Jumat, 04 Oktober 2013

Sejarah Masjid Nabawi di Kota Madinah


Masjid Nabawi adalah masjid kedua yang dibangun oleh Rasulullah saw., setelah Masjid Quba yang didirikan dalam perjalanan hijrah beliau dari Mekkah ke Madinah.Masjid Nabawi dibangun pada tahun 1 Hijriyah atau bertepatan pada bulan September 662 Masehi. Masjid Nabawi dibangun saat pertama Rasulullah saw. tiba di Madinah, ialah di tempat unta tunggangan Nabi saw. menghentikan perjalanannya. Lokasi itu semula adalah tempat penjemuran buah kurma milik As’ad Ibnu Zurrah dan anak yatim dua bersaudara Sahl dan Suhail bin ‘Amr, yang kemudian dibeli oleh Rasulullah saw. untuk dibangunkan masjid dan tempat kediaman beliau. Luas tanahnya mencapai 1.050 meter persegi.

Saat membangun Masjid ini, Nabi sendiri yang meletakkan batu pertamanya. Sementara batu ke dua, ketiga, keempat dan kelima masing-masing diletakkan oleh sahabat Abu Bakar, Umar, Usman dan Ali. Selanjutnya pembangunan dikerjakan secara gotong royong sampai selesai.

Sejarah Masjid Nabawi di Kota Madinah
Jangan pernah membayangkan Masjid Nabawi saat itu sudah semegah saat ini. Tiang-tiangnya saja pada waktu itu masih terbuat dari batang kurma, atapnya terbuat dari pelepah daun kurma, dan halaman ditutup dengan batu-batu kecil. Sementara arah kiblat menghadap Baitul Maqdis karena pada saat itu perintah Allah untuk berkiblat ke Ka'bah belum turun.Masjid Nabawi saat itu tampil sangat sederhana tanpa hiasan, tanpa tikar, dan untuk pencahayaan di malam hari hanya menggunakan pelepah kurma yang kering dan dibakar.

Pada tahun ke 4 Hijriyah, masjid ini mengalami perbaikan untuk kali pertama. Lantai diperbaiki dengan lantai dari batu bata. Setelah itu, Masjid Nabawi berulang kali mengalami perbaikan dan perluasan.

Perbaikan paling signifikan terjadi pada tahun 1265 H pada masa pemerintahan Sultan Abdul Majid. Dalam pembangunan yang memakan waktu 12 tahun itu, dinding dan tiang-tiang masjid dipercantik dengan ukiran dan kaligrafi indah yang masih bisa disaksikan sampai sekarang.

Kronologi Pengubahsuaian Masjid Nabawi berdasarkan tahun Masihi.
Pada era selepas Sayidina Utsman Al-Affan pula berlakulah penambahan demi penambahan. Berikut kronologinya :
622 – Didirikan oleh Nabi Muhammad
629 – Diperluas oleh Nabi
638 – Diperluas oleh Saidina Umar al-Khattab.
650 – Saidina Uthman Affan menggantikan tiang dan atap serta memperluas bahagian lantai.
707 – Diperbaiki oleh Walid bin Abd Malik dan Umar bin Abd Aziz (Bani Umaiyah).
778 – Diperluas oleh al-Mahdi (Bani Abbasiah).
1247 – Terbakar.
1256 – Malik az-Zahir (Mamluk) menambah menara serta lantai bahagian hadapan.
1468 – Diperbaiki oleh Asyraf Qaitbay (Penguasa Mamluk).
1481 – Terbakar lagi.
1574 – Salim I (Uthmaniah) menggunakan marmar.
1818 – Diperbesar oleh Mahmud II (Uthmaniah). Kubah dicat hijau.
1849 – Dibangun besar-besaran oleh Sultan Abdul Majid (Uthmaniah).
1952 – Diperluas oleh Raja Abd Aziz ibnu Sa’ud (Arab Saudi).
1984 – Diperluas dan diperbaiki oleh Raja Fahd (Arab Saudi).

Sejarah Masjid Nabawi di Kota Madinah

Raja Fahd bin Abdul aziz juga turut berperan dalam perluasan Masjid Nabawi. Hasilnya luas seluruh bangunan masjid sekarang ini menjadi 165.000 m2. Jumlah menarapun bertambah, dari semula empat buah menjadi 10 buah. Empat diantaranya mamiliki ketinggian 72 meter dan enam lainnya setinggi 92 meter. Jumlah pintu juga bertambah sehingga menjadi 95 buah pintu. Maka, Masjid Nabawi pun tampil cantik dan megah sehingga menjadi kebanggaan umat Islam di seluruh dunia saat ini.

Masjid Nabawi didirikan bukan hanya untuk tempat beribadah, tapi juga merupakan tempat sekolah bagi kaum muslimin untuk  menerima pengajaran islam dan bimbingan-bimbingannya, sebagai tempat pertemuan dan tempat untuk mempersatukan berbagai unsur kekabilahan dan sisa-sisa pengaruh perselisihan semasa jahiliyah, sebagai tempat mengatur segala urusan, dan sekaligus sebagai gedung parlemen untuk bermusyawarah dan menjalankan roda pemerintahan.

Sejarah Masjid Nabawi di Kota Madinah

Disamping itu semua, masjid tersebut juga dijadikan tempat tinggal dan bermukim orang-orang muhajirin yang miskin, yang datang ke madinah dengan tanpa memiliki harta, tidak memiliki kerabat dan masih bujang atau belum berkeluarga.

Demikian sekilas uraian singkat mengenai Sejarah Masjid Nabawi di Kota Madinah, semoga apa yang telah disampaikan dalam artikel ini dapat menambah kecintaan kita kepada Masjid-Masjid Allah dan senantiasa selalu berusaha untuk memakmurkannya.

Sumber:

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar