Kamis, 09 Agustus 2012

Pokok Pikiran Kebangsaan KH Sahal Mahfudh

 
Oleh:KH M.A. Sahal Mahfudh
Rois Am PBNU

Para pendiri bangsa ini bercita-cita membangun bangsa ini secara utuh melalui seluruh batang tubuh Undang Undang Dasar 1945. Tujuan pembangunan bangsa ini adalah mewujudkan cita-cita sesuai yang diamanatkan oleh UUD 1945.

Dinamika yang muncul pada proses penyelenggaraan pembangunan ini dapat dianggap wajar apabila masih dalam bingkai tujuan itu. Akan tetapi ada beberapa persoalan yang akhir-akhir ini meresahkan pikiran saya –dan oleh karena itu patut didiskusikan bersama, yakni:

1. Ketatanegaraan

Otonomi daerah banyak mengalami komplikasi dan menjadi rawan terhadap konflik lokal dan politik uang sebagai akibat dari kebijakan one man one vote. Tidak semua persoalan  –seperti agraria– patut untuk diserahkan kepada daerah, pusat seharusnya mempunyai kewenangan yang cukup besar mengatur hal-hal strategis bangsa.

Kedudukan dan fungsi MPR sebagai lembaga tertinggi negara perlu diperjelas kembali, diantaranya dengan mengangkat kelompok tertentu –seperti kelompok adat dan minoritas lain– yang sulit terwakili dengan sistem pemilihan yang berlaku saat ini.

2. Ekonomi

Walaupun globalisasi ekonomi sudah menjadi keniscayaan, perekonomian nasional semestinya tidak serta merta diserahkan kepada mekanisme pasar secara total. Pengalaman selama ini membuktikan bahwa kekuatan modal dan korporasi tidak membawa manfaat secara nyata dan merata kepada masyarakat. Negara seharusnya memperjelas kebijakan tentang perkoperasian dengan aturan yang lebih tegas dan berpihak. Negara harus diingatkan bahwa koperasi sebagai soko guru ekonomi tidak hanya sebatas jargon, tetapi harus menjadi semangat pengendalian perekonomian nasional.

3. Kebudayaan


Semangat kebangsaan (ukhuwah wathoniyah) harus secara terus menerus diperkuat kembali dengan cara apapun, baik melalui organisasi kemasyarakatan formal maupun non formal. Negara harus mempunyai strategi pengaturan masyarakat yang tegas dan kongkrit yang merujuk kepada Pancasila dan UUD 1945, sehingga ruang gerak dan pemikiran untuk mengubah asas dan dasar negara ini tidak semakin meluas. Negara harus menghidupkan kembali semangat gotong-royong (ta’awun) di level masyarakat sebagai gerakan pembanding terhadap perilaku hedonis, konsumtif, dan individualis yang telah menjadi perilaku sebagian masyarakat Indonesia.

Dengan demikian aspirasi untuk meninjau perubahan UUD 1945 secara selektif layak digulirkan untuk menyalakan kembali semangat berbangsa dan bernegara serta nasionalisme yang akhir-akhir ini cenderung redup, tentu saja dengan cara-cara yang arif dan memperhatikan kepentingan bangsa.


Pati, 7 Mei 2012

*Disampaikan dalam roundtable discussion Persatuan Purnawirawan Angkatan Darat (PPAD), 8 Mei 2012 di kampus Universitas Diponegoro, Semarang.
Mustasyar PBNU KH Sya'roni Ahmadi
Kudus, NU Online
Nahdlatul Ulama (NU) harus selalu mempertahankan Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI) dan Ahlussunnah wal Jamaah (Aswaja). Sikap ini sebagai bentuk komitmen NU dalam memperjuangkan bangsa Indonesia yang sudah ditanamkan para ulama melalui deklarasi Resolusi Jihad 22 Oktober 1945.

"NU harus membela NKRI selamanya. Jika tidak,  NU bisa dikatakan sebagai pengkhianat terhadap resolusi jihad," tegas Mustasyar PBNU KH Sya'roni Ahmadi saat menyampaikan mauidhoh hasanah dalam acara grand launching Kartu Tanda Anggota (Kartanu) di Kudus, Jum'at (20/4/).

Di depan pengurus NU dan tamu undangan, KH Sya'roni menambahkan keberadaan NKRI ini merupakan pilihan yang paling sesuai dengan kondisi bangsa ini. Sebab, proses memperjuangkan kemerdekaannya menggunakan semangat jihad para ulama.

"Bagi NU, NKRI adalah yang paling cocok. Hingga kini kiai-kiai tetap menjaga NKRI. NU bukan penghianat," kata Mbah Sya'roni, panggilan akrabnya menegaskan berulang-ulang.

Selain mempertahankan sikap nasionalisme, Mbah Sya'roni mengatakan, NU juga selalu memperjuangkan Aswaja. Menurutnya, terdapat tiga dari sepuluh ciri seseorang menjadi pengikut Aswaja yang penting dipahami dan dilaksanakan warga NU yakni selalu berjamaah lima waktu, tidak mencari muka dan tidak pernah memberontak.

"Jadi,  pengikut Aswaja itu haram memberontak bangsa itu," tegasnya.

Di akhir ceramahnya, pengasuh pengajian Jum'at pagi Masjid Menara Kudus ini mengapresiasi semangat NU yang selalu mengajak mempertahankan NKRI dan paham Aswaja di bumi pertiwi.

"Saya tertarik ajakan semangat nasionalisme tertanam dalam diri warga NU," tandas mbah Sya'roni.

Acara peluncuran ini dimaksudkan untuk  menandai pemotretan  Kartanu di kabupaten Kudus. Kartanu ini sebagai tanda bukti resmi anggota NU.

Selain KH Sya'roni Ahmadi, hadir juga Bupati Kudus H Musthofa, Rais Syuriyah PCNU Kudus KH Ulil Albab Arwani, Katib KH Ahmadi Abdul Fatah dan pengurus NU lainnya serta ketua Parpol dan camat se-Kudus.

Sumber:
http://www.nu.or.id/a,public-m,dinamic-s,detail-ids,6-id,37877-lang,id-c,taushiyah-t,Pokok+Pikiran+Kebangsaan+KH+Sahal+Mahfudh-.phpx 
http://www.nu.or.id/a,public-m,dinamic-s,detail-ids,44-id,37551-lang,id-c,nasional-t,Mustasyar+PBNU++Pertahankan+NKRI+-.phpx

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar