Senin, 15 Juli 2013

Mualaf Tumbuh Pesat di Kopenhagen


Reuters
Denmark
Denmark

REPUBLIKA.CO.ID, Masih teringat jelas peristiwa September 2005 lalu ketika sebuah surat kabar Denmark, Jyllands-Posten, melakukan penistaan terhadap Rasulullah. Mereka menerbitkan 12 karikatur Nabi Muhammad sehingga memicu kemarahan Muslimin sedunia. 

Umat Islam pun geram dan segera memboikot surat kabar tersebut, bahkan menyeret awak redaksinya ke meja hijau. Kebebasan berekspresi menjadi alasan Barat untuk bebas memublikasikan penistaan Islam dan penghinaan terhadap utusan Allah yang mulia.

Namun, siapa sangka Islam justru makin menggeliat di Denmark pascapenistaan tersebut, khususnya di Ibu Kota Denmark, Kopenhagen. 

Warga justru menjadi penasaran hal ihwal Islam. Lalu, setelah mengenal agama rahmatan lil alamin ini dengan baik maka siapa yang tak terpesona dan jatuh hati?

Penelitian Universitas Kopenhagen menyatakan, penistaan terhadap Islam melalui kartun Rasulullah justru menyebabkan ketertarikan masyarakat Barat kepada Islam. 

Bukan kebencian yang berbuah dari aksi anti-Islam tersebut, melainkan justru banyak yang jatuh hati dan memeluk agama yang dibawa Nabi Muhammad ini. 

Hasil penelitian menunjukkan, jumlah mualaf meningkat pascadipublikasikannya kartun Rasulullah. Namun sayangnya, laporan penelitian ini dirahasiakan oleh Pemerintah Denmark.

Berbeda secara nasional, Kopenhagen menjadi kawasan yang paling pesat dalam perkembangan Islam. Dalam sebuah studi Open Society Foundation juga mengungkapkan, integrasi Muslim sebagai kelompok minoritas lebih baik di Kota Kopenhagen dibanding secara nasional Denmark. 

Pada hal pencitraan media, misalnya. Studi tersebut menyebutkan, media nasional bersikap negatif pada Islam, namun media lokal Kopenhagen justru amat adil dalam mengabarkan Islam. Kopenhagen juga termasuk satu dari sebelas kota Eropa yang membentuk komunitas Muslim dengan hidup baik.

“Kota ini telah mengadopsi keragaman yang komprehensif serta kebijakan inklusi dalam menanggapi kebutuhan dan keprihatinan penduduknya, di samping undang-undang integrasi di tingkat nasional,'' jelas hasil penelitian itu. 

Sementara, pelajaran penting yang dapat dipelajari dari Kopenhagen, ada ruang untuk belajar dari kota-kota Eropa lain dan melakukan pendekatan kepada mereka untuk mengelola populasi yang semakin beragam,” tambah laporan hasil studi tersebut dalam web resmi Open Society Foundation.
 
Adapun jumlah Muslimin di Kopenhagen tak terdata jelas. Pasalnya, Denmark menerapkan aturan tak adanya legitimasi agama dalam identitas warga negara. Namun, berdasarkan PEW FORUM, jumlah Muslimin Denmark hanya sekitar 88 ribu jiwa.

Sedangkan, menurut Copenhagen Post, 180 ribu Muslim tinggal di Denmark. Pun, berdasarkan data dari departemen imigrasi yang menyebutkan Muslimin di Denmark berkisar 175 ribu hingga 200 ribu jiwa atau sekitar 3,7 persen dari total penduduk. 

Sebagian besar jumlah tersebut merupakan imigran. Dan, hampir setengah di antaranya tinggal di Kopenhagen. Muslimin di Kopenhagen dapat hidup dengan nyaman. Dakwah Islam menggeliat di kota metropolitan tersebut. 

Survei terakhir bahkan menyebutkan, setiap harinya terdapat tiga orang memeluk Islam. Hal tersebut berkat giatnya Muslimin Kopenhagen dalam berdakwah. Organisasi Islam pun banyak berdiri di sana menaungi Muslimin sebagai warga minoritas. Tak sedikit pula Muslimin yang berkecimpung di dunia politik menjadi pejabat pemerintahan.
 
Dalam hal pendidikan, Kopenhagen memberikan hak pendidikan agama dalam kurikulum sekolah. Bahkan, dari 15 sekolah Islam di Denmark, setengah di antaranya berada di Kopenhagen. 

Sekolah tersebut pun mendapat bantuan dana dari negara. Sekolah Islam terbesar, Sekolah Islam Privatskole, juga ada di kota terpadat Denmark tersebut. Berada di Distrik Norrebro, sekolah ini dapat menampung hingga 410 siswa.
 
Puasa dan hari raya
Muslimin Kopenhagen terkenal sangat bersemangat menjalankan ibadah. Dalam melaksanakan puasa Ramadhan, mereka mampu menjalankannya hingga 21 jam.
Inilah waktu puasa terlama dibanding negara dunia lain. Lamanya siang hari tersebut disebabkan suhu tinggi yang terjadi di negara-negara Teluk hingga mencapai 50 derajat.
 
Sebenarnya, mereka mengetahui betul bahwa telah ada fatwa dari al-Azhar yang menyarankan negara dengan jam matahari yang lama dapat mengadopsi jam puasa negara tetangga. 

Namun, menurut Hussein Ghiwan dari Pusat Kebudayaan Islam Kopenhagen, Muslimin Kopenhagen sepakat untuk berpuasa dari terbit matahari hingga terbenamnya meski mengharuskan mereka berpuasa selama 21 jam.

Pada Idul Fitri tahun lalu, shalat Id yang digelar di Kopenhagen dikunjugi sekitar 25 ribu Muslimin. Angka ini sangat banyak, mengingat jumlah Muslimin Denmark yang sangat minim. 

Pasalnya, shalat Id tersebut juga dihadiri Muslimin dari Jerman, Swedia, dan Jyland. “Perayaan Idul Fitri merupakan hal penting bagi Muslimin. Dan, kami bersyukur dapat bersama-sama merayakan momen penting ini,” ujar panitia penyelenggara Maria Mawla.

Sumber:

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar