Sabtu, 08 September 2012

Di Mesir, Penyiar Muslimah Boleh Berjilbab Lagi


 

Kairo, NU Online
Stasiun televisi Mesir telah mencabut larangan selama beberapa dasawarsa bagi perempuan berjilbab untuk menjadi pembaca berita, yang telah dilarang oleh rejim-demi-rejim yang condong ke arah sekuler.

Dengan mengenakan jilbab berwarna krim dan jas warna gelap, Fatma Nabil tampil pada Ahad lalu, untuk membacakan buletin berita pukul 12.00. Stasiun TV resmi Mesir menyatakan itu adalah penampilan pertama oleh seorang perempuan dengan rambut tertutup sejak stasiun TV itu didirikan setengah abad lalu.

Larangan atas perempuan pembaca berita yang memakai jilbab telah lama dikecam oleh pegiat hak asasi manusia dan liberal sebagai pelanggaran terhadap kebebasan pribadi --terutama di negara tempat mayoritas perempuan menutup kepala mereka.

Namun, itu adalah tindakan paling akhir oleh pemerintah di bawah tokoh baru Islam, Presiden Mohammed Moursi, untuk melakukan perubahan besar di media yang dikuasai negara, demikian laporan Al Jazeera sebagaimana dikutip IINA --yang dipantau Antara di Jakarta, Selasa malam.

Baru beberapa pekan sebelumnya, Majelis Tinggi Parlemen, atau Dewan Syura, yang didominasi tokoh Islam, memutar redaktur media pemerintah dan kebanyakan dari 50 orang yang baru diangkat berasal dari kubu Islam atau sekutu politik mereka.

Serikat wartawan Mesir telah menuduh kelompok asal Moursi, Ikhwanul Muslimin, berusaha menjadikan media sebagai corongnya.

Banyak warga Mesir khawatir Moursi dan Ikhwanul Muslimin, yang tangguh dan dulu dilarang serta dihukum di bawah rejim lama, akan memberi prioritas pada kepentingan tokoh Islam dengan mengorbankan pembaruan pada birokrasi yang tidak efisien atau keperluan mendesak seperti krisis ekonomi serta kemiskinan yang meluas.

Pejabat TV Mohammed Fathi mengatakan kemunculan Fatma Nabil akan mendorong banyak perempuan lain yang ingin memakai jilbab tapi sebelumnya takut kehilangan pekerjaan mereka. Fatma Nabil telah bekerja selama satu tahun di jaringan TV Ikhwanul Muslimin, Misr 25, setelah ia dilarang oleh TV resmi tampil mengudara sebab ia memakai jilbab.

Dengan terpilihnya Moursi dan pengangkatan Salah Abdel-Maksoud dari Ikhawanul Muslimin sebagai Menteri Penerangan baru, Fatma Nabil mengatakan ia diberi "lampu hijau" untuk kembali ke TV negara.

"Sekarang standard tak memiliki hubungan dengan jilbab, yang menjadi pilihan pribadi, tapi semuanya berkaitan dengan intelektual dan keahlian profesional," katanya.

Stasiun televisi milik negara, yang memiliki hampir 40.000 staf, termasuk di antara tempat pegawai negeri terbesar di negeri itu. Stasiun televisi tersebut telah lama dikaitkan secara erat dengan elit yang berkuasa dan dirundung korupsi.

Stasiun televisi itu menderita karena pemirsanya sedikit akibat kurangnya standard profesional dan program menarik. Di bawah pemerintah otoriter mantan presiden Hosni Mubarak, yang terdepak dalam protes tahun lalu, wanita pegawai TV yang memakai jilbab diminta melakukan pekerjaan di belakang kamera. Sebagian dari mereka mengajukan tuntutan terhadap kebijakan tersebut dan menang, tapi Kementerian Penerangan yang dikuasai oleh orang yang setia kepada rejim mengabaikan putusan itu dan tetap saja menerapkan larangan.

Kebanyakan perempuan Muslimah Mesir mengenakan sejenis penutup kepala --mulai dari syal gaya sampai penutup muka penuh, atau niqab.

Sumber:http://nu.or.id/a,public-m,dinamic-s,detail-ids,45-id,39569-lang,id-c,internasional-t,Di+Mesir++Penyiar+Muslimah+Boleh+Berjilbab+Lagi-.phpx

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar