Selasa, 24 Juli 2012

Apa Itu Kecerdasan Ketiga?

 Oleh: Prof. Dr. Nasaruddin Umar


Asumsi manusia sebagai homo sapiens atau al-hayawan al-nathiq (spesies yang berpikir) ternyata dianggap keliru. 

Visi baru para ilmuwan menemukan bukti bahwa porsi intelektualitas hanya merupakan bagian terkecil dari totalitas kecerdasan manusia. Kalangan ilmuwan menemukan tiga bentuk kecerdasan dalam diri manusia.

Seperti disosialisasikan Danah Zohar dan Ian Marshal, bahwa selain kecerdasan intelektual (intellectual quotient/IQ) dan kecerdasan emosional (emotional quotient/EQ), masih ada kecerdasan ketiga yang disebut dengan spiritual intelligence (selanjutnya dibaca SI), yang dipopulerkan Ary Ginanjar dengan istilah 'kecerdasan spiritual' atau spiritual quotient (SQ).

IQ ialah kecerdasan yang diperoleh melalui kreativitas akal yang berpusat di otak. EQ ialah kecerdasan yang diperoleh melalui kreativitas emosional yang berpusat di dalam jiwa dan SQ ialah kecerdasan yang diperoleh melalui kreativitas rohani yang mengambil lokus di sekitar wilayah roh.

Terlepas dari kontroversi dan validitas ilmiah ketiga kategori ini, untuk sementara di dalam tulisan ini akan ditekankan apa itu kecerdasan ketiga (SQ). Ketiga aktivitas kreatif di atas juga mengingatkan kita kepada tiga konsep struktur kepribadian Sigmund Freud (1856-1939), yaitu id, ego, dan superego.

Id adalah pembawaan sifat-sifat fisik-biologis seseorang sejak lahir. Id ini menjadi inspirator kedua struktur berikutnya. Ego bekerja dalam lingkup rasional dan berupaya menjinakkan keinginan agresif dari id. Ego berusaha mengatur hubungan antara keinginan subjektif individual dan tuntutan objektif realitas sosial.

Ego membantu seseorang keluar dari berbagai problem subjektif individual dan memelihara agar bertahan hidup (survival) dalam dunia realitas. Superego berfungsi sebagai aspek moral dalam kepribadian, berupaya mewujudkan kesempurnaan hidup, lebih dari sekadar mencari kesenangan dan kepuasan.

Superego juga selalu mengingatkan dan mengontrol Ego untuk senantiasa menjalankan fungsi kontrolnya terhadap id. (Hilary MLips, Sex & Gender: an Introduction, hlm 40).

Meskipun tidak identik, IQ dapat dihubungkan dengan id, ego dapat dihubungkan dengan EQ, dan superego dapat dihubungkan dengan SI. Pemilik IQ tinggi bukan jaminan untuk meraih kesuksesan. Seringkali ditemukan pemilik IQ tinggi tetapi gagal meraih sukses, sementara pemilik IQ pas-pasan meraih sukses luar biasa karena didukung oleh SI.

Mekanisme SI tidak berdiri sendiri dalam memberikan kontribusinya ke dalam diri manusia, tetapi intensitas dan efektivitasnya sangat dipengaruhi kecerdasan ketiga (SI).

SI sulit diperoleh tanpa kehadiran EQ dan EQ tidak dapat diperoleh tanpa IQ. Sinergi ketiganya disebut multiple intelligences yang bertujuan melahirkan pribadi utuh (al-insan al-kamil).

Untuk penyiapan sumber daya manusia (SDM) di masa depan, internalisasi ketiga bentuk kecerdasan ini tidak dapat ditawar lagi. Terutama di negeri kita yang generasi barunya sedang dilanda krisis karakter dan pembentukan jati diri. Di dalam Alquran, ketiga bentuk kecerdasan ini tidak dijelaskan secara terperinci.

Namun, masih perlu dikaji lebih mendalam beberapa kata kunci yang berhubungan dengan ketiga pusat kecerdasan yang dihubungkan dengan ketiga substansi manusia, yaitu unsur jasad yang membutuhkan IQ, unsur nafsani yang membutuhkan EQ, dan unsur roh yang membutuhkan SI.

Substansi manusia dalam Alquran

Substansi manusia dalam Alquran mempunyai tiga unsur, yaitu unsur jasmani, nafsani, dan unsur rohani. Keterangan seperti ini dapat dipahami di dalam beberapa ayat, antara lain, QS Al-Mu'min ayat 12-14:

"Dan sesungguhnya Kami telah menciptakan manusia dari suatu saripati (berasal) dari tanah. Kemudian, Kami jadikan saripati itu air mani (yang disimpan) dalam tempat yang kokoh (rahim). Kemudian air mani itu Kami jadikan segumpal darah, lalu segumpal darah itu Kami jadikan segumpal daging, dan segumpal daging itu Kami jadikan tulang belulang, lalu tulang belulang itu Kami bungkus dengan daging. Kemudian, Kami jadikan dia makhluk (berbentuk) lain. Maha Suci Allah, Pencipta Yang Paling Baik."
Kata khalqan akhar mengundang banyak penafsiran dalam kitab-kitab tafsir sehingga penerjemahannya juga sulit. Kementerian Agama menerjemahkannya dengan 'makhluk yang (berbentuk) lain'. Kata ini juga sering dipahami sebagai unsur ketiga atau unsur paling spektakuler pada diri manusia.

Sebagian ulama tafsir menafsirkannya dengan peniupan (installing) roh setelah unsur jasad dan nyawa (nafsani). Sama dengan nenek moyang kita Adam telah di-install roh ke dalam dirinya. Hal ini sesuai dengan riwayat Ibnu Abbas yang menafsirkan kata ansya'nahu dengan ja'ala insya' al-ruhu fihi (penciptaan roh ke dalam diri Adam).
 Unsur ketiga ini kemudian disebut unsur rohani atau lahut atau malakut, yang menjadikan manusia berbeda dengan makhluk biologis lainnya.

Unsur ketiga ini merupakan proses terakhir dan sekaligus merupakan penyempurnaan substansi manusia sebagaimana ditegaskan di dalam beberapa ayat, seperti dalam QS. Al-Hijr: 28-29.

"Dan (ingatlah), ketika Tuhanmu berfirman kepada para malaikat, sesungguhnya Aku akan menciptakan seorang manusia dari tanah liat kering (yang berasal) dari lumpur hitam yang diberi bentuk. Maka, apabila Aku telah menyempurnakan kejadiannya dan telah meniupkan kepadanya ruh (ciptaan)-Ku, tunduklah kalian kepadanya dengan bersujud."
Dalam kitab-kitab tafsir Syiah dan umumnya para sufi secara terus terang mengatakan bahwa roh yang ada di dalam diri Adam, 'wa nafakhtu fihi min ruhi  atau 'kutiupkan kepadanya roh (ciptaan) Ku' (QS. Al-Hijr: 29), yaitu roh dari Tuhan.

Karena itu, setelah penciptaan unsur ketiga ini selesai, para makhluk lain termasuk para malaikat dan jin bersujud kepadanya dan alam raya pun ditundukkan (taskhir) kepada Adam. Unsur ketiga ini pulalah yang mendukung kapasitas manusia sebagai khalifah (representatif) Tuhan di bumi (QS. Al-An'am: 165) di samping sebagai hamba (QS. Az-Zariyat: 56).

Meskipun memiliki unsur ketiga, manusia akan tetap menjadi satu-satunya makhluk eksistensialis karena hanya makhluk ini yang bisa turun-naik derajatnya di sisi Tuhan. Sekalipun manusia ciptaan terbaik atau ahsan taqwim (QS. At-Tin: 4), ia tidak mustahil akan turun ke derajat paling rendah atau asfala safilin (QS. At-Tin: 5), bahkan bisa lebih rendah daripada binatang (QS. Al-A'raf: 179).

Eksistensi kesempurnaan manusia dapat dicapai manakala ia mampu menyinergikan secara seimbang potensi kecerdasan yang dimilikinya, yaitu kecerdasan unsur jasad (IQ), kecerdasan nafsani (EQ), dan kecerdasan ruhani (SI).

SI sebagai kecerdasan ketiga

Penyebutan ketiga di sini bukan berarti the third level sehingga urgensinya sekunder. Akan tetapi, penyebutan kecerdasan ketiga sebagai kecerdasan puncak. Kecerdasan spiritual menjadi salah satu wacana yang mulai mencuat akhir-akhir ini. Wacana ini muncul seolah-olah kelanjutan dari wacana yang pernah dipopulerkan oleh Daniel Goleman dengan Emotional Intelligence-nya.

Kini sudah mulai bermunculan karya-karya baru tentang kecerdasan ketiga ini dengan metode pembahasan yang berbeda-beda. Yang lebih menarik lagi karena buku-buku ini muncul di dunia Barat. Apakah ini pertanda bahwa Barat kini sudah mulai melakukan reorientasi pandangan hidup atau karena sedang terjadi suatu krisis di Barat?

Kalangan ilmuwan kini semakin sadar betapa pentingnya manusia kembali berpaling untuk memahami dirinya sendiri lebih mendalam.

Sebab, hanya dengan mengandalkan kecerdasan intelektual manusia tidak akan sampai kepada martabat yang ideal. Atas dasar inilah, Danah Zohar dan Ian Marshal menerbitkan satu buku yang amat menarik, yang diberi judul SQ Spiritual Intelligence: The Ultimate Intelligence.

Buku ini diawali dengan tinjauan secara kritis kelemahan-kelemahan dunia Barat dalam kurun waktu terakhir ini karena mengabaikan faktor kecerdasan spiritual ini. Sebaliknya, buku ini memberikan apresiasi yang sangat positif terhadap nilai-nilai humanisme ketimuran yang dikatakannya lebih konstruktif daripada nilai-nilai humanisme yang hidup di Barat.

Kecerdasan spiritual dalam Islam sesungguhnya bukan pembahasan yang baru. Bahkan, masalah ini sudah lama diwacanakan oleh para sufi. Kecerdasan spiritual (SI) berkaitan langsung dengan unsur ketiga manusia.

Seperti telah dijelaskan terdahulu bahwa manusia mempunyai substansi ketiga yang disebut dengan roh. Keberadaan roh dalam diri manusia merupakan intervensi langsung Allah SWT tanpa melibatkan pihak-pihak lain sebagaimana halnya proses penciptaan lainnya.

Kehadiran roh atau unsur ketiga pada diri seseorang memungkinkannya untuk mengakses kecerdasan spiritual, yang dalam artikel-artikel lalu sering disebut dengan mukasyafah. Namun, upaya untuk mencapai kecerdasan itu tidak sama bagi setiap orang.

Seorang Nabi atau wali tentu lebih berpotensi mendapatkan kecerdasan ini, karena ia diberikan kekhususan-kekhususan yang lebih dibanding orang lain. Namun, tidak berarti manusia biasa tidak bisa mendapatkan kecerdasan ini.
 
Sumber:
http://www.republika.co.id/berita/dunia-islam/tasawuf/12/06/04/m534hz-apa-itu-kecerdasan-ketiga-1
http://www.republika.co.id/berita/dunia-islam/tasawuf/12/06/04/m537c1-apa-itu-kecerdasan-ketiga-2
http://www.republika.co.id/berita/dunia-islam/tasawuf/12/06/04/m53c77-apa-itu-kecerdasan-ketiga-3
http://www.republika.co.id/berita/dunia-islam/tasawuf/12/06/04/m53izu-apa-itu-kecerdasan-ketiga-4habis

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar