Senin, 14 Oktober 2013

Arafah, Saksi Bisu Khutbah Legendaris Rasulullah

Arafah, Saksi Bisu Khutbah Legendaris Rasulullah
Seorang Muslim meminta pertolongan kepada sesama Muslim saat akan menaiki Jabal Rahmah di kawasan Padang Arafah untuk melakukan wukuf sebagai penanda puncak pelaksanaan ibadah haji mereka di Mekkah, Arab Saudi, (14/10). REUTERS/Ibraheem Abu Mustafa

TEMPO.CO, Jakarta - Jutaan jemaah haji berkumpul di Arafah pada Senin, 14 Oktober 2013. Mereka melakukan wukuf sebagai puncak ritual haji. Padang Arafah telah menjadi saksi bergemuruhnya doa dan munajat jutaan jemaah haji sejak 14 abad lalu. Di tempat itu pula, pada 9 Zulhijah tahun 10 Hijriyah, Rasulullah bersama ribuan kaum muslim saat itu melakukan wukuf. Sirah Nabawiyah karya Ibnu Hisyam menceritakan dengan detail saat Padang Arafah menjadi saksi bisu tatkala Rasulullah saw melakukan khutbah pada haji wada' (haji perpisahan) itu.

“Wahai manusia, dengarkanlah nasihatku baik-baik, karena barangkali aku tidak dapat lagi bertemu dengan kamu semua di tempat ini," kata Rasulullah saw saat memulai khutbahnya.

"Tahukah kamu semua, hari apakah ini? Inilah Hari Nahr, hari kurban yang suci. Tahukah kamu bulan apakah ini? Inilah bulan suci. Tahukah kalian tempat apakah ini? Inilah kota yang suci. Karena itu, aku permaklumkan kepada kalian semua bahwa darah dan nyawa kalian, harta benda kalian dan kehormatan yang satu terhadap yang lainnya haram atas kalian sampai kalian bertemu dengan Rabb kalian kelak. Semua harus kalian sucikan sebagaimana sucinya hari ini, sebagaimana sucinya bulan ini, dan sebagaimana sucinya kota ini. Hendaklah berita ini disampaikan kepada orang-orang yang tidak hadir di tempat ini oleh kamu sekalian," kata Rasulullah.
Padang Arafah
Usai menyampaikan itu, Rasulullah saw bertanya, "Bukankah aku telah menyampaikan?" Semua kaum muslimin yang hadir pada saat itu pun mengiyakannya. "Ya Allah, saksikanlah!," ujar Rasulullah saw. Begitulah, setiap usai menyampaikan satu poin dari khutbahnya, Rasulullah selalu menanyakan, dan kaum muslimin pun membenarkannya.

Rasulullah saw pun melanjutkan khutbahnya tentang penghapusan segala macam bentuk riba, pentingnya memegang teguh amanah, penghapusan semua bentuk pembalasan dendam pembunuhan jahiliyah, dan penuntutan darah cara jahiliyah.
                             
Wasiat untuk berpegang teguh pada Al Quran
Rasulullah juga menyampaikan tentang hak dan kewajiban antara suami-istri. Dalam amanatnya yang panjang, Rasulullah saw mengingatkan kaum lelaki untuk melindungi kaum perempuan. "Ingatlah, kaum hawa adalah makhluk yang lemah di samping kalian. Mereka tidak berkuasa. Kalian telah membawa mereka dengan suatu amanah dari Tuhan, dan kalian telah halalkan kehormatan mereka dengan kalimat Allah. Karena itu, bertakwalah kepada Allah tentang urusan wanita dan terimalah wasiat ini untuk bergaul baik dengan mereka," kata Rasulullah saw.
Padang Arafah
Khutbah yang diliputi keharuan ini terus berlanjut. Rasulullah saw mewasiatkan kaum muslimin untuk berpegang teguh erat-erat pada Al-Qur'an dan Sunnah, menegaskan bahwa sesama orang-orang beriman itu bersaudara, dan larangan kembali pada kekufuran selesai wafatnya Rasulullah.


Dan, akhir khutbah terkenal ini pun menyinggung tentang letak hakikat kemuliaan manusia. "Sesungguhnya Tuhan kalian itu satu, dan sesungguhnya kalian berasal dari satu bapak. Kalian semua dari Adam dan Adam terjadi dari tanah. Sesungguhnya orang yang paling mulia di antara kalian semua di sisi Tuhan adalah orang yang paling bertakwa. Tidak sedikit pun ada kelebihan bangsa Arab dari yang bukan Arab, kecuali dengan takwa," kata Rasulullah.

Usai menyampaikan khutbahnya, Rasulullah meminta kaum muslimin yang hadir saat itu untuk menyampaikan wasiat tersebut kepada mereka yang tidak hadir.
Tak lama usai menyampaikan khutbah tersebut, Allah menurunkan firman-Nya yang termaktub dalam Surat Al-Ma'idah ayat 3. "Pada hari ini telah Kusempurnakan bagi kalian agama kalian dan telah Kucukupkan kepada kalian nikmat-Ku dan Islam telah Kuridhai menjadi agama bagi kalian."
Padang Arafah

Mendengar firman Allah tersebut, Umar bin Khattab pun meneteskan air mata. Sahabat mulia itu menangkap isyarat tentang dekatnya waktu wafat Rasulullah. Melihat hal itu, Umar pun ditanya. "Umar, mengapa engkau menangis? Bukankah engkau ini jarang sekali menangis?”. Umar pun menjawab, “Karena aku tahu, selepas kesempurnaan hanya ada kekurangan,” jawab Umar.


Sumber:

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar