta, tetapi juga membawa kedamaian bagi jiwanya. Hidayah mulai masuk ke dalam hatinya.

Dan hidayah itu semakin terang, tatkala ia melihat sebuah pemandangan di basement gereja Universitas. Sejumlah kecil mahasiswa muslim sedang beribadah. Karena kesulitan tempat, mereka menggunakan basement itu.

Jeffrey melihat mereka berbaris rapi. Berdiri bersama, menunduk bersama, lalu berdiri lagi, kemudian bersujud, dan duduk bersimpuh di atas tumit. Jeffrey ingat sesuatu. Terlebih setelah ia melihat di depan mereka ada seseorang yang memimpin mereka beribadah, memakai penutup kepala putih dengan motif berwarna merah. Rupanya itu Ghassan. “Ini mimpiku!” teriak Jeffrey dalam hati. Ya, pemandangan itu persis seperti mimpinya yang berulang beberapa kali beberapa tahun silam.

Jeffrey tak kuasa menahan tangis haru. Hatinya penuh damai. Ia tersungkur bersujud.
Singkat cerita, profesor Matematika ini kemudian masuk Islam. Ia lalu berdakwah melalui mimbar ilmiah dan menulis sejumlah buku. Diantaranya Struggling to Surrender (1994), Even Angels Ask (1997) dan Losing My Religion: A Call for Help (2004). [Tim Redaksi Kisahikmah.com] 

Sumber:  http://kisahikmah.com/kisah-mimpi-aneh-yang-mengantarkan-profesor-matematika-masuk-islam/

Inilah Kalimat Monumental dan Syair Abdul Muththalib sebelum Serangan Pasukan Gajah

ilustrasi @hellotravel
ilustrasi @hellotravel

Namanya Abrahah al-Asyram. Seorang yang ditunjuk oleh Raja Najasyi sebagai Gubernur Yaman kala itu. Guna mempersembahkan sesuatu yang spesial untuk raja yang telah memilihnya menjadi Gubernur, Abrahah membangun gereja dengan perhiasan indah dan arsitektur yang mewah.

Bersamaan dengan itu, ia mengirim surat kepada Raja Najasyi. Dalam surat tersebut, ia berencana menghancurkan Ka’bah agar jama’ah haji beralih dari Ka’bah ke gereja megah yang dibangunnya itu.

Ternyata, surat yang ditulis Abrahah tersebar beritanya ke seluruh penduduk Makkah. Mereka pun geram dan memikirkan makar agar niat Abrahah gagal. Maka, berangkatlah salah satu penduduk Makkah yang bernama Abu Kinanah menuju gereja tersebut.

Sesampainya di sana, ia meminta kepada Abrahah agar dirinya diberi izin menginap karena sudah malam dan kelelahan. Ia juga beralasan akan melakukan ibadah di gereja. Karena iba, Abrahah mengizinkan Abu Kinanah menginap di dalam gereja.

Siang harinya, saat Abrahah masuk ke dalam gereja, Abu Kinanah sudah tidak ada. Ia meninggalkan gereja entah sejak malam atau pagi buta. Ketika itu, Abrahah mencium bau busuk. Setelah memerintahkan prajuritnya untuk melakukan pengecekan, didapatilah di dinding gereja lumuran kotoran manusia.

Rupanya, Abu Kinanah sengaja buang air besar di dalam gereja, kemudian melumurkan kotorannya ke dinding. Atas ulah konyolnya ini, Abrahah pun marah dan langsung menjalankan aksinya untuk menghancurkan Ka’bah.

Lalu berangkatlah pasukan itu. Sebelum sampai di Makkah, Abrahah mengingatkan bahwa ia tidak akan menumpahkan darah penduduk. Ia hanya ingin menghancurkan Ka’bah. Sayangnya, beberapa prajuritnya melakukan penjarahan terhadap harta penduduk Makkah, termasuk unta milik Abdul Muththalib sejumlah 200 ekor.

Abdul Muththalib yang merupakan pemuka Quraisy dan kakek Rasulullah Saw pun mendatangi perkemahan Abrahah. Selepas bertemu, terjadilah dialog antar keduanya. Dalam dialog ini, Abdul Muththalib menyampaikan kalimat tauhid yang amat monumental dan dikenang sejarah.
Katanya, “Aku adalah pemilik unta. Sedangkan pemilik rumah itu (Ka’bah) adalah Allah Swt. Dia yang akan melindunginya.”

Selepas menyampaikan kalimat itu dan meminta unta serta harta kaumnya yang dirampas, Abdul Muththalib bergegas mengungsi. Ia bersembunyi di gua-gua agar terhindar dari kerusakan yang akan dilakukan oleh pasukan Abrahah.

Sebelum meninggalkan Ka’bah, Abdul Muththalib dan pembesar Quraisy lainnya menyenandungkan bait-bait syair berikut:
Ya Allah, sesungguhnya seorang hamba hanya mampu melindungi kendaraannya.
Maka, lindungilah Rumah-Mu.
Berilah pertolongan hari ini untuk melawan penganut dan penyembah salib hingga tuntas.
Selamanya jangan biarkan pasukan salib dan agama mereka mengalahkan agama-Mu, jikalau Engkau mengabaikan mereka dan kiblat kami.
Allah Ta’ala pun melindungi Baitullah sebagaimana disebutkan dalam surah al-Fiil [105]: 1-5, “Apakah kamu tidak memperhatikan bagaimana Tuhanmu telah bertindak terhadap tentara bergajah? Bukankah Dia telah menjadikan tipu daya mereka (untuk menghancurkan Ka’bah) itu sia-sia? Dan Dia mengirimkan kapada mereka burung yang berbondong-bondong, yang melempari mereka dengan batu (berasal) dari tanah yang terbakar. Lalu Dia menjadikan mereka seperti daun-daun yang dimakan (ulat).”

Khalid Muhammad Khalid dalam bukunya “Muhammad Saw Sang Rasul Terkasih” menyebutkan, “Peristiwa ini terjadi pada bulan Muharram. Dan pada bulan Rabi’ul Awal tahun yang sama, Rasulullah Saw dilahirkan.” Allahumma shalli ‘ala sayyidina Muhammad wa ‘ala ali sayyidina Muhammad. [Pirman] 

Sumber: http://kisahikmah.com/inilah-kalimat-monumental-dan-syair-abdul-muththalib-sebelum-serangan-pasukan-gajah/

Di Menara Inilah Kelak Nabi Isa Diturunkan

sumber gambar @elforkandotcom
sumber gambar @elforkandotcom

Nabi Isa Alaihis Salam yang difitnah oleh Kaum Nasrani telah mati, nyatanya tidak demikian. Beliau masih hidup dan kelak diturunkan oleh Allah Ta’ala untuk membunuh Dajjal. Inilah sebuah ketentuan pasti yang dijamin oleh al-Qur’an dan sunnah Rasulullah Shallallahu Alaihi Wa sallam yang mulia. Diturunkannya Nabi Isa Alaihis Salam merupakan salah satu ciri dekatnya Hari Kiamat.

Nabi Isa Alaihis Salam hidup di bumi pada akhir zaman selama empat puluh tahun. Inilah pendapat yang paling shahih. Beliau hanya memberi dua opsi kepada manusia yang masih hidup di zaman itu: beriman dengan ajaran yang dibawa oleh Nabi Muhammad Shallallahu Alaihi Wa sallam atau diperangi. Dalam kurun waktu empat puluh tahun itu, tiga puh tiga tahun dilalui dengan huru hara akhir zaman dan tujuh tahun dalam kedamaian.

Di dalam buku “Tanda Berakhirnya Dunia”, Syeikh Mahmud Athiyah Muhamamd Ali menukil riwayat yang mengatakan, “Dia (Nabi Isa Alaihis Salam) akan membunuh segala kesesatan, menghancurkan salib, membunuh babi, serta meletakkan jizyah.”

Saking pastinya kedatangan Hari Kiamat ini, Rasulullah Shallallahu Alaihi Wa sallam telah menjelaskan detail tempat dimana Nabi Isa Alaihis Salam diturunkan. Imam Ahmad dan Muslim meriwayatkan dari Aus bin Aus, Rasulullah Shallallahu Alaihi Wa sallam bersabda, “Isa putra Maryam turun pada menara putih di timur Damaskus.” Hadits ini diriwayatkan juga oleh Imam Abu Dawud dan Tirmidzi.

Menjelaskan hadits ini, Ibnu Katsir menyebutkan bahwa riwayat inilah yang paling masyhur tentang tempat diturunkannya Nabi Isa Alaihis Sallam. Menara putih yang terletak di timur Damaskus tersebut adalah bangunan yang telah drirenovasi pada tahun 741 Hijriyah dengan dana yang berasal dari kaum Nasrani.

Tentang ciri fisik sosok yang terlahir tanpa ayah atas izin Allah Ta’ala ini, Syeikh Mahmud menjelaskan, “Dia adalah seorang laki-laki berperawakan sedang, berkulit antara merah dan putih.” Lanjut beliau menerangkan, “Rambutnya disisir rapi, dan dalam riwayat yang shahih disebutkan bahwa dia berkulit merah yang bagus dan berambut keriting.”

Jika kaum muslimin menjumpai Nabi Isa Alaihis Sallam kelak, Rasulullah Shallallahu Alaihi Wa sallam pernah berpesan, “Barang siapa bertemu dengan Isa putra Maryam, sampaikanlah salamku padanya.” Hadits ini diriwayatkan oleh Imam Hakim dari Anas bin Malik. [Pirman]

Sumber: http://kisahikmah.com/di-menara-inilah-kelak-nabi-isa-diturunkan/

Minggu, 18 Januari 2015

Abdullah bin Amr: Syuhada Uhud yang Berbicara dengan Allah tanpa Hijab


Abdullah bin Amr: Syuhada Uhud yang Berbicara dengan Allah tanpa Hijab

VOA-ISLAM.COM - Abdullah bin Amr bin Haram  atau biasa disebut Abu Jabir bin Abdullah adalah salah seorang sahabat Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam yang telah berbaiat pada saat baiat ‘aqabah ke dua. Ia diangkat oleh Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam sebagai wakil dari Bani Salamah yang termasuk suku Khazraj.

Usai baiat aqabah ke dua ia kembali ke Madinah, jiwa raga dan harta bendanya ia korbankan sebagai baktinnya untuk Islam. Apalagi, setelah Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam berhijrah ke Madinah, maka ia mendapatkan nasib baik dengan memiliki kesempatan untuk selalu bersama Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam baik siang maupun malam.

Ketika pertempuran yang paling menentukan, yakni perang Badar Kubra dikumandangkan, Abdullah bin Amr termasuk salah satu pejuang di dalamnya yang menjadi Ahlul Badr. Tentu saja sebuah kemuliaan bagi para Ahlul Badr sebagaimana dalam sebuah hadits:

جَاءَ جِبْرِيلُ إِلَى النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَقَالَ مَا تَعُدُّونَ أَهْلَ بَدْرٍ فِيكُمْ قَالَ مِنْ أَفْضَلِ الْمُسْلِمِينَ أَوْ كَلِمَةً نَحْوَهَا قَالَ وَكَذَلِكَ مَنْ شَهِدَ بَدْرًا مِنْ الْمَلَائِكَةِ

“Datang Malaikat Jibril pada Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam dan berkata: apa pendapat kalian tentang Ahlul Badr diantara kalian? Maka bersabda Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam: mereka adalah muslimin yang paling mulia (atau kalimat yg bermakna demikian), lalu berkata Jibril: demikian pula yg mengikuti perang Badr dari kelompok malaikat, mereka adalah malaikat yang terbaik.” (H.R. Bukhari)

Kemudian, saat perang Uhud meletus, ia pun kembali turut serta dalam kancah jihad di pertempuran tersebut.

Namun, sebelum kaum muslimin berangkan menyongsong perang Uhud yang penuh prahara, Abdullah bin Amr bin Haram sempat mendapatkan firasat atas kesyahidan dirinya. Dalam benaknya ia merasa kelak akan mejadi syuhada pertama di medan Uhud.

Suatu perasaan kuat meliputi  dirinya bahwa ia tak akan kembali. Hal itu sama sekali tak membuatnya sedih namun justru suka cita terpancar dari hatinya. Maka, ia pun memanggil anaknya, Jabir bin Abdullah yang juga sahabat Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam untuk menyampaikan wasiat.

اني لا أراي الا مقتولا في هذه الغزوة بل لعلي سأكون أول شهدائها من المسلمين، واني والله، لا أدع أحدا بعدي أحبّ اليّ منك بعد رسول الله صلى الله عليه وسلم وان عليّ دبنا، فاقض عني ديني، واستوص باخوتك خيرا

“Sesungguhnya ayahanda merasa yakin akan gugur dalam peperangan ini, bahkan mungkin akan menjadi syuhada pertama di kalangan kaum muslimin. Dan demi Allah, sungguh ayahanda tak rela sepeninggalku mencintai seorang pun diantaramu melebihi cintanya kepada Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam. Selain itu, sebetulnya ayahanda memiliki hutang, maka lunasilah hutangku dan wasiatkanlah kepada saudara-saudaramu agar mereka suka berbuat baik.”

Keesokan harinya, para mujahidin dari golongan Anshar dan Muhajirin berangkat menuju medan Uhud. Kafir Quraisy datang dengan pasukan besar dengan tujuan menyerang Madinah dan menghabisi kaum Muslimin.

Abdullah bin Amr bin Haram termasuk dalam limapuluh orang pemanah pimpinan Abdullah bin Zubair yang ditunjuk Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam untuk menjaga garis pertahanan di atas bukit. Pertempuran berlangsung dengan sengit, pasukan Quraisy dapat dipukul mundur dan mereka meninggalkan harta ghanimah yang terserak di medan pertempuran Uhud.

Para pemanah di atas bukit sebenarnya telah diminta Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam untuk tidak meninggalkan tempatnya, menang atau kalah, sampai diperintahkan oleh beliau sendiri. Tetapi sebagian besar dari mereka tergiur dengan barang-barang orang Quraisy yang berserakan tersebut, mereka meninggal pos pertahanan dengan menuruni bukit untuk mengambilnya.

Sang komandan pemanah, Abdullah bin Zubair berteriak mengingatkan pesan Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam tersebut, tetapi mereka mengabaikannya, tinggallah hanya sekitar sepuluh orang, termasuk Abdullah bin Amr bin Haram yang bertahan di atas bukit.

Benar saja, tak lama berselang, sekelompok pasukan berkuda Quraisy di bawah pimpinan Khalid bin Walid yang saat itu belum masuk Islam, menaiki bukit pertahanan tersebut, dan terjadilah pertempuran tidak seimbang dengan sepuluh sahabat yang tersisa.

Dalam pertempuran dahsyat ini, Abdullah bin Amr bin Haram bersama para sahabat lainnya berjibaku dengan gagah berani. Meski kondisi tak seimbang sama sekali tak menciutkan nyali para sahabat, mereka betempu dengan segala kemampuannya demi membela agama Allah. Maka, inilah pertempuran terakhir bagi Abdullah bin Amr bin Haram di mana ia meraih kesyahidan yang dirindukannya.

Seperti yang dialami para sahabat lainnya, jenazah Abdullah bin Amr dicincang kafir Qurays yang begitu mendendam untuk membalas kekalahannya dalam perang Badr terdahulu.

Sang anak, Jabir bin Abdullah dan sebagian keluarganya berdiri menangisi jenazah sang ayah yang amat mengenaskan.

جَابِر بْن عَبْدِ اللَّهِ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُمَا قَالَ : لَمَّا قُتِلَ أَبِي جَعَلْتُ أَكْشِفُ الثَّوْبَ عَنْ وَجْهِهِ أَبْكِي وَيَنْهَوْنِي عَنْهُ وَالنَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ لَا يَنْهَانِي فَجَعَلَتْ عَمَّتِي فَاطِمَةُ تَبْكِي فَقَالَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ تَبْكِينَ أَوْ لَا تَبْكِينَ مَا زَالَتْ الْمَلَائِكَةُ تُظِلُّهُ بِأَجْنِحَتِهَا حَتَّى رَفَعْتُمُوهُ

Jabir bin 'Abdullah radliallahu 'anha berkata: Ketika bapakku meninggal dunia aku menyingkap kain penutup wajahnya, maka aku menangis namun orang-orang melarangku menangis sedangkan Nabi shallallahu 'alaihi wasallam tidak melarangku. Hal ini membuat bibiku Fathimah ikut menangis. Maka Nabi shallallahu 'alaihi wasallam bersabda: "Dia menangis atau tidak menangis, malaikat senantiasa akan tetap menaunginya sampai kalian mengangkatnya". [H.R. Bukhari]

Demikianlah kemuliaan bagi Abdullah bin Amr bin Haram bersama para syuhada uhud lainnya, di mana para malaikat menaungi dengan sayapnya.

Bahkan bukan hanya itu, bahkan setelah wafatnya Abdullah bin Amr bin Haram, Rasulullah Shallallahu ‘alahi wa sallam menceritakan kegemarannya yang begitu cinta dengan mati syahid yang kemudian menjadi asbabun nuzul dari surat Ali Imran ayat 169-170:

سَمِعْتُ جَابِرَ بْنَ عَبْدِ اللَّهِ يَقُولُ :لَمَّا قُتِلَ عَبْدُ اللَّهِ بْنُ عَمْرِو بْنِ حَرَامٍ يَوْمَ أُحُدٍ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَا جَابِرُ أَلا أُخْبِرُكَ مَا قَالَ اللَّهُ عَزَّ وَجَلَّ لابِيكَ قُلْتُ بَلَى قَالَ مَا كَلَّمَ اللَّهُ أَحَدًا إِلَّا مِنْ وَرَاءِ حِجَابٍ وَكَلَّمَ أَبَاكَ كِفَاحًا فَقَالَ يَا عَبْدِي تَمَنَّ عَلَيَّ أُعْطِكَ قَالَ يَا رَبِّ تُحْيِينِي فَأُقْتَلُ فِيكَ ثَانِيَةً قَالَ إِنَّهُ سَبَقَ مِنِّي أَنَّهُمْ إِلَيْهَا لا يُرْجَعُونَ قَالَ يَا رَبِّ فَأَبْلِغْ مَنْ وَرَائِي فَأَنْزَلَ اللَّهُ عَزَّ وَجَلَّ هَذِهِ الايَةَ : وَلا تَحْسَبَنَّ الَّذِينَ قُتِلُوا فِي سَبِيلِ اللَّهِ أَمْوَاتًا

Aku mendengar Jabir bin Abdillah berkata; ketika Abdullah bin Amr bin Haram terbunuh pada perang Uhud Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda; wahai jabir maukah engkau aku kabarkan apa yang Allah ‘Azza wa Jalla firmankan kepada ayahmu? Aku menjawab; tentu ya Rasulullah, tidaklah Allah berbicara kepada seseorang pun kecuali dari balik hijab tapi Allah telah berbicara kepada ayahmu dengan bertatap muka, lalau Allah berfirman: 'Wahai Hambaku, memohonlah kepada-Ku, niscaya Aku akan memberimu, ' ia menjawab; 'Wahai Rabb, hidupkan aku kembali agar aku terbunuh di jalan-Mu untuk kedua kalinya.' Allah berfirman: 'Sesungguhnya telah berlalu dari-Ku bahwasanya mereka tidak akan kembali lagi ke sana, ' ia berkata; 'Wahai Rabb, kalau begitu sampaikanlah kepada orang yang berada di belakangku.'" Beliau bersabda: "Maka Allah Ta'ala menurunkan: "Janganlah kamu mengira bahwa orang-orang yang gugur di jalan Allah itu mati; bahkan mereka itu hidup di sisi Rabbnya dengan mendapat rizki." (H.R. Ibnu Majah, dihasankan oleh Syaikh Albani).

Subhanallah, dari kisah di atas sungguh penuh hikmah. Sebuah fenomena yang menakjubkan, bahwa pada dasarnya maut adalah sesuatu yang ghaib, tak ada yang mengetahuinya kecuali Allah Ta’ala. Namun begitu mulianya para syuhada, jika Allah menghendaki tentu pengetahuan tentang maut itu bisa saja dimasukkan dalam firasat para hambaNya. Inilah bukti kebenaran bagi mereka para mujahid yang jujur merindukan syahid fi sabilillah. Wallaahu a’lamu bishshawaab. [Ahmed Widad/dbs]
- See more at: http://www.voa-islam.com/read/mujahid/2012/08/11/20208/abdullah-bin-amr-syuhada-uhud-yang-berbicara-dengan-allah-tanpa-hijab/#sthash.RBwuBgVc.dpuf

 Abdullah bin Amr: Syuhada Uhud yang Berbicara dengan Allah tanpa Hijab







 

Abdullah bin Amr bin Haram  atau biasa disebut Abu Jabir bin Abdullah adalah salah seorang sahabat Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam yang telah berbaiat pada saat baiat ‘aqabah ke dua. Ia diangkat oleh Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam sebagai wakil dari Bani Salamah yang termasuk suku Khazraj.

Usai baiat aqabah ke dua ia kembali ke Madinah, jiwa raga dan harta bendanya ia korbankan sebagai baktinnya untuk Islam. Apalagi, setelah Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam berhijrah ke Madinah, maka ia mendapatkan nasib baik dengan memiliki kesempatan untuk selalu bersama Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam baik siang maupun malam.

Ketika pertempuran yang paling menentukan, yakni perang Badar Kubra dikumandangkan, Abdullah bin Amr termasuk salah satu pejuang di dalamnya yang menjadi Ahlul Badr. Tentu saja sebuah kemuliaan bagi para Ahlul Badr sebagaimana dalam sebuah hadits:

جَاءَ جِبْرِيلُ إِلَى النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَقَالَ مَا تَعُدُّونَ أَهْلَ بَدْرٍ فِيكُمْ قَالَ مِنْ أَفْضَلِ الْمُسْلِمِينَ أَوْ كَلِمَةً نَحْوَهَا قَالَ وَكَذَلِكَ مَنْ شَهِدَ بَدْرًا مِنْ الْمَلَائِكَةِ

Datang Malaikat Jibril pada Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam dan berkata: apa pendapat kalian tentang Ahlul Badr diantara kalian? Maka bersabda Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam: mereka adalah muslimin yang paling mulia (atau kalimat yg bermakna demikian), lalu berkata Jibril: demikian pula yg mengikuti perang Badr dari kelompok malaikat, mereka adalah malaikat yang terbaik.” (H.R. Bukhari)

Kemudian, saat perang Uhud meletus, ia pun kembali turut serta dalam kancah jihad di pertempuran tersebut.

Namun, sebelum kaum muslimin berangkan menyongsong perang Uhud yang penuh prahara, Abdullah bin Amr bin Haram sempat mendapatkan firasat atas kesyahidan dirinya. Dalam benaknya ia merasa kelak akan mejadi syuhada pertama di medan Uhud.

Suatu perasaan kuat meliputi  dirinya bahwa ia tak akan kembali. Hal itu sama sekali tak membuatnya sedih namun justru suka cita terpancar dari hatinya. Maka, ia pun memanggil anaknya, Jabir bin Abdullah yang juga sahabat Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam untuk menyampaikan wasiat.

اني لا أراي الا مقتولا في هذه الغزوة بل لعلي سأكون أول شهدائها من المسلمين، واني والله، لا أدع أحدا بعدي أحبّ اليّ منك بعد رسول الله صلى الله عليه وسلم وان عليّ دبنا، فاقض عني ديني، واستوص باخوتك خيرا

Sesungguhnya ayahanda merasa yakin akan gugur dalam peperangan ini, bahkan mungkin akan menjadi syuhada pertama di kalangan kaum muslimin. Dan demi Allah, sungguh ayahanda tak rela sepeninggalku mencintai seorang pun diantaramu melebihi cintanya kepada Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam. Selain itu, sebetulnya ayahanda memiliki hutang, maka lunasilah hutangku dan wasiatkanlah kepada saudara-saudaramu agar mereka suka berbuat baik.”

Keesokan harinya, para mujahidin dari golongan Anshar dan Muhajirin berangkat menuju medan Uhud. Kafir Quraisy datang dengan pasukan besar dengan tujuan menyerang Madinah dan menghabisi kaum Muslimin.

Abdullah bin Amr bin Haram termasuk dalam limapuluh orang pemanah pimpinan Abdullah bin Zubair yang ditunjuk Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam untuk menjaga garis pertahanan di atas bukit. Pertempuran berlangsung dengan sengit, pasukan Quraisy dapat dipukul mundur dan mereka meninggalkan harta ghanimah yang terserak di medan pertempuran Uhud.

Para pemanah di atas bukit sebenarnya telah diminta Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam untuk tidak meninggalkan tempatnya, menang atau kalah, sampai diperintahkan oleh beliau sendiri. Tetapi sebagian besar dari mereka tergiur dengan barang-barang orang Quraisy yang berserakan tersebut, mereka meninggal pos pertahanan dengan menuruni bukit untuk mengambilnya.

Sang komandan pemanah, Abdullah bin Zubair berteriak mengingatkan pesan Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam tersebut, tetapi mereka mengabaikannya, tinggallah hanya sekitar sepuluh orang, termasuk Abdullah bin Amr bin Haram yang bertahan di atas bukit.

Benar saja, tak lama berselang, sekelompok pasukan berkuda Quraisy di bawah pimpinan Khalid bin Walid yang saat itu belum masuk Islam, menaiki bukit pertahanan tersebut, dan terjadilah pertempuran tidak seimbang dengan sepuluh sahabat yang tersisa.

Dalam pertempuran dahsyat ini, Abdullah bin Amr bin Haram bersama para sahabat lainnya berjibaku dengan gagah berani. Meski kondisi tak seimbang sama sekali tak menciutkan nyali para sahabat, mereka betempu dengan segala kemampuannya demi membela agama Allah. Maka, inilah pertempuran terakhir bagi Abdullah bin Amr bin Haram di mana ia meraih kesyahidan yang dirindukannya.

Seperti yang dialami para sahabat lainnya, jenazah Abdullah bin Amr dicincang kafir Qurays yang begitu mendendam untuk membalas kekalahannya dalam perang Badr terdahulu.

Sang anak, Jabir bin Abdullah dan sebagian keluarganya berdiri menangisi jenazah sang ayah yang amat mengenaskan.

جَابِر بْن عَبْدِ اللَّهِ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُمَا قَالَ : لَمَّا قُتِلَ أَبِي جَعَلْتُ أَكْشِفُ الثَّوْبَ عَنْ وَجْهِهِ أَبْكِي وَيَنْهَوْنِي عَنْهُ وَالنَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ لَا يَنْهَانِي فَجَعَلَتْ عَمَّتِي فَاطِمَةُ تَبْكِي فَقَالَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ تَبْكِينَ أَوْ لَا تَبْكِينَ مَا زَالَتْ الْمَلَائِكَةُ تُظِلُّهُ بِأَجْنِحَتِهَا حَتَّى رَفَعْتُمُوهُ

Jabir bin 'Abdullah radliallahu 'anha berkata: Ketika bapakku meninggal dunia aku menyingkap kain penutup wajahnya, maka aku menangis namun orang-orang melarangku menangis sedangkan Nabi shallallahu 'alaihi wasallam tidak melarangku. Hal ini membuat bibiku Fathimah ikut menangis. Maka Nabi shallallahu 'alaihi wasallam bersabda: "Dia menangis atau tidak menangis, malaikat senantiasa akan tetap menaunginya sampai kalian mengangkatnya". [H.R. Bukhari]

Demikianlah kemuliaan bagi Abdullah bin Amr bin Haram bersama para syuhada uhud lainnya, di mana para malaikat menaungi dengan sayapnya.

Bahkan bukan hanya itu, bahkan setelah wafatnya Abdullah bin Amr bin Haram, Rasulullah Shallallahu ‘alahi wa sallam menceritakan kegemarannya yang begitu cinta dengan mati syahid yang kemudian menjadi asbabun nuzul dari surat Ali Imran ayat 169-170:

سَمِعْتُ جَابِرَ بْنَ عَبْدِ اللَّهِ يَقُولُ :لَمَّا قُتِلَ عَبْدُ اللَّهِ بْنُ عَمْرِو بْنِ حَرَامٍ يَوْمَ أُحُدٍ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَا جَابِرُ أَلا أُخْبِرُكَ مَا قَالَ اللَّهُ عَزَّ وَجَلَّ لابِيكَ قُلْتُ بَلَى قَالَ مَا كَلَّمَ اللَّهُ أَحَدًا إِلَّا مِنْ وَرَاءِ حِجَابٍ وَكَلَّمَ أَبَاكَ كِفَاحًا فَقَالَ يَا عَبْدِي تَمَنَّ عَلَيَّ أُعْطِكَ قَالَ يَا رَبِّ تُحْيِينِي فَأُقْتَلُ فِيكَ ثَانِيَةً قَالَ إِنَّهُ سَبَقَ مِنِّي أَنَّهُمْ إِلَيْهَا لا يُرْجَعُونَ قَالَ يَا رَبِّ فَأَبْلِغْ مَنْ وَرَائِي فَأَنْزَلَ اللَّهُ عَزَّ وَجَلَّ هَذِهِ الايَةَ : وَلا تَحْسَبَنَّ الَّذِينَ قُتِلُوا فِي سَبِيلِ اللَّهِ أَمْوَاتًا

Aku mendengar Jabir bin Abdillah berkata; ketika Abdullah bin Amr bin Haram terbunuh pada perang Uhud Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda; wahai jabir maukah engkau aku kabarkan apa yang Allah ‘Azza wa Jalla firmankan kepada ayahmu? Aku menjawab; tentu ya Rasulullah, tidaklah Allah berbicara kepada seseorang pun kecuali dari balik hijab tapi Allah telah berbicara kepada ayahmu dengan bertatap muka, lalau Allah berfirman: 'Wahai Hambaku, memohonlah kepada-Ku, niscaya Aku akan memberimu, ' ia menjawab; 'Wahai Rabb, hidupkan aku kembali agar aku terbunuh di jalan-Mu untuk kedua kalinya.' Allah berfirman: 'Sesungguhnya telah berlalu dari-Ku bahwasanya mereka tidak akan kembali lagi ke sana, ' ia berkata; 'Wahai Rabb, kalau begitu sampaikanlah kepada orang yang berada di belakangku.'" Beliau bersabda: "Maka Allah Ta'ala menurunkan: "Janganlah kamu mengira bahwa orang-orang yang gugur di jalan Allah itu mati; bahkan mereka itu hidup di sisi Rabbnya dengan mendapat rizki." (H.R. Ibnu Majah, dihasankan oleh Syaikh Albani).

Subhanallah, dari kisah di atas sungguh penuh hikmah. Sebuah fenomena yang menakjubkan, bahwa pada dasarnya maut adalah sesuatu yang ghaib, tak ada yang mengetahuinya kecuali Allah Ta’ala. Namun begitu mulianya para syuhada, jika Allah menghendaki tentu pengetahuan tentang maut itu bisa saja dimasukkan dalam firasat para hambaNya. Inilah bukti kebenaran bagi mereka para mujahid yang jujur merindukan syahid fi sabilillah. Wallaahu a’lamu bishshawaab. [Ahmed Widad/dbs]

Sumber: http://www.voa-islam.com/read/mujahid/2012/08/11/20208/abdullah-bin-amr-syuhada-uhud-yang-berbicara-dengan-allah-tanpa-hijab/#sthash.RBwuBgVc.dpuf

Abdullah bin Amr: Syuhada Uhud yang Berbicara dengan Allah tanpa Hijab

VOA-ISLAM.COM - Abdullah bin Amr bin Haram  atau biasa disebut Abu Jabir bin Abdullah adalah salah seorang sahabat Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam yang telah berbaiat pada saat baiat ‘aqabah ke dua. Ia diangkat oleh Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam sebagai wakil dari Bani Salamah yang termasuk suku Khazraj.

Usai baiat aqabah ke dua ia kembali ke Madinah, jiwa raga dan harta bendanya ia korbankan sebagai baktinnya untuk Islam. Apalagi, setelah Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam berhijrah ke Madinah, maka ia mendapatkan nasib baik dengan memiliki kesempatan untuk selalu bersama Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam baik siang maupun malam.

Ketika pertempuran yang paling menentukan, yakni perang Badar Kubra dikumandangkan, Abdullah bin Amr termasuk salah satu pejuang di dalamnya yang menjadi Ahlul Badr. Tentu saja sebuah kemuliaan bagi para Ahlul Badr sebagaimana dalam sebuah hadits:

جَاءَ جِبْرِيلُ إِلَى النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَقَالَ مَا تَعُدُّونَ أَهْلَ بَدْرٍ فِيكُمْ قَالَ مِنْ أَفْضَلِ الْمُسْلِمِينَ أَوْ كَلِمَةً نَحْوَهَا قَالَ وَكَذَلِكَ مَنْ شَهِدَ بَدْرًا مِنْ الْمَلَائِكَةِ

“Datang Malaikat Jibril pada Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam dan berkata: apa pendapat kalian tentang Ahlul Badr diantara kalian? Maka bersabda Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam: mereka adalah muslimin yang paling mulia (atau kalimat yg bermakna demikian), lalu berkata Jibril: demikian pula yg mengikuti perang Badr dari kelompok malaikat, mereka adalah malaikat yang terbaik.” (H.R. Bukhari)

Kemudian, saat perang Uhud meletus, ia pun kembali turut serta dalam kancah jihad di pertempuran tersebut.

Namun, sebelum kaum muslimin berangkan menyongsong perang Uhud yang penuh prahara, Abdullah bin Amr bin Haram sempat mendapatkan firasat atas kesyahidan dirinya. Dalam benaknya ia merasa kelak akan mejadi syuhada pertama di medan Uhud.

Suatu perasaan kuat meliputi  dirinya bahwa ia tak akan kembali. Hal itu sama sekali tak membuatnya sedih namun justru suka cita terpancar dari hatinya. Maka, ia pun memanggil anaknya, Jabir bin Abdullah yang juga sahabat Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam untuk menyampaikan wasiat.

اني لا أراي الا مقتولا في هذه الغزوة بل لعلي سأكون أول شهدائها من المسلمين، واني والله، لا أدع أحدا بعدي أحبّ اليّ منك بعد رسول الله صلى الله عليه وسلم وان عليّ دبنا، فاقض عني ديني، واستوص باخوتك خيرا

“Sesungguhnya ayahanda merasa yakin akan gugur dalam peperangan ini, bahkan mungkin akan menjadi syuhada pertama di kalangan kaum muslimin. Dan demi Allah, sungguh ayahanda tak rela sepeninggalku mencintai seorang pun diantaramu melebihi cintanya kepada Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam. Selain itu, sebetulnya ayahanda memiliki hutang, maka lunasilah hutangku dan wasiatkanlah kepada saudara-saudaramu agar mereka suka berbuat baik.”

Keesokan harinya, para mujahidin dari golongan Anshar dan Muhajirin berangkat menuju medan Uhud. Kafir Quraisy datang dengan pasukan besar dengan tujuan menyerang Madinah dan menghabisi kaum Muslimin.

Abdullah bin Amr bin Haram termasuk dalam limapuluh orang pemanah pimpinan Abdullah bin Zubair yang ditunjuk Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam untuk menjaga garis pertahanan di atas bukit. Pertempuran berlangsung dengan sengit, pasukan Quraisy dapat dipukul mundur dan mereka meninggalkan harta ghanimah yang terserak di medan pertempuran Uhud.

Para pemanah di atas bukit sebenarnya telah diminta Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam untuk tidak meninggalkan tempatnya, menang atau kalah, sampai diperintahkan oleh beliau sendiri. Tetapi sebagian besar dari mereka tergiur dengan barang-barang orang Quraisy yang berserakan tersebut, mereka meninggal pos pertahanan dengan menuruni bukit untuk mengambilnya.

Sang komandan pemanah, Abdullah bin Zubair berteriak mengingatkan pesan Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam tersebut, tetapi mereka mengabaikannya, tinggallah hanya sekitar sepuluh orang, termasuk Abdullah bin Amr bin Haram yang bertahan di atas bukit.

Benar saja, tak lama berselang, sekelompok pasukan berkuda Quraisy di bawah pimpinan Khalid bin Walid yang saat itu belum masuk Islam, menaiki bukit pertahanan tersebut, dan terjadilah pertempuran tidak seimbang dengan sepuluh sahabat yang tersisa.

Dalam pertempuran dahsyat ini, Abdullah bin Amr bin Haram bersama para sahabat lainnya berjibaku dengan gagah berani. Meski kondisi tak seimbang sama sekali tak menciutkan nyali para sahabat, mereka betempu dengan segala kemampuannya demi membela agama Allah. Maka, inilah pertempuran terakhir bagi Abdullah bin Amr bin Haram di mana ia meraih kesyahidan yang dirindukannya.

Seperti yang dialami para sahabat lainnya, jenazah Abdullah bin Amr dicincang kafir Qurays yang begitu mendendam untuk membalas kekalahannya dalam perang Badr terdahulu.

Sang anak, Jabir bin Abdullah dan sebagian keluarganya berdiri menangisi jenazah sang ayah yang amat mengenaskan.

جَابِر بْن عَبْدِ اللَّهِ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُمَا قَالَ : لَمَّا قُتِلَ أَبِي جَعَلْتُ أَكْشِفُ الثَّوْبَ عَنْ وَجْهِهِ أَبْكِي وَيَنْهَوْنِي عَنْهُ وَالنَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ لَا يَنْهَانِي فَجَعَلَتْ عَمَّتِي فَاطِمَةُ تَبْكِي فَقَالَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ تَبْكِينَ أَوْ لَا تَبْكِينَ مَا زَالَتْ الْمَلَائِكَةُ تُظِلُّهُ بِأَجْنِحَتِهَا حَتَّى رَفَعْتُمُوهُ

Jabir bin 'Abdullah radliallahu 'anha berkata: Ketika bapakku meninggal dunia aku menyingkap kain penutup wajahnya, maka aku menangis namun orang-orang melarangku menangis sedangkan Nabi shallallahu 'alaihi wasallam tidak melarangku. Hal ini membuat bibiku Fathimah ikut menangis. Maka Nabi shallallahu 'alaihi wasallam bersabda: "Dia menangis atau tidak menangis, malaikat senantiasa akan tetap menaunginya sampai kalian mengangkatnya". [H.R. Bukhari]

Demikianlah kemuliaan bagi Abdullah bin Amr bin Haram bersama para syuhada uhud lainnya, di mana para malaikat menaungi dengan sayapnya.

Bahkan bukan hanya itu, bahkan setelah wafatnya Abdullah bin Amr bin Haram, Rasulullah Shallallahu ‘alahi wa sallam menceritakan kegemarannya yang begitu cinta dengan mati syahid yang kemudian menjadi asbabun nuzul dari surat Ali Imran ayat 169-170:

سَمِعْتُ جَابِرَ بْنَ عَبْدِ اللَّهِ يَقُولُ :لَمَّا قُتِلَ عَبْدُ اللَّهِ بْنُ عَمْرِو بْنِ حَرَامٍ يَوْمَ أُحُدٍ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَا جَابِرُ أَلا أُخْبِرُكَ مَا قَالَ اللَّهُ عَزَّ وَجَلَّ لابِيكَ قُلْتُ بَلَى قَالَ مَا كَلَّمَ اللَّهُ أَحَدًا إِلَّا مِنْ وَرَاءِ حِجَابٍ وَكَلَّمَ أَبَاكَ كِفَاحًا فَقَالَ يَا عَبْدِي تَمَنَّ عَلَيَّ أُعْطِكَ قَالَ يَا رَبِّ تُحْيِينِي فَأُقْتَلُ فِيكَ ثَانِيَةً قَالَ إِنَّهُ سَبَقَ مِنِّي أَنَّهُمْ إِلَيْهَا لا يُرْجَعُونَ قَالَ يَا رَبِّ فَأَبْلِغْ مَنْ وَرَائِي فَأَنْزَلَ اللَّهُ عَزَّ وَجَلَّ هَذِهِ الايَةَ : وَلا تَحْسَبَنَّ الَّذِينَ قُتِلُوا فِي سَبِيلِ اللَّهِ أَمْوَاتًا

Aku mendengar Jabir bin Abdillah berkata; ketika Abdullah bin Amr bin Haram terbunuh pada perang Uhud Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda; wahai jabir maukah engkau aku kabarkan apa yang Allah ‘Azza wa Jalla firmankan kepada ayahmu? Aku menjawab; tentu ya Rasulullah, tidaklah Allah berbicara kepada seseorang pun kecuali dari balik hijab tapi Allah telah berbicara kepada ayahmu dengan bertatap muka, lalau Allah berfirman: 'Wahai Hambaku, memohonlah kepada-Ku, niscaya Aku akan memberimu, ' ia menjawab; 'Wahai Rabb, hidupkan aku kembali agar aku terbunuh di jalan-Mu untuk kedua kalinya.' Allah berfirman: 'Sesungguhnya telah berlalu dari-Ku bahwasanya mereka tidak akan kembali lagi ke sana, ' ia berkata; 'Wahai Rabb, kalau begitu sampaikanlah kepada orang yang berada di belakangku.'" Beliau bersabda: "Maka Allah Ta'ala menurunkan: "Janganlah kamu mengira bahwa orang-orang yang gugur di jalan Allah itu mati; bahkan mereka itu hidup di sisi Rabbnya dengan mendapat rizki." (H.R. Ibnu Majah, dihasankan oleh Syaikh Albani).

Subhanallah, dari kisah di atas sungguh penuh hikmah. Sebuah fenomena yang menakjubkan, bahwa pada dasarnya maut adalah sesuatu yang ghaib, tak ada yang mengetahuinya kecuali Allah Ta’ala. Namun begitu mulianya para syuhada, jika Allah menghendaki tentu pengetahuan tentang maut itu bisa saja dimasukkan dalam firasat para hambaNya. Inilah bukti kebenaran bagi mereka para mujahid yang jujur merindukan syahid fi sabilillah. Wallaahu a’lamu bishshawaab. [Ahmed Widad/dbs]
- See more at: http://www.voa-islam.com/read/mujahid/2012/08/11/20208/abdullah-bin-amr-syuhada-uhud-yang-berbicara-dengan-allah-tanpa-hijab/#sthash.RBwuBgVc.dpuf

Sahabat Rasulullah yang Berbicara

kepada Allah tanpa Hijab



Kenikmatan tertinggi yang akan diperoleh seorang hamba adalah tatkala ia bisa berbicara kepada Allah Ta’ala secara langsung. Kenikmatan tersebut melebihi nikmatnya surga. Padahal, surga adalah tempat terbaik yang tak pernah terbayang kenikmatannya oleh pikiran, pandangan, maupun penglihatan manusia.

Agar layak dikaruniai nikmat yang agung ini, sebagaimana termaktub dalam salah satu ayat-Nya, seorang hamba harus melakukan amal yang saleh dan membebaskan dirinya dari mempersekutukan Allah Ta’ala.

Katakanlah, “Sesungguhnya aku ini manusia biasa seperti kamu, yang diwahyukan kepadaku, ‘Bahwa sesungguhnya Tuhan kamu adalah Tuhan yang Esa.’ Barangsiapa mengharap perjumpaan dengan Tuhannya, maka hendaklah ia mengerjakan amal yang shaleh dan janganlah ia mempersekutukan seorang pun dalam beribadah kepada Tuhannya.” (Qs. al-Kahfi [18]: 110)

Di antara amal shaleh yang bisa menjadikan pelakunya diberi nikmat berbicara kepada Allah Ta’ala secara langsung adalah jihad di jalan-Nya. Yaitu memperjuangkan tegak tingginya kalimat Allah Ta’ala di muka bumi dengan jiwa dan harta.

Di awal dakwah Rasulullah Saw, jihad menjadi salah satu pembeda efektif antara mereka yang beriman dan siapa yang munafiq, serta sarana unjuk kekuatan kepada kaum-kaum yang memushi Allah Ta’ala dengan mendustakan rasul-Nya yang mulia.

Dalam berbagai riwayat disebutkan bahwa kenikmatan berbicara kepada Alah Ta’ala hanya diberikan untuk orang-orang tertentu yang Dia Ridhai. Itu pun tidak secara langsung, melainkan dengan adanya hijab.

Namun, dalam tafsir “al-Qur’anul ‘Azhim”, Ibnu Katsir menyebutkan, “Di antara manusia yang Allah Ta’ala berbicara kepadanya secara terang-terangan tanpa penghalang,” lanjut salah satu mufassirin terbaik ini, “adalah Abdillah bin Haram yang syahid dalam Perang Badar.”

Abdillah bin Haram adalah ayah dari sahabat Rasulullah Saw yang terkenal keshalihannya, Jabir bin Abdillah. Sedangkan pendapat Ibnu Katsir tersebut didasarkan pada sabda Rasulullah Saw kepada Jabir bin Abdillah,

مَا كَلَّمَ اللَّهُ أَحَدًا إِلَّا مِنْ وَرَاءِ حِجَابٍ وَ إِنَّهُ كَلَّمَ أَبَاكَ كِفَاحًا

Tutur Nabi, “Tidak sekali-kali Allah Ta’ala berkata kepada seseorang,” lanjut Nabi sebagaimana diriwayatkan Imam at-Tirmidzi ini, “melainkan dari balik tabir.” Namun, dalam hadits yang juga diriwayatkan oleh Imam Ibnu Majah ini, “Sesungguhnya Dia berbicara kepada ayahmu secara terang-terangan,” pungkas Rasulullah Saw sebagaimana diriwayatkan pula oleh Imam al-Hakim dan dishahihkan oleh adz-Dzahabi.

Berbahagialah Jabir dan ayahnya berkesempatan mendapatkan nikmat Allah Ta’ala yang agung itu. Semoga Allah Ta’ala memberikan pula nikmat tersebut kepada kita. Aamiin. [Pirman]

Sumber: http://bersamadakwah.net/2015/01/sahabat-rasulullah-yang-berbicara-kepada-allah-tanpa-hijab/

Abdullah bin Amr: Syuhada Uhud yang Berbicara dengan Allah tanpa Hijab

VOA-ISLAM.COM - Abdullah bin Amr bin Haram  atau biasa disebut Abu Jabir bin Abdullah adalah salah seorang sahabat Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam yang telah berbaiat pada saat baiat ‘aqabah ke dua. Ia diangkat oleh Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam sebagai wakil dari Bani Salamah yang termasuk suku Khazraj.

Usai baiat aqabah ke dua ia kembali ke Madinah, jiwa raga dan harta bendanya ia korbankan sebagai baktinnya untuk Islam. Apalagi, setelah Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam berhijrah ke Madinah, maka ia mendapatkan nasib baik dengan memiliki kesempatan untuk selalu bersama Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam baik siang maupun malam.

Ketika pertempuran yang paling menentukan, yakni perang Badar Kubra dikumandangkan, Abdullah bin Amr termasuk salah satu pejuang di dalamnya yang menjadi Ahlul Badr. Tentu saja sebuah kemuliaan bagi para Ahlul Badr sebagaimana dalam sebuah hadits:

جَاءَ جِبْرِيلُ إِلَى النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَقَالَ مَا تَعُدُّونَ أَهْلَ بَدْرٍ فِيكُمْ قَالَ مِنْ أَفْضَلِ الْمُسْلِمِينَ أَوْ كَلِمَةً نَحْوَهَا قَالَ وَكَذَلِكَ مَنْ شَهِدَ بَدْرًا مِنْ الْمَلَائِكَةِ

“Datang Malaikat Jibril pada Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam dan berkata: apa pendapat kalian tentang Ahlul Badr diantara kalian? Maka bersabda Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam: mereka adalah muslimin yang paling mulia (atau kalimat yg bermakna demikian), lalu berkata Jibril: demikian pula yg mengikuti perang Badr dari kelompok malaikat, mereka adalah malaikat yang terbaik.” (H.R. Bukhari)

Kemudian, saat perang Uhud meletus, ia pun kembali turut serta dalam kancah jihad di pertempuran tersebut.

Namun, sebelum kaum muslimin berangkan menyongsong perang Uhud yang penuh prahara, Abdullah bin Amr bin Haram sempat mendapatkan firasat atas kesyahidan dirinya. Dalam benaknya ia merasa kelak akan mejadi syuhada pertama di medan Uhud.

Suatu perasaan kuat meliputi  dirinya bahwa ia tak akan kembali. Hal itu sama sekali tak membuatnya sedih namun justru suka cita terpancar dari hatinya. Maka, ia pun memanggil anaknya, Jabir bin Abdullah yang juga sahabat Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam untuk menyampaikan wasiat.

اني لا أراي الا مقتولا في هذه الغزوة بل لعلي سأكون أول شهدائها من المسلمين، واني والله، لا أدع أحدا بعدي أحبّ اليّ منك بعد رسول الله صلى الله عليه وسلم وان عليّ دبنا، فاقض عني ديني، واستوص باخوتك خيرا

“Sesungguhnya ayahanda merasa yakin akan gugur dalam peperangan ini, bahkan mungkin akan menjadi syuhada pertama di kalangan kaum muslimin. Dan demi Allah, sungguh ayahanda tak rela sepeninggalku mencintai seorang pun diantaramu melebihi cintanya kepada Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam. Selain itu, sebetulnya ayahanda memiliki hutang, maka lunasilah hutangku dan wasiatkanlah kepada saudara-saudaramu agar mereka suka berbuat baik.”

Keesokan harinya, para mujahidin dari golongan Anshar dan Muhajirin berangkat menuju medan Uhud. Kafir Quraisy datang dengan pasukan besar dengan tujuan menyerang Madinah dan menghabisi kaum Muslimin.

Abdullah bin Amr bin Haram termasuk dalam limapuluh orang pemanah pimpinan Abdullah bin Zubair yang ditunjuk Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam untuk menjaga garis pertahanan di atas bukit. Pertempuran berlangsung dengan sengit, pasukan Quraisy dapat dipukul mundur dan mereka meninggalkan harta ghanimah yang terserak di medan pertempuran Uhud.

Para pemanah di atas bukit sebenarnya telah diminta Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam untuk tidak meninggalkan tempatnya, menang atau kalah, sampai diperintahkan oleh beliau sendiri. Tetapi sebagian besar dari mereka tergiur dengan barang-barang orang Quraisy yang berserakan tersebut, mereka meninggal pos pertahanan dengan menuruni bukit untuk mengambilnya.

Sang komandan pemanah, Abdullah bin Zubair berteriak mengingatkan pesan Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam tersebut, tetapi mereka mengabaikannya, tinggallah hanya sekitar sepuluh orang, termasuk Abdullah bin Amr bin Haram yang bertahan di atas bukit.

Benar saja, tak lama berselang, sekelompok pasukan berkuda Quraisy di bawah pimpinan Khalid bin Walid yang saat itu belum masuk Islam, menaiki bukit pertahanan tersebut, dan terjadilah pertempuran tidak seimbang dengan sepuluh sahabat yang tersisa.

Dalam pertempuran dahsyat ini, Abdullah bin Amr bin Haram bersama para sahabat lainnya berjibaku dengan gagah berani. Meski kondisi tak seimbang sama sekali tak menciutkan nyali para sahabat, mereka betempu dengan segala kemampuannya demi membela agama Allah. Maka, inilah pertempuran terakhir bagi Abdullah bin Amr bin Haram di mana ia meraih kesyahidan yang dirindukannya.

Seperti yang dialami para sahabat lainnya, jenazah Abdullah bin Amr dicincang kafir Qurays yang begitu mendendam untuk membalas kekalahannya dalam perang Badr terdahulu.

Sang anak, Jabir bin Abdullah dan sebagian keluarganya berdiri menangisi jenazah sang ayah yang amat mengenaskan.

جَابِر بْن عَبْدِ اللَّهِ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُمَا قَالَ : لَمَّا قُتِلَ أَبِي جَعَلْتُ أَكْشِفُ الثَّوْبَ عَنْ وَجْهِهِ أَبْكِي وَيَنْهَوْنِي عَنْهُ وَالنَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ لَا يَنْهَانِي فَجَعَلَتْ عَمَّتِي فَاطِمَةُ تَبْكِي فَقَالَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ تَبْكِينَ أَوْ لَا تَبْكِينَ مَا زَالَتْ الْمَلَائِكَةُ تُظِلُّهُ بِأَجْنِحَتِهَا حَتَّى رَفَعْتُمُوهُ

Jabir bin 'Abdullah radliallahu 'anha berkata: Ketika bapakku meninggal dunia aku menyingkap kain penutup wajahnya, maka aku menangis namun orang-orang melarangku menangis sedangkan Nabi shallallahu 'alaihi wasallam tidak melarangku. Hal ini membuat bibiku Fathimah ikut menangis. Maka Nabi shallallahu 'alaihi wasallam bersabda: "Dia menangis atau tidak menangis, malaikat senantiasa akan tetap menaunginya sampai kalian mengangkatnya". [H.R. Bukhari]

Demikianlah kemuliaan bagi Abdullah bin Amr bin Haram bersama para syuhada uhud lainnya, di mana para malaikat menaungi dengan sayapnya.

Bahkan bukan hanya itu, bahkan setelah wafatnya Abdullah bin Amr bin Haram, Rasulullah Shallallahu ‘alahi wa sallam menceritakan kegemarannya yang begitu cinta dengan mati syahid yang kemudian menjadi asbabun nuzul dari surat Ali Imran ayat 169-170:

سَمِعْتُ جَابِرَ بْنَ عَبْدِ اللَّهِ يَقُولُ :لَمَّا قُتِلَ عَبْدُ اللَّهِ بْنُ عَمْرِو بْنِ حَرَامٍ يَوْمَ أُحُدٍ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَا جَابِرُ أَلا أُخْبِرُكَ مَا قَالَ اللَّهُ عَزَّ وَجَلَّ لابِيكَ قُلْتُ بَلَى قَالَ مَا كَلَّمَ اللَّهُ أَحَدًا إِلَّا مِنْ وَرَاءِ حِجَابٍ وَكَلَّمَ أَبَاكَ كِفَاحًا فَقَالَ يَا عَبْدِي تَمَنَّ عَلَيَّ أُعْطِكَ قَالَ يَا رَبِّ تُحْيِينِي فَأُقْتَلُ فِيكَ ثَانِيَةً قَالَ إِنَّهُ سَبَقَ مِنِّي أَنَّهُمْ إِلَيْهَا لا يُرْجَعُونَ قَالَ يَا رَبِّ فَأَبْلِغْ مَنْ وَرَائِي فَأَنْزَلَ اللَّهُ عَزَّ وَجَلَّ هَذِهِ الايَةَ : وَلا تَحْسَبَنَّ الَّذِينَ قُتِلُوا فِي سَبِيلِ اللَّهِ أَمْوَاتًا

Aku mendengar Jabir bin Abdillah berkata; ketika Abdullah bin Amr bin Haram terbunuh pada perang Uhud Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda; wahai jabir maukah engkau aku kabarkan apa yang Allah ‘Azza wa Jalla firmankan kepada ayahmu? Aku menjawab; tentu ya Rasulullah, tidaklah Allah berbicara kepada seseorang pun kecuali dari balik hijab tapi Allah telah berbicara kepada ayahmu dengan bertatap muka, lalau Allah berfirman: 'Wahai Hambaku, memohonlah kepada-Ku, niscaya Aku akan memberimu, ' ia menjawab; 'Wahai Rabb, hidupkan aku kembali agar aku terbunuh di jalan-Mu untuk kedua kalinya.' Allah berfirman: 'Sesungguhnya telah berlalu dari-Ku bahwasanya mereka tidak akan kembali lagi ke sana, ' ia berkata; 'Wahai Rabb, kalau begitu sampaikanlah kepada orang yang berada di belakangku.'" Beliau bersabda: "Maka Allah Ta'ala menurunkan: "Janganlah kamu mengira bahwa orang-orang yang gugur di jalan Allah itu mati; bahkan mereka itu hidup di sisi Rabbnya dengan mendapat rizki." (H.R. Ibnu Majah, dihasankan oleh Syaikh Albani).

Subhanallah, dari kisah di atas sungguh penuh hikmah. Sebuah fenomena yang menakjubkan, bahwa pada dasarnya maut adalah sesuatu yang ghaib, tak ada yang mengetahuinya kecuali Allah Ta’ala. Namun begitu mulianya para syuhada, jika Allah menghendaki tentu pengetahuan tentang maut itu bisa saja dimasukkan dalam firasat para hambaNya. Inilah bukti kebenaran bagi mereka para mujahid yang jujur merindukan syahid fi sabilillah. Wallaahu a’lamu bishshawaab. [Ahmed Widad/dbs]
- See more at: http://www.voa-islam.com/read/mujahid/2012/08/11/20208/abdullah-bin-amr-syuhada-uhud-yang-berbicara-dengan-allah-tanpa-hijab/#sthash.RBwuBgVc.dpuf

Abdullah bin Amr: Syuhada Uhud yang Berbicara dengan Allah tanpa Hijab

VOA-ISLAM.COM - Abdullah bin Amr bin Haram  atau biasa disebut Abu Jabir bin Abdullah adalah salah seorang sahabat Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam yang telah berbaiat pada saat baiat ‘aqabah ke dua. Ia diangkat oleh Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam sebagai wakil dari Bani Salamah yang termasuk suku Khazraj.

Usai baiat aqabah ke dua ia kembali ke Madinah, jiwa raga dan harta bendanya ia korbankan sebagai baktinnya untuk Islam. Apalagi, setelah Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam berhijrah ke Madinah, maka ia mendapatkan nasib baik dengan memiliki kesempatan untuk selalu bersama Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam baik siang maupun malam.

Ketika pertempuran yang paling menentukan, yakni perang Badar Kubra dikumandangkan, Abdullah bin Amr termasuk salah satu pejuang di dalamnya yang menjadi Ahlul Badr. Tentu saja sebuah kemuliaan bagi para Ahlul Badr sebagaimana dalam sebuah hadits:

جَاءَ جِبْرِيلُ إِلَى النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَقَالَ مَا تَعُدُّونَ أَهْلَ بَدْرٍ فِيكُمْ قَالَ مِنْ أَفْضَلِ الْمُسْلِمِينَ أَوْ كَلِمَةً نَحْوَهَا قَالَ وَكَذَلِكَ مَنْ شَهِدَ بَدْرًا مِنْ الْمَلَائِكَةِ

“Datang Malaikat Jibril pada Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam dan berkata: apa pendapat kalian tentang Ahlul Badr diantara kalian? Maka bersabda Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam: mereka adalah muslimin yang paling mulia (atau kalimat yg bermakna demikian), lalu berkata Jibril: demikian pula yg mengikuti perang Badr dari kelompok malaikat, mereka adalah malaikat yang terbaik.” (H.R. Bukhari)

Kemudian, saat perang Uhud meletus, ia pun kembali turut serta dalam kancah jihad di pertempuran tersebut.

Namun, sebelum kaum muslimin berangkan menyongsong perang Uhud yang penuh prahara, Abdullah bin Amr bin Haram sempat mendapatkan firasat atas kesyahidan dirinya. Dalam benaknya ia merasa kelak akan mejadi syuhada pertama di medan Uhud.

Suatu perasaan kuat meliputi  dirinya bahwa ia tak akan kembali. Hal itu sama sekali tak membuatnya sedih namun justru suka cita terpancar dari hatinya. Maka, ia pun memanggil anaknya, Jabir bin Abdullah yang juga sahabat Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam untuk menyampaikan wasiat.

اني لا أراي الا مقتولا في هذه الغزوة بل لعلي سأكون أول شهدائها من المسلمين، واني والله، لا أدع أحدا بعدي أحبّ اليّ منك بعد رسول الله صلى الله عليه وسلم وان عليّ دبنا، فاقض عني ديني، واستوص باخوتك خيرا

“Sesungguhnya ayahanda merasa yakin akan gugur dalam peperangan ini, bahkan mungkin akan menjadi syuhada pertama di kalangan kaum muslimin. Dan demi Allah, sungguh ayahanda tak rela sepeninggalku mencintai seorang pun diantaramu melebihi cintanya kepada Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam. Selain itu, sebetulnya ayahanda memiliki hutang, maka lunasilah hutangku dan wasiatkanlah kepada saudara-saudaramu agar mereka suka berbuat baik.”

Keesokan harinya, para mujahidin dari golongan Anshar dan Muhajirin berangkat menuju medan Uhud. Kafir Quraisy datang dengan pasukan besar dengan tujuan menyerang Madinah dan menghabisi kaum Muslimin.

Abdullah bin Amr bin Haram termasuk dalam limapuluh orang pemanah pimpinan Abdullah bin Zubair yang ditunjuk Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam untuk menjaga garis pertahanan di atas bukit. Pertempuran berlangsung dengan sengit, pasukan Quraisy dapat dipukul mundur dan mereka meninggalkan harta ghanimah yang terserak di medan pertempuran Uhud.

Para pemanah di atas bukit sebenarnya telah diminta Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam untuk tidak meninggalkan tempatnya, menang atau kalah, sampai diperintahkan oleh beliau sendiri. Tetapi sebagian besar dari mereka tergiur dengan barang-barang orang Quraisy yang berserakan tersebut, mereka meninggal pos pertahanan dengan menuruni bukit untuk mengambilnya.

Sang komandan pemanah, Abdullah bin Zubair berteriak mengingatkan pesan Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam tersebut, tetapi mereka mengabaikannya, tinggallah hanya sekitar sepuluh orang, termasuk Abdullah bin Amr bin Haram yang bertahan di atas bukit.

Benar saja, tak lama berselang, sekelompok pasukan berkuda Quraisy di bawah pimpinan Khalid bin Walid yang saat itu belum masuk Islam, menaiki bukit pertahanan tersebut, dan terjadilah pertempuran tidak seimbang dengan sepuluh sahabat yang tersisa.

Dalam pertempuran dahsyat ini, Abdullah bin Amr bin Haram bersama para sahabat lainnya berjibaku dengan gagah berani. Meski kondisi tak seimbang sama sekali tak menciutkan nyali para sahabat, mereka betempu dengan segala kemampuannya demi membela agama Allah. Maka, inilah pertempuran terakhir bagi Abdullah bin Amr bin Haram di mana ia meraih kesyahidan yang dirindukannya.

Seperti yang dialami para sahabat lainnya, jenazah Abdullah bin Amr dicincang kafir Qurays yang begitu mendendam untuk membalas kekalahannya dalam perang Badr terdahulu.

Sang anak, Jabir bin Abdullah dan sebagian keluarganya berdiri menangisi jenazah sang ayah yang amat mengenaskan.

جَابِر بْن عَبْدِ اللَّهِ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُمَا قَالَ : لَمَّا قُتِلَ أَبِي جَعَلْتُ أَكْشِفُ الثَّوْبَ عَنْ وَجْهِهِ أَبْكِي وَيَنْهَوْنِي عَنْهُ وَالنَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ لَا يَنْهَانِي فَجَعَلَتْ عَمَّتِي فَاطِمَةُ تَبْكِي فَقَالَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ تَبْكِينَ أَوْ لَا تَبْكِينَ مَا زَالَتْ الْمَلَائِكَةُ تُظِلُّهُ بِأَجْنِحَتِهَا حَتَّى رَفَعْتُمُوهُ

Jabir bin 'Abdullah radliallahu 'anha berkata: Ketika bapakku meninggal dunia aku menyingkap kain penutup wajahnya, maka aku menangis namun orang-orang melarangku menangis sedangkan Nabi shallallahu 'alaihi wasallam tidak melarangku. Hal ini membuat bibiku Fathimah ikut menangis. Maka Nabi shallallahu 'alaihi wasallam bersabda: "Dia menangis atau tidak menangis, malaikat senantiasa akan tetap menaunginya sampai kalian mengangkatnya". [H.R. Bukhari]

Demikianlah kemuliaan bagi Abdullah bin Amr bin Haram bersama para syuhada uhud lainnya, di mana para malaikat menaungi dengan sayapnya.

Bahkan bukan hanya itu, bahkan setelah wafatnya Abdullah bin Amr bin Haram, Rasulullah Shallallahu ‘alahi wa sallam menceritakan kegemarannya yang begitu cinta dengan mati syahid yang kemudian menjadi asbabun nuzul dari surat Ali Imran ayat 169-170:

سَمِعْتُ جَابِرَ بْنَ عَبْدِ اللَّهِ يَقُولُ :لَمَّا قُتِلَ عَبْدُ اللَّهِ بْنُ عَمْرِو بْنِ حَرَامٍ يَوْمَ أُحُدٍ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَا جَابِرُ أَلا أُخْبِرُكَ مَا قَالَ اللَّهُ عَزَّ وَجَلَّ لابِيكَ قُلْتُ بَلَى قَالَ مَا كَلَّمَ اللَّهُ أَحَدًا إِلَّا مِنْ وَرَاءِ حِجَابٍ وَكَلَّمَ أَبَاكَ كِفَاحًا فَقَالَ يَا عَبْدِي تَمَنَّ عَلَيَّ أُعْطِكَ قَالَ يَا رَبِّ تُحْيِينِي فَأُقْتَلُ فِيكَ ثَانِيَةً قَالَ إِنَّهُ سَبَقَ مِنِّي أَنَّهُمْ إِلَيْهَا لا يُرْجَعُونَ قَالَ يَا رَبِّ فَأَبْلِغْ مَنْ وَرَائِي فَأَنْزَلَ اللَّهُ عَزَّ وَجَلَّ هَذِهِ الايَةَ : وَلا تَحْسَبَنَّ الَّذِينَ قُتِلُوا فِي سَبِيلِ اللَّهِ أَمْوَاتًا

Aku mendengar Jabir bin Abdillah berkata; ketika Abdullah bin Amr bin Haram terbunuh pada perang Uhud Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda; wahai jabir maukah engkau aku kabarkan apa yang Allah ‘Azza wa Jalla firmankan kepada ayahmu? Aku menjawab; tentu ya Rasulullah, tidaklah Allah berbicara kepada seseorang pun kecuali dari balik hijab tapi Allah telah berbicara kepada ayahmu dengan bertatap muka, lalau Allah berfirman: 'Wahai Hambaku, memohonlah kepada-Ku, niscaya Aku akan memberimu, ' ia menjawab; 'Wahai Rabb, hidupkan aku kembali agar aku terbunuh di jalan-Mu untuk kedua kalinya.' Allah berfirman: 'Sesungguhnya telah berlalu dari-Ku bahwasanya mereka tidak akan kembali lagi ke sana, ' ia berkata; 'Wahai Rabb, kalau begitu sampaikanlah kepada orang yang berada di belakangku.'" Beliau bersabda: "Maka Allah Ta'ala menurunkan: "Janganlah kamu mengira bahwa orang-orang yang gugur di jalan Allah itu mati; bahkan mereka itu hidup di sisi Rabbnya dengan mendapat rizki." (H.R. Ibnu Majah, dihasankan oleh Syaikh Albani).

Subhanallah, dari kisah di atas sungguh penuh hikmah. Sebuah fenomena yang menakjubkan, bahwa pada dasarnya maut adalah sesuatu yang ghaib, tak ada yang mengetahuinya kecuali Allah Ta’ala. Namun begitu mulianya para syuhada, jika Allah menghendaki tentu pengetahuan tentang maut itu bisa saja dimasukkan dalam firasat para hambaNya. Inilah bukti kebenaran bagi mereka para mujahid yang jujur merindukan syahid fi sabilillah. Wallaahu a’lamu bishshawaab. [Ahmed Widad/dbs]
- See more at: http://www.voa-islam.com/read/mujahid/2012/08/11/20208/abdullah-bin-amr-syuhada-uhud-yang-berbicara-dengan-allah-tanpa-hijab/#sthash.RBwuBgVc.dpuf

Abdullah bin Amr: Syuhada Uhud yang Berbicara dengan Allah tanpa Hijab

VOA-ISLAM.COM - Abdullah bin Amr bin Haram  atau biasa disebut Abu Jabir bin Abdullah adalah salah seorang sahabat Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam yang telah berbaiat pada saat baiat ‘aqabah ke dua. Ia diangkat oleh Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam sebagai wakil dari Bani Salamah yang termasuk suku Khazraj.

Usai baiat aqabah ke dua ia kembali ke Madinah, jiwa raga dan harta bendanya ia korbankan sebagai baktinnya untuk Islam. Apalagi, setelah Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam berhijrah ke Madinah, maka ia mendapatkan nasib baik dengan memiliki kesempatan untuk selalu bersama Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam baik siang maupun malam.

Ketika pertempuran yang paling menentukan, yakni perang Badar Kubra dikumandangkan, Abdullah bin Amr termasuk salah satu pejuang di dalamnya yang menjadi Ahlul Badr. Tentu saja sebuah kemuliaan bagi para Ahlul Badr sebagaimana dalam sebuah hadits:

جَاءَ جِبْرِيلُ إِلَى النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَقَالَ مَا تَعُدُّونَ أَهْلَ بَدْرٍ فِيكُمْ قَالَ مِنْ أَفْضَلِ الْمُسْلِمِينَ أَوْ كَلِمَةً نَحْوَهَا قَالَ وَكَذَلِكَ مَنْ شَهِدَ بَدْرًا مِنْ الْمَلَائِكَةِ

“Datang Malaikat Jibril pada Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam dan berkata: apa pendapat kalian tentang Ahlul Badr diantara kalian? Maka bersabda Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam: mereka adalah muslimin yang paling mulia (atau kalimat yg bermakna demikian), lalu berkata Jibril: demikian pula yg mengikuti perang Badr dari kelompok malaikat, mereka adalah malaikat yang terbaik.” (H.R. Bukhari)

Kemudian, saat perang Uhud meletus, ia pun kembali turut serta dalam kancah jihad di pertempuran tersebut.

Namun, sebelum kaum muslimin berangkan menyongsong perang Uhud yang penuh prahara, Abdullah bin Amr bin Haram sempat mendapatkan firasat atas kesyahidan dirinya. Dalam benaknya ia merasa kelak akan mejadi syuhada pertama di medan Uhud.

Suatu perasaan kuat meliputi  dirinya bahwa ia tak akan kembali. Hal itu sama sekali tak membuatnya sedih namun justru suka cita terpancar dari hatinya. Maka, ia pun memanggil anaknya, Jabir bin Abdullah yang juga sahabat Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam untuk menyampaikan wasiat.

اني لا أراي الا مقتولا في هذه الغزوة بل لعلي سأكون أول شهدائها من المسلمين، واني والله، لا أدع أحدا بعدي أحبّ اليّ منك بعد رسول الله صلى الله عليه وسلم وان عليّ دبنا، فاقض عني ديني، واستوص باخوتك خيرا

“Sesungguhnya ayahanda merasa yakin akan gugur dalam peperangan ini, bahkan mungkin akan menjadi syuhada pertama di kalangan kaum muslimin. Dan demi Allah, sungguh ayahanda tak rela sepeninggalku mencintai seorang pun diantaramu melebihi cintanya kepada Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam. Selain itu, sebetulnya ayahanda memiliki hutang, maka lunasilah hutangku dan wasiatkanlah kepada saudara-saudaramu agar mereka suka berbuat baik.”

Keesokan harinya, para mujahidin dari golongan Anshar dan Muhajirin berangkat menuju medan Uhud. Kafir Quraisy datang dengan pasukan besar dengan tujuan menyerang Madinah dan menghabisi kaum Muslimin.

Abdullah bin Amr bin Haram termasuk dalam limapuluh orang pemanah pimpinan Abdullah bin Zubair yang ditunjuk Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam untuk menjaga garis pertahanan di atas bukit. Pertempuran berlangsung dengan sengit, pasukan Quraisy dapat dipukul mundur dan mereka meninggalkan harta ghanimah yang terserak di medan pertempuran Uhud.

Para pemanah di atas bukit sebenarnya telah diminta Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam untuk tidak meninggalkan tempatnya, menang atau kalah, sampai diperintahkan oleh beliau sendiri. Tetapi sebagian besar dari mereka tergiur dengan barang-barang orang Quraisy yang berserakan tersebut, mereka meninggal pos pertahanan dengan menuruni bukit untuk mengambilnya.

Sang komandan pemanah, Abdullah bin Zubair berteriak mengingatkan pesan Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam tersebut, tetapi mereka mengabaikannya, tinggallah hanya sekitar sepuluh orang, termasuk Abdullah bin Amr bin Haram yang bertahan di atas bukit.

Benar saja, tak lama berselang, sekelompok pasukan berkuda Quraisy di bawah pimpinan Khalid bin Walid yang saat itu belum masuk Islam, menaiki bukit pertahanan tersebut, dan terjadilah pertempuran tidak seimbang dengan sepuluh sahabat yang tersisa.

Dalam pertempuran dahsyat ini, Abdullah bin Amr bin Haram bersama para sahabat lainnya berjibaku dengan gagah berani. Meski kondisi tak seimbang sama sekali tak menciutkan nyali para sahabat, mereka betempu dengan segala kemampuannya demi membela agama Allah. Maka, inilah pertempuran terakhir bagi Abdullah bin Amr bin Haram di mana ia meraih kesyahidan yang dirindukannya.

Seperti yang dialami para sahabat lainnya, jenazah Abdullah bin Amr dicincang kafir Qurays yang begitu mendendam untuk membalas kekalahannya dalam perang Badr terdahulu.

Sang anak, Jabir bin Abdullah dan sebagian keluarganya berdiri menangisi jenazah sang ayah yang amat mengenaskan.

جَابِر بْن عَبْدِ اللَّهِ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُمَا قَالَ : لَمَّا قُتِلَ أَبِي جَعَلْتُ أَكْشِفُ الثَّوْبَ عَنْ وَجْهِهِ أَبْكِي وَيَنْهَوْنِي عَنْهُ وَالنَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ لَا يَنْهَانِي فَجَعَلَتْ عَمَّتِي فَاطِمَةُ تَبْكِي فَقَالَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ تَبْكِينَ أَوْ لَا تَبْكِينَ مَا زَالَتْ الْمَلَائِكَةُ تُظِلُّهُ بِأَجْنِحَتِهَا حَتَّى رَفَعْتُمُوهُ

Jabir bin 'Abdullah radliallahu 'anha berkata: Ketika bapakku meninggal dunia aku menyingkap kain penutup wajahnya, maka aku menangis namun orang-orang melarangku menangis sedangkan Nabi shallallahu 'alaihi wasallam tidak melarangku. Hal ini membuat bibiku Fathimah ikut menangis. Maka Nabi shallallahu 'alaihi wasallam bersabda: "Dia menangis atau tidak menangis, malaikat senantiasa akan tetap menaunginya sampai kalian mengangkatnya". [H.R. Bukhari]

Demikianlah kemuliaan bagi Abdullah bin Amr bin Haram bersama para syuhada uhud lainnya, di mana para malaikat menaungi dengan sayapnya.

Bahkan bukan hanya itu, bahkan setelah wafatnya Abdullah bin Amr bin Haram, Rasulullah Shallallahu ‘alahi wa sallam menceritakan kegemarannya yang begitu cinta dengan mati syahid yang kemudian menjadi asbabun nuzul dari surat Ali Imran ayat 169-170:

سَمِعْتُ جَابِرَ بْنَ عَبْدِ اللَّهِ يَقُولُ :لَمَّا قُتِلَ عَبْدُ اللَّهِ بْنُ عَمْرِو بْنِ حَرَامٍ يَوْمَ أُحُدٍ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَا جَابِرُ أَلا أُخْبِرُكَ مَا قَالَ اللَّهُ عَزَّ وَجَلَّ لابِيكَ قُلْتُ بَلَى قَالَ مَا كَلَّمَ اللَّهُ أَحَدًا إِلَّا مِنْ وَرَاءِ حِجَابٍ وَكَلَّمَ أَبَاكَ كِفَاحًا فَقَالَ يَا عَبْدِي تَمَنَّ عَلَيَّ أُعْطِكَ قَالَ يَا رَبِّ تُحْيِينِي فَأُقْتَلُ فِيكَ ثَانِيَةً قَالَ إِنَّهُ سَبَقَ مِنِّي أَنَّهُمْ إِلَيْهَا لا يُرْجَعُونَ قَالَ يَا رَبِّ فَأَبْلِغْ مَنْ وَرَائِي فَأَنْزَلَ اللَّهُ عَزَّ وَجَلَّ هَذِهِ الايَةَ : وَلا تَحْسَبَنَّ الَّذِينَ قُتِلُوا فِي سَبِيلِ اللَّهِ أَمْوَاتًا

Aku mendengar Jabir bin Abdillah berkata; ketika Abdullah bin Amr bin Haram terbunuh pada perang Uhud Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda; wahai jabir maukah engkau aku kabarkan apa yang Allah ‘Azza wa Jalla firmankan kepada ayahmu? Aku menjawab; tentu ya Rasulullah, tidaklah Allah berbicara kepada seseorang pun kecuali dari balik hijab tapi Allah telah berbicara kepada ayahmu dengan bertatap muka, lalau Allah berfirman: 'Wahai Hambaku, memohonlah kepada-Ku, niscaya Aku akan memberimu, ' ia menjawab; 'Wahai Rabb, hidupkan aku kembali agar aku terbunuh di jalan-Mu untuk kedua kalinya.' Allah berfirman: 'Sesungguhnya telah berlalu dari-Ku bahwasanya mereka tidak akan kembali lagi ke sana, ' ia berkata; 'Wahai Rabb, kalau begitu sampaikanlah kepada orang yang berada di belakangku.'" Beliau bersabda: "Maka Allah Ta'ala menurunkan: "Janganlah kamu mengira bahwa orang-orang yang gugur di jalan Allah itu mati; bahkan mereka itu hidup di sisi Rabbnya dengan mendapat rizki." (H.R. Ibnu Majah, dihasankan oleh Syaikh Albani).

Subhanallah, dari kisah di atas sungguh penuh hikmah. Sebuah fenomena yang menakjubkan, bahwa pada dasarnya maut adalah sesuatu yang ghaib, tak ada yang mengetahuinya kecuali Allah Ta’ala. Namun begitu mulianya para syuhada, jika Allah menghendaki tentu pengetahuan tentang maut itu bisa saja dimasukkan dalam firasat para hambaNya. Inilah bukti kebenaran bagi mereka para mujahid yang jujur merindukan syahid fi sabilillah. Wallaahu a’lamu bishshawaab. [Ahmed Widad/dbs]
- See more at: http://www.voa-islam.com/read/mujahid/2012/08/11/20208/abdullah-bin-amr-syuhada-uhud-yang-berbicara-dengan-allah-tanpa-hijab/#sthash.RBwuBgVc.dpuf