Rabu, 10 Juli 2013

Air "Disulap" jadi Bensin

Oleh: Puji Untoro, Ph.D.


Bisa enggak ya air dialih fungsi jadi bahan bakar pengganti bensin atau solar? Untuk menjawab pertanyaan ini,  mestinya kita pahami dulu beberapa hal yang berkaitan dengan itu. Mulai dari ilmu fisikanya sampai penelitian kedepannya, seperti ditulis Puji Untoro, Ph.D. berikut ini.

Pastinya banyak pertanyaan yang muncul seputar ini. Misalnya, kenapa implementasinya juga belum dapat kita rasakan sampai sekarang, padahal bisa menjadi potensi bisnis yang luar biasa. Sejauh ini, berbagai penelitian udah dilakukan. Tapi emang masih sulit diprediksikan kalo air bisa digunakan sebagai pengganti BBM. Masih sulit diterima nalar sebagian besar orang. Meski begitu, belum lama ini di Pakistan telah diluncurkan mobil yang dijalankan dengan bahan  bakar yang diproses dari air.


Secara keilmuan, air sebenarnya nggak bisa dijadikan sumber energi, tetapi dapat digunakan sebagai pembawa energi. Yakni setelah diproses menjadi gas hidrogen. Gas hidrogen dapat diproduksi dari proses elektrolisa air. Karena itu arah perkembangan risetnya sendiri nggak ubahnya kayak pisau bermata dua. Mata yang satu tertuju pada kelompok konvensional yang ingin mempertahankan eksistensi teknologi saat ini, yaitu BBM. Kelompok kedua, yang idealis, ingin mengembangkan mobil berbahan bakar air, meskipun masih banyak kendala secara teknis maupun politis


Kelompok kedua ini dimotori oleh Professor Stanley Mayer. Dia  telah mengorbankan nyawanya untuk cita-cita sebagai seorang idealis, karena dimusuhi berbagai  kepentingan. Stanley Mayer ditemukan meninggal secara mendadak di sebuah rumah makan. Diduga dia meninggal karena diracun. Kematiannya meninggalkan tanda tanya mengapa Stanley Mayer harus diracun? Tapi jangan lupa, Stanley Mayer telah membuat prototipe sebuah mobil yang berbahan bakar air dan siap digunakan. Andaikan mobil itu berhasil dimunculkan, diyakini akan menimbulkan gejolak sangat besar, yang akan menghancurkan industri otomotif dan mengganggu kepentingan para pedagang minyak dunia yang dikuasai pemain besar.


Riset Bahan Bakar Alternatif
Meskipun ada berita yang menghebohkan setelah kematian Mayers, namun penelitian dan pengembangan bahan bakar alternatif terus dilakukan. Center for Innovation and Certification (CIC) – SURE Indonesia – Surya University misalnya mencoba melakukan pengembangan teknologi itu. Yakni dengan menggunakan  bioetanol kadar rendah (80%). Bahan bakar ini mengandung air 20% dan tidak dapat digunakan secara langsung untuk menjalankan generator atau mesin kendaraan bermotor.


Tapi inovasi sebuah reaktor telah dilakukan untuk memproses bioetanol itu menjadi bahan bakar gas. Reaktor akan memanfaatkan panas gas buang dari mesin yang diubah menjadi aliran puting beliung. Hal ini akan menghasilkan plasma untuk merubah bioetanol kadar rendah menjadi bahan bakar alternatif.        


Hasil penelitian ini sementara digunakan untuk pengembangan energi mandiri sebagai solusi total pelistrikan di daerah tertinggal. Dan ke depan nggak tertutup kemungkinan penggunaannya untuk kendaraan bermotor.


Air Sebagai Bahan Bakar
Air merupakan bentuk molekul sangat sederhana yang terdiri dari elemen H dan O yang membentuk H2O menjadi sebuah zat yang sangat unik baik dalam bentuk maupun sifatnya. Dalam bentuk gas H2 dan O2 akan dapat direaksikan kembali melalui suatu membran padat menjadi air dengan kelebihan elektronnya dapat dimanfaatkan sebagai sumber energi melalui sel bahan bahan bakar (fuel cell).


Walaupun sel bahan bakar udah ada, tapi produksi gas hidrogen yang murah masih terus diteliti oleh banyak pakar di berbagai belahan dunia. Idealisme Mayer memang beralasan karena melalui resonansi frekuensi yang tepat untuk melepaskaan ikatan atom H dan O, maka akan dihasilkan gas HHO yang bisa dibakar secara langsung untuk dimanfaatkan energinya.


Persoalannya secara teknis bagaimana bisa membuat proses elektrolisanya seekonomis mungkin. Misalnya biar sebanding dengan pemakaian gas (keluaran), yang dibutuhkan untuk menggerakkan mobil. Di samping itu harus dipikirkan juga gimana caranya menyimpan gas tersebut, sehingga dapat digunakan dalam proses kontinu selama mobil dijalankan.


Persoalan lain yang terkait dengan keselamatan penumpang merupakan persoalan besar yang masih harus dijawab oleh para peneliti saat ini sehingga dapat langsung diimplementasikan sebagai sistem utuh yang aman sebuah mobil berbahan bakar air.


Sebuah idealisme tentunya akan dapat direalisasikan di lapangan bila semua “stake holder“ dilibatkan dalam suatu program sinergi yang menguntungkan semua pihak. Bila ada pihak yang merasa dirugikan, implementasi teknologi baru akan tidak lancar dan mulus. Bukan mustahil akan terus terjadi lagi tragedi kayak yang dialami Stanley Mayer, akibat adanya benturan kepentingan yang merugikan pihak tertentu. (Pudji Untoro,Ph.D. Direktur Center for Innovation and Certification (CIC) – SURE Indonesia – Surya University)


* Artikel ini dipublikasikan di Majalah i-Tech edisi perdana.

Sumber:
http://surya.ac.id/research/news-detail.php?id=5&title=Air.%22Disulap%22.jadi.Bensin

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar