Kamis, 14 Februari 2013

Seminar Internasional di Kampus UIN Sunan Kalijaga. Maqosid Asy-syari’ah: Islam Mempunyai 8 dan 6 Pasangan Tepi, yang Bila Disatukan akan Membawa Kebahagiaan Hakiki



 
Jaser Audah mengatakan, dalam Islam ada 8 dan 6 pasangan tepi, yang apabila disatukan,akan membawa kejayaan umat Islam dan kebahagiaan dunia dan akherat. Dahulu, saat kaum Muslim perpegang teguh pada Ke-Islaman secara arif dan konsisten, kedelapan pasangan tepi itu tidak pernah menjauh. Akan tetapi, seiring waktu, terjadi degradasi dan kemerosotan paham dan terapan Islam, ke-8 pasangan tepi itu terlihat menjauh dan memunculkan jurang-jurang yang mengenaskan.

Ke-8 pasangan tepi yang semakin berjauhan itu sebenarnya adalah 8 gap antara yang diharapkan dan yang ada, menyangkut pengembangan keilmuan oleh umat manusia dan penerapannya di tengah-tengah kehidupan.

Hal tersebut disampaikan Sarjana Teknik berkebangsaan Mesir, yang konsen terhadap studi  ke-Islaman ini, di hadapan ratusan civitas akademika UIN Sunan Kalijaga dalan Seminar Internasional bertajuk  “Shaping Islamic Tomorrow Today Maqasid Perspective Towards A New Paradigm of Islamic Research,” di Convention Hall kampus UIN Sunan Kalijaga, Kamis, 17 Januari 2013. Hadir juga menjadi pembicara Prof. Dr. H.M. Amin Abdullah (Guru Besar UIN Sunan Kalijaga) dan Dekan Fakultas  Syariah dan Hukum UIN Sunan Kalijaga (Noorhaidi Hasan, Ph.D).

Lebih lanjut Jaser Audah memaparkan, 8 pasangan tepi itu, dan bagaimana menjembatani agar bersatu kembali. Yakni : 1. Antara World View Islami  dan World View Ilmiah. Islam yang dibawa Rosul Muhammad SAW lahir sebagai world view (pandangan hidup) ilmiah, sistematis dan konsekuen. Wahyu pertama Kitab Al Qur’an menyeru kepada manusia untuk Iqra’. Menyeru untuk mengumpulkan tanda-tanda wujud dari berbagai arah dan disiplin ilmu. Manusia diarahkan untuk mengumpulkan alamah menjadi satu kesatuan al-‘ilm (ilmu). Manusia diarahkan untuk mengumpulkan tanda-tanda kebesaran Allah dari ilmu janin, ilmu pendidikan, ilmu psikologi, ilmu ilmu yang lainnya... dan ilmu agama. Dengan akalnya pula manusia diarahkan untuk mengiat-kaitkan berbagai ilmu untuk menemukan hakekat ketauhidan Allah. Jika manusia dapat menemukan hakekat ketauhidan Allah melalui akal dan ilmunya akan bisa membawa kemuliaan akhlak. Seperti yang pernah dicapai kaum Muslim saat peradaban Islam berjaya dulu. 2. Pasangan tepi antar disiplin (ilmu).  Menurut Jaser Audah, jurang-jurang antar disiplin ilmu, bila tidak diperjuangkan untuk diinterkoneksikan kembali akan menghalangi tugas-tugas luhur manusia sebagai khalifah. 3. Pasangan tepi antara Drives dan Discipline.  Islam selalyu mengajak  untuk aktif mendialogkan antara fikih dengan lingkungan, agar memberi manfaat melalui memerakarsai kebaikan (amr bi al – ma’ruf) mencegah keburukan (Nahy ‘an al- munkar). 4. Pasangan tepi antara Penulis dan Pembaca. Sepanjang sejarah peradaban emas Islami, warga yang berakal, berilmu, memiliki integritas, diandalkan untuk melestarikan kehidupan beragama dan bermasyarakat yang Madani, tidak hanya bergantung pada aturan hukum saja, apalagi hukum pidana. 5. Pasangan tepi antar Mazhab Islami. Penerapan syari’at Islam pada tingkatan yang lebih tinggi, yakni filsafat dan akhlak, akan terbukti melarutkan kekakuan antar mazhab, karena dari hasil penelitian, kata Jaser, terbukti bahwa kekakuan itu adalah hasil dari perselisihan politik sepanjang sejarah Islami. 6. Pasangan tepi antara Manusia Muslim dan masa lalunya. Menurut Jaser, umat Muslim hendaknya memiliki komitmen untuk membangun atas warisan keilmuan Islami, namun tetap kritis terhadap warisan yang bertentangan dengan komitmen dasar yang berwawasan ilmiah, sistematis dan konsekuen. 7. Pasangan tepi antara umat Muslim dan manusia dunia. Jaser Audah berupaya menyatukan umat Muslim dan manusia dunia berdasar komitmen bahwa semua manusia memimpikan kesejahteraan, kedamaian dan kelestarian lingkungan. 8. Pasangan tepi antara Citra dan cerita Intelektual Muslim. Melalui keaktifannya dalam berbagai organisasi dunia,  melakukan berbagai penelitian, menulis berbagai karya buku, melakukan berbagai pengamalan hasil ijtihad intelektualnya, Jaser Audah mengajak semua umat Muslim untuk giat melakukan sesuatu dan berkarya dengan segala kesederhanaan, keterbukaan untuk dikritik, kemurahan, kerendahan hati serta hormat pada ulama, agar citra dan cerita intelektual Muslim bersambut.

Sementara 6 pasangan tepi yang menunggu setiap umat Muslim untuk mendekatkannya/menyatukannya adalah : 1. Pasangan tepi antara Sang Khalik dengan Hambanya, 2. Pasangan tepi antara Manusia dengan Lingkungan alamnya, 3. Pasangan tepi antara Warga Negara dan Pemerintahnya, 4. Pasangan tepi antara dua belahan kemanusiaan Lelai dan Perempuan, 5. Pasangan tepi antara Aktivisme Islami dan Aktivisme Gerakan Islami Humanis, 6. Pasangan tepi antara Haves dan Have-nots dalam bingkai al Maqasid, deminian jelas Jaser Audah.

Sementara, apa  yang dipaparkan Jaser Audah tersebut sudah terangkum dalam salah satu buku karya Jaser Audah yang diterjemahkan oleh ‘Ali Abdelmon ‘im dalam bahasa Indonesia dan diterbitkan oleh Penerbit Suka Press UIN Sunan Kalijaga, dengan judul “Al-Maqasid untuk Pemula. Buku tersebut dilaunching di sela-sela seminar.

Prof. Amin Abdullah, yang hadir menjadi pembicara pada forum tersebut antara lain menyampaikan, Jaser Audah adalah seorang Sarjana Teknik  yang belajar secara klasik tentang ilmu-ilmu agama di Masjid Jami’al Azhar. Ia memperoleh gelar Sarjana Ilmu Syari’ah, diikuti  gelar S2 dan S3 Studi Islam dari perguruan tinggi Barat. Ia juga memperoleh gelar S3 tentang kesisteman dari perguruan tinggi di Kanada. Dari perjalanan keilmuan dan aktivitas intelektualnya, telah terlahir banyak sumbangan pemikiran yang signifikan terhadap pengembangan studi ke-Islaman multi-disipliner sebagai upaya awal untuk memecahkan persoalan intelektual dan sosial-keberagamaan Islam era kekinian yang semakin hari semakin kompleks.

Dalam upaya transformasi institusi dan akademik perguruan tinggi agama Islam di Indonesia, yang sudah berjalan 10 tahun terakhir ini, karya-karya Jaser Audah seperti Maqasid al-Syariah:  as Philiosophy of Islamic Law: A Systems  Approach,  dan karya-karyanya yang lain, memiliki tingkat relevansi dan signifikansi yang tinggi dalam upaya untuk mengukuhkan orientasi integrasi-interkoneksi keilmuan, serta sinergi riset ilmiah untuk mengembangkan wawasan keilmuan ke-Islaman yang akan berdampak pada kebijakan pembangunan bidang keagamaan di tanah air dan dunia Islam pada umumnya, kata Amin Abdullah. 

Sumber:http://www.uin-suka.ac.id/berita/dberita/687


Tidak ada komentar:

Poskan Komentar