Minggu, 16 September 2012

Bagaimana Kiai Mukhtar Merintis Pesantren Blokagung?

KH Mukhtar Syafa`at

Blokagung merupakan nama sebuah dusun di selatan Banyuwangi, Jawa Timur. Letaknya ada di Kecamatan Gambiran. Kecamatan ini kemudian dibagi dua, Tegalsari dan Gambiran.

Nama ini kemudian menjadi terkenal di kalangan masyarakat NU karena terdapat Pesantren Blokagung. Pesantren ini merupakan salah satu pesantren terbesar di Banyuwangi dan sangat disegani.

Pesantren ini berawal dari sebuah musholla kecil bernama Darussalam. Musholla ini didirikan masyarakat bersama KH. Mukhtar Syafa`at pada tanggal 15 Januari 1951. Dari Mushollah itulah kemudian berkembang menjadi pesantren Blokagung. KH Mukhtar Syafa`at adalah sang pendiri pesantren.

Mukhtar Syafa`at lahir pada tahun 1918 di Ploso Klaten, Pare Kediri. Kelahirannya bersaman dengan meletusnya Gunung Kelud. Orang tuanya bernama Abdul Ghafur dan Nyai Sangkep. Mereka berdua dikarunia 7 anak, dan salah satunya adalah Mukhtar Syafa`at. Sang ayah adalah peternak kerbau dan petani yang sukses. Kakeknya bernama Kiai Bariman, seorang yang dianggap banyak memiliki keramat.

Mukhtar kecil belajar di surau di desanya. Gurunya bernama Sumantoro. Pelajaran yang diberikan meliputi  Al-Qur’an, tajwid, membaca kitab Sullam, dan Safinah.

Pada tahun 1928 Mukhtar dipondokkan oleh ayahnya ke Tebuireng, asuhan KH. Hasyim Asy`ari. Mukhtar menimba ilmu di pesantren ini selama 6 tahun.

Setelah 6 tahun, ayahnya berkeinginan agar Mukhtar pulang. Ayahnya ingin agar anaknya yang nyantri, Mukhtar, digantikan adik-adiknya. Jadi sistem yang diterapkan ayahnya adalah mendidik dengan bergantian. Mukhtar merasa bahwa ilmunya belum cukup. Dia akhirnya tidak mau berhenti nyantri dan tidak mau tinggal di rumah. Pada saat yang sama mbakyunya sudah ada dan tinggal di Blokagung, Banyuwangi.

Pada tahun 1934 Mukhtar dan keluarganya pergi ke Blokagung. Di tempat mbakyunya, Mukhtar mengutarakan keinginnnya untuk tetap nyantri. Dari sini Mukhtar disarankan belajar di Pesantren Paras Gempal, asuhan KH Abdul Manan. Dia ini adalah mertua KH Askandar yang sangat terkenl di Banyuwangi. Di pesantren Paras Gempal, Mukhtar sering sakit karena keadaan geografis.

Pada tahun 1936, Mukhtar pindah ke pesantren Tatsmirith Tholabah di Jalen Genteng. Pesantren ini dikenal dengan Pesantren Jalen, asuhan Kiai Ibrahim. Di pesantren inilah Mukhtar mendalami Ihya `Ulumuddin. Ketika nyantri di sini, Mukhtar mencukupi kebutuhannya sendiri dengan menjadi buruh pada penduduk setempat. Setelah dari pesantren Jalen, dia pulang ke rumah mbakyunya di Blokagung.

Selama setahun di rumah mbakyunya, Mukhtar pindah ke Masjid Blokagung yang diasuh KH Abdul Hamid. Ketika pindah-pindah dari masjid ke rumah mbakyunya, Mukhtar muda telah diikuti beberapa santri.

Para santri dan masyarakat Blokagung kemudian menginginkan agar Mukhtar tetap di Blokagung. Akan tetapi Mukhtar merasa bahwa ilmunya masih kurang. Dia ingin terus belajar ke Madura.

Pada saat yang sama, di Gambiran Banyuwangi, ada pesantren Gambiran yang diasuh Kiai Soelhan. Kiai ini terkenal sebagai seorang wali setempat. Mukhtar Syafa`at sering mengunjunginya. Kiai Sholehan mendengar keinginan Mukhtar. Kiai ini bersikeras menyebutkan bahwa Mukhtar harus tetap di Blokagung. Untuk mengurungkan niat Mukhyar, Kiai Sholehan menawarkannya untuk menikah. Akhirnya, Mukhtar menikah dengan Maryam.

Setelah menikah, Mukhtar ingin  pulang ke Kediri bersama istrinya, mencoba bertahan hidup. Kiai Sholehan mengetahui soal itu merasa berkebaratan. Hanya saja, guru spiritualnya ini tidak bisa mencegahnya. Dia hanya berpesan, agar nanti kalau Mukhtar bertemu dengan Kiai Fatah Mangunsari, Tulungagung supaya menjawab Banyuwangi.

Mukhtar akhirnya tidak tinggal di Kediri. Dia akhirnya kembali juga ke Banyuwangi.

Ketika di Banyuwangi, Mukhtar berkunjung ke Kiai Sholehan. Kiai ini kemudian  menceritakan wasiat Kiai Bariman, kakek Mukhtar. Wasiat yang diberikan kepada Sholehan begini:

“Sholehan, apabila kamu ketemu Pangat, cucuku, maka katakan kepadanya bahwa aku telah mewariskan sebidang tanah untuknya di Banyuwangi yang akan aku beri tanda rumput alang-lang kumitir.”

Setelah berkonsultasi dengan Kiai Sholehan, Mukhtar Syafaat semakin mantap tinggal di Blokagung. Saat itu di tengah iklim penjajahan Belanda. Pada tahun 1947, pada saat agregsi Belanda, penjajah juga mendaratkan pasukan di Banyuwangi, Mukhtar ikut berjuang. Dia menjadi penasehat Gerilyawan Batalyon 510.

Pada tanggal 15 Januari 1951, bersama masyarakat dan para santri Mukhtar mendirikan musholla Darussalam. Tanggal ini dicatat sebagai hari lahirnya pesantren Darussalam Blokagung. Pesantren kecil ini lama kelamaan menjadi besar. Pengajaran Ihya’ `Ulumuddin menjadi andalan dan terkenal dihububgkang dengan KH Mukhtar Syafaat. Sang kiai sendiri juga seorang pengamal Hizb Nashr.

Pada tahun 1953, KH. Mukhtar duduk di Syuriyah Ranting NU Gambiran. Tahun 1956  dia duduk di Syuriyah MWC NU Gambiran.

Pada tahun 1962-1965, tempat pengajian KH. Mukhtar di pesantren Blokagung menjadi tempat berkumpul orang-orang PKI yang ingin minta perlindungn. Meskipun di lapangan sang kiai menjadi musuh kader-kader PKI, KH. Mukhtar sendiri memilih melakukan pendekatan persuasif.

Pengaruh KH Mukhtar Syafaat semakin diakui di Banyuwangi. Pada tahun 1978, pesantren Blokagung resmi menjadi yayasan. KH. Mukhtar pada tahun 1980 menjadi anggota PCNU Banyuwangi.

Pada 1986 dia diangkat sebagai musytasyar PCNU Banyuwangi. Bersamaan dengan pengaruhnya yang besar, pesantren Blokagung kemudian berkembang semakin besar pula.

Pada saat sekarang, pesantren Blokagung telah mengembangkn dua jenis pendidikan: pertama, ada di bawah nagungan Diknas (yaitu TK, SDI, SMP Plus, SMK, dan STIB; kedua, ada di bawah naungan Depag (yaitu MTs, MA, daan STIDA). Murid-muridnya semakin banyak. Tidak kurang dari ratusan alumninya telah mendirikan pesantren di berbagai daerah. Sementara ribuan alumninya tersebar di berbagai pelosok Indonesia.

KH. Mukhtar sendiri meninggal pada 2 Februari 1991. Umurnya saat itu mencapai  72 tahun. Pesantren Blokagung kemudian diteruskan oleh anak-anaknya dari dua istrinya, Ny. Mariyam dan Ny. Musrifah. Di antara penerusnya adalah KH. Ahmad Hisyam Syafaat, KH. Ahmad Hasyim Syafaat, dan lain-lain. (Nur Kholik Ridwan) 

Sumber:http://www.nu.or.id/a,public-m,dinamic-s,detail-ids,46-id,39370-lang,id-c,pesantren-t,Bagaimana+Kiai+Mukhtar+Merintis+Pesantren+Blokagung++-.phpx

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar