Senin, 12 November 2012

Kepahlawanan Kaum Santri

Proyektor Mini
Resolusi Jihad

Hanya sedikit sejarawan yang menuliskan kisah perjuangan para ulama dan kaum santri dalam merebut kemerdekaan dan mendirikan Negara Kesatuan Republik Indonesia. Tidak banyak bukti sejarah yang mencatat keterlibatan kaum santri. Kisah perjuangan para santri hanya tersebar secara lisan dari generasi ke generasi.

Di sisi lain, sejarah konvensional lebih sering menulis kisah-kisah heroik yang bertumpu pada kepahlawanan seorang raja, panglima perang, tentara profesional, orator ulung, atau pemimpin diplomasi. Perjuangan yang melibatkan rakyat banyak hanya ditulis di sela-sela kisah kebesaran satu dua tokoh.

Hal lain lagi, sejarah konvensional bertumpu pada catatan-catatan sejarah yang ditulis oleh para pelaku. Sementara para ulama dan kaum santri tidak biasa dan tidak sempat membuat memoar atau semacamnya. Mereka berjuang sebagai bagian dari panggilan tugas. Setelah berjuang, mereka yang masih hidup kembali menjalankan aktifitas sehari hari di pesantren, di masjid, di masyarakat.

Wajar jika generasi penerus para ulama dan kaum santri yang telah berbaur dengan berbagai kalangan pun merasa gelisah, karena para pendahulu mereka tidak dinyatakan secara formal sebagai orang-orang yang telah berjuang. Perjuangan para pendahulu mereka hanya dikisahkan secara lisan dan diyakini oleh kalangan internal.

Maka upaya-upaya kaum muda NU untuk menggali berbagai sumber, dokumen, dan bukti sejarah mengenai kisah perjuangan kaum pesantren dalam merebut kemerdekaan Indonesia adalah langkah strategis. Dokumen Resolusi Jihad KH Hasyim Asy’ari hanyalah bukti yang diam, yang perlu digerakkan untuk melacak sejauh mana keterlibatan kaum santri dalam perjuangan kemerdekaan.

Terkait peristiwa November 1945, belakangan baru diketahui bahwa Cak Asy’ari yang menyobek warna biru dalam bendera merah putih biru di depan hotel Yamato sebelum terjadi pertempuran besar-besaran di Surabaya adalah seorang kader Ansor NU. Ada juga kisah mengenai pergerakan massa dari pesantren di kawasan Mataraman ke Surabaya, bahkan dari pesantren nun jauh di Cirebon. Ada juga kisah-kisah mengenai aktivitas para santri menyiapkan makanan di barak-barak para pejuang.

Wakil Sekjen PBNU Abdul Munim DZ mengungkapkan, KH Hasyim Asy’ari adalah tokoh muslim paling disegani semenjak kehadiran Jepang. Ada sebutan "Kiai No 1 dari pemerintah Jepang. Setelah dipenjara Kiai Hasyim malah dipercaya memimpin dua organisasi tingkat nasional, yakni Sumubu dan Masyumi. Kiai Hasyim juga mempunyai komando langsung kepada pasukan Hizbullah, Sabilillah, dan barisan kiai yang telah mendapatkan pendidikan militer dari Jepang dan bahkan mendapatkan lucutan senjata dari Jepang. Sangat aneh ketika nama KH Hasyim Asy’ari tidak disebut dalam catatan sejarah formal.

Jika mundur ke belakang, keterlibatan kaum santri akan selalu tampak dalam setiap gerakan konfrontasi dengan penjajah. Pelatihan-pelatihan militer untuk para pejuang dilakukan di pesantren-pesantren yang berada di pelosok desa. Jaringan tarekat dan santri kelana menjadi penyampai informasi dan propaganda dari satu tempat ke tempat lain.

PBNU mengapresiasi para sejarawan, peneliti dan sastrawan muda NU mulai gemar menulis kisah-kisah dari kalangan kaum santri sendiri. Siapa lagi yang menulis kalau bukan kita sendiri? Tidak perlu berharap kepada orang lain, karena bagi orang lain kaum santri mungkin tidak menarik untuk ditulis.

Ketua Umum PBNU KH Said Aqil Siroj sering mengingatkan bahwa menulis merupakan bagian dari dakwah. Istilah fikih dakwah dalam khasanah pesantren sering diterjemahkan secara lugas dengan fikih marketing. Ia mengingatkan, kaum santri dan kalangan NU masih perlu belajar banyak dan istiqomah dalam menekuni bidang ini. (A. Khoirul Anam)


Sumber: http://www.nu.or.id/a,public-m,dinamic-s,detail-ids,3-id,40744-lang,id-c,analisa+berita-t,Kepahlawanan+Kaum+Santri-.phpx

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar