Sabtu, 05 Januari 2013

Jadi Pengurus NU itu Tidak Mudah

Prof. DR. H. Imam Suprayogo


         Oleh: Prof. DR. H. Imam Suprayogo   



  Rektor UIN Maulana  Malik Ibrahim Malang
 
Pada hari Ahad tanggal 30 Desember yang lalu, saya diminta berceramah di hadapan para pengurus NU Batu dalam rangka Muskercab. Sekalipun permintaan itu  agak mendadak, saya hadiri. Apalagi kegiatan itu  mengambil tempat di Gedung Pascasarjana UIN Maliki Malang, sehingga rasanya tidak  ada alasan tidak hadir, sekalipun agak cepek, karena pada saat itu  baru saja datang dari  Manado.  
 
Dalam ceramah itu, saya katakan bahwa,  saya memahami NU dari ayah dan ibu saya sendiri. Kebetulan semasa masih hidup, ayah saya menjadi pengurus NU,  dan begitu pula ibu saya  juga menjadi pengurus muslimat. Ayah dan ibu saya sendiri, lewat kehidupan sehari-hari, mengajari saya tentang NU.
 
Ayah saya sangat mencinta NU, para kyai, dan pesantren. Saya jelaskan bahwa, sedemikian ayah mencintai  Kyai Hasyim  dan Kyai Wahab,  sehingga umpama gambar beliau  yang dipasang didinding rumah, posisinya  tidak tampak tepat  dan tidak segera saya betulkan, maka saya akan ditegur keras. Gambar kyai, menurut ayah,  harus dihormati dan tidak boleh diletakkan di sembarang tempat.
 
Sekalipun ayah saya pimpinan NU, ------yang saya heran, selalu menjelaskan bahwa menjadi NU dan apalagi sebagai pengurus,  dikatakan tidak mudah. Beliau selalu berpesan, kalau memang tidak kuat, maka jangan mau menjadi pengurus NU.  Menjadi pengurus NU itu berat. Ayah saya selalu menjelaskan bahwa,  menjadi NU itu adalah sama artinya dengan menjadi pejuang.  Yaitu berjuang untuk beramar makruf nahi mungkar.
 
Kata ayah saya, berjuang itu tidak mudah, oleh karena tidak akan mendapat untung dan bahkan harus berkorban. Orang yang  mengatakan bahwa dirinya sedang berjuang, namun tidak mau berkorban  dan apalagi berharap mendapat untung, ------kata ayah saya, sebenarnya itu bukan pejuang, melainkan hanya sekedar sebagai broker. Ayah tidak menyebutnya sebagai broker, melainkan sebagai makelar.
 
Menjadi pengurus NU, kata ayah saya adalah berat oleh karena hal-hal sebagai berikut. Pertama,  menjadi pengurus NU harus mau urunan untuk  biaya menggerakkan organisasi. NU ketika itu tidak memiliki sumber biaya. Satu-satunya pendapatan adalah dari sumbangan pengurus sendiri. Bahkan ayah saya pernah mangatakan, manakala  pengurus NU  itu berkumpul, maka harus bersedia menyerahkan uang  yang ada di sakunya masing-masing  kepada bendahara. Maka, kata ayah saya menjadi pengurus NU itu memang berat.
  
Kedua, pengurus NU itu harus selalu shalat berjama’ah di masjid, terutama pada sholat maghrib, isya, dan subuh. Pada sholat dhuhur dan asyar, umpama tidak tampak di masjid bisa dipahami  tidak mengapa,  oleh karena masih sedang di kebun atau di tempat kerja lainnya. Akan tetapi pada saat sholat subuh, mereka  tidak ada alasan meninggalkan sholat berjama’ah. Maka, berat betul menjadi pengurus NU.     
 
Ketiga, pengurus NU harus bersedia untuk menghadiri  dan sanggup menjadi penceramah pada acara-acara pengajian. Pada umumnya di pedesaan, -------ketika itu, penceramah tidak pernah diberi imbalan. Apapun keadaannya, sebagai pengurus NU, tatkala diundang pengajian maka harus datang. Itulah bagian penting  dari pekerjaan dakwah dalam rangka melakukan pembinaan kepada umat, ialah umat NU.    
 
Keempat, pengurus NU harus peduli terhadap orang-orang yang mengalami kekurangan dan apalagi menderita. Anak yatim dan orang miskin harus dipikirkan cara menyantuninya. Kata ayah saya, tidak harus berbagai persoalan itu  berhasil  diselesaikan. Akan tetapi, bahwa sebagai pengurus NU harus selalu tanggap terhadap berbagai persoalan kehidupan itu.
 
Saya masih ingat, ketika masih kecil, bertempat tinggal di desa,  sekalipun anak ayah saya cukup banyak, beban hidup itu masih harus ditambah dengan beberapa anak yatim yang ditampung di rumah.  Bukan itu saja,  ayah juga bersedia dititipi agar merawat orang gila. Semasa saya masih kecil, selalu saja ada orang yang sakit ingatan dititipkan oleh keluarganya  di rumah ayah saya. 
 
Pesan ayah yang masih selalu saya ingat bahwa,  dalam hidup ini harus mau menolong orang lain. Akan tetapi jangan berharap, setiap orang yang ditolong itu akan bersyukur atau berterima kasih. Manakala ingin mendapatkan balasan, sekedar  ucapan terima kasih yang tulus, maka pilihlah menolong orang yang memang benar-benar memerlukan pertolongan, misalnya menampung saudara atau  keluarga seseorang  yang  gila. Mereka pasti berterima akasih, agar keluarganya  yang berpenyakit gila tersebut tidak dikembalikan.
 
Tugas sebagai pengurus NU yang sedemikian berat itu, masih ditambah lagi dengan keharusan mengaji kitab tertentu kepada jama’ahnya pada setiap saat. Itulah yang saya sampaikan dalam ceramah di hadapan para Muskercab NU yang dihadiri oleh segenap pengurusnya. Oleh karena itu, saya katakan, kalau tidak kuat dan serius, maka tidak perlu menjadi pengurus NU. 
Tugas, beban,  dan tanggung jawab pengurus NU itu  berat, tetapi memang mulia. Manakala amanah itu bisa ditunaikan, insya Allah,  bisa dijadikan bekal hidup,  baik di dunia maupun di akherat. Wallahu a’lam
Sumber:http://www.uin-malang.ac.id/index.php?option=com_content&view=article&id=3595:berceramah-di-muskercab-nu-batu&catid=25:artikel-rektor

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar