Jumat, 07 September 2012

Inilah Sulawesi yang Memikat Wallace

KOMPAS IMAGES/RODERICK ADRIAN MOZES

Pemandangan kebun bunga Aster di Kecamatan Kakaskasen, Kota Tomohon, Sulawesi Utara, Minggu (29/7/2012). Geografis kota Tomohon yang beriklim sejuk dan kondisi tanah subur karena berada di bawah kaki Gunung Api Lokon, menjadikan kota ini baik untuk budidaya bunga Aster dan Krisan.

KOMPAS.com - Inilah Sulawesi yang melegenda, yang memikat Alfred Russel Wallace saat menjelajah pulau ini pada tahun 1856, 1857, dan 1859. Ilmuwan alam dari Inggris itu begitu terpesona, sekaligus kebingungan, saat melihat banyaknya spesies endemis di pulau ini yang tak ditemui di belahan Bumi lainnya, bahkan di kepulauan lain di Nusantara yang berdekatan dengan Sulawesi.

Sebagian besar orang di Indonesia barangkali masih asing dengan Wallace dan lebih mengenal Charles Darwin sebagai penemu teori evolusi yang dipicu seleksi alam. Padahal, Wallace lebih dulu merumuskan teori seleksi alam, atau setidaknya berbarengan dengan seniornya, Darwin. Keduanya merumuskan teori ini setelah mengamati keberagaman sekaligus kekhasan flora serta fauna saat menjelajah dunia. Darwin meneliti di Galapagos dan Wallace di Nusantara.


Kepulauan Galapagos terletak di bagian timur Samudra Pasifik, 970 kilometer dari Amerika Selatan. Jaraknya sekitar 19.000 kilometer dari Indonesia dan membutuhkan waktu tempuh hampir 25 jam menggunakan penerbangan zaman ini. Terasing di lautan, Galapagos telah dikolonisasi oleh spesies dari daratan sejak jutaan tahun lampau, menciptakan berbagai jenis spesies yang khas. Darwin adalah geolog pertama yang mengunjungi Galapagos tahun 1835. Pada akhirnya, dia justru mendalami keunikan satwa Galapagos.


Seperti Darwin, Wallace sangat terpukau dengan satwa endemis yang ditemuinya di Sulawesi. Sesaat setelah kepulangannya dari Manado, Sulawesi Utara, Februari 1858, Wallace tergeletak di kamar tidurnya di Ternate, Maluku Utara. Ia terserang demam, kemungkinan karena malaria. Dari kamar itulah dia menulis surat kepada Darwin yang dihormatinya. Wallace melampirkan makalah pendek di surat itu, yang diberinya judul ”On the Tendency of Varieties to Depart Indefinitely from the Original Type”.


Makalah yang ditulis tangan dengan tergesa-gesa selama dua malam itu merangkum lebih dari sepuluh tahun penelitian. Wallace menggabungkan berbagai petunjuk dari penyebaran satwa di bentang alam yang beragam dengan fenomena keragaman di dalam spesies itu sendiri. ”... mengapa ada spesies yang mati dan sebagian sanggup bertahan?” gugat Wallace.


Jawabannya, menurut Wallace, bahwa di antara sesama satwa liar itu mereka bersaing untuk bertahan hidup. Hanya varian yang paling cocok dengan keadaan lingkunganlah yang sanggup bertahan.


Makalah yang dikirim Wallace memberi jawaban bagi Darwin tentang fenomena seleksi alam yang hingga tahun itu belum dirumuskannya: the fittest would survive (individu inferior akan mati dan individu superior akan bertahan).


Lebih lanjut, ”persaingan untuk bertahan hidup” ini pasti menghasilkan perubahan arah yang adaptif dalam spesies itu. Perubahan kondisi fisik itu mungkin akan mengaburkan, bahkan menyebabkan kepunahan, ras lama dan membentuk ras baru yang lebih unggul.


”Kijang dengan kaki lebih pendek atau lebih lemah tentu akan lebih mudah diserang harimau,” kata Wallace. Karena itu, kijang yang mampu bertahan hidup adalah yang memiliki kaki yang kuat. Dengan proses yang sama, hal ini menjawab mengapa jerapah berleher panjang; karena yang berleher pendek tidak sukses mewariskan keturunan yang sanggup bertahan hidup.


Tulisan Wallace itu ditutup dengan sebuah kesimpulan yang menggedor Darwin, yaitu bahwa ada kecenderungan di alam untuk terus mengembangkan tipe tertentu yang semakin jauh dari aslinya—perkembangan yang tampaknya tidak terbatas.


Surat dan makalah Wallace dari Ternate menjadi tonggak penting bagi Darwin. Ia segera teringat dengan makalah yang ditulisnya pada 1842-1844, tetapi belum diterbitkan. Darwin kemudian mengirim makalahnya dan makalah Wallace ke sahabatnya, Charles Lyell.


Wallace masih di Papua, terjebak hujan, didera kelaparan dan demam, pada Juli 1858 saat makalahnya bersama tulisan Darwin—yang belum pernah diterbitkan—ditulis ulang dan dibacakan di hadapan Linnean Society. Makalah itu diberi judul On the Tendency of Species to Form Varieties; and on the Perpetuation of Varieties and Species by Means of Selection dan disebutkan ditulis oleh Charles Darwin, Alfred Wallace; dikomunikasikan oleh Sir Charles Lyell dan Joseph Hooker, anggota Linnean Society. Wallace sama sekali tidak dimintai pendapat soal penggabungan tulisan itu.


Pada 1859, saat Wallace masih menjelajah hutan di Nusantara, Darwin menerbitkan bukunya, Origin of Species. Buku berisi uraian lebih rinci tentang proses seleksi alam yang memicu evolusi itu kian memopulerkan Darwin sebagai ”Bapak Evolusi”, sementara Wallace cenderung dilupakan. Belakangan, dunia pengetahuan mendudukkan kembali posisi Wallace sebagai penemu teori evolusi bersama dengan Darwin. Sebelumnya, hanya Darwin yang menikmati popularitas sebagai penemu teori evolusi.


Pada waktu bersamaan, Wallace juga mengirim makalah untuk diterbitkan di Linnean Society berjudul On the Zoological Geography of the Malay Archipelago (1859). Dalam makalahnya, ia menuliskan bahwa Nusantara terbagi menjadi dua wilayah penyebaran fauna, satu di timur, dan lainnya di barat. Jika ditarik garis melalui Selat Makassar dan Selat Lombok, maka di sebelah barat garis itu akan kita temukan satwa khas Asia; di sebelah timur akan didapati satwa khas Australia. Padahal, kedua wilayah ini memiliki kondisi iklim dan habitat yang mirip. Delapan tahun kemudian, ahli anatomi, Thomas H Huxley, menyebut batas demarkasi penyebaran fauna di Nusantara ini sebagai garis Wallace.


Namun, Wallace tidak puas dengan kesimpulannya soal Sulawesi. Hal itu terus menghantui hingga menjelang akhir hayatnya. Dalam tulisan-tulisannya yang diterbitkan tahun 1859 dan 1863-1876, dia menempatkan Sulawesi di bagian timur garis Wallace. Namun, dalam bukunya The World of Life yang diterbitkan tahun 1910 atau tiga tahun sebelum kematiannya, Wallace merevisi posisi Sulawesi menjadi kelompok pulau-pulau di barat garis itu.


Posisi Sulawesi secara khusus dibicarakannya dalam
buku Island Life sebagai ”Anomalous Island” atau Pulau Anomali. ”Fauna Sulawesi sangat berbeda dengan dua bagian Nusantara sehingga sangat sulit memutuskan di mana posisi pulau ini,” tulis Wallace.

Terletak tepat di tengah-tengah hamparan kepulauan Nusantara dan dikepung dari berbagai sisi oleh pulau-pulau dengan ragam kehidupan bervariasi, karakteristik fauna Sulawesi menunjukkan sejumlah ciri khas yang mengejutkan. Posisi Sulawesi harusnya membuat pulau ini kaya fauna yang bermigrasi dari segala penjuru, lebih dari yang bisa diterima Jawa.


Di Sulawesi memang ada sebagian satwa yang memiliki ciri Australia dan Asia. Hal itu yang membuat Wallace berpikir bahwa sebagian Sulawesi kelihatannya pernah bersatu dengan Asia dan sebagian lagi pernah bersatu dengan Australia.


Namun, kenyataannya hanya ada sedikit spesies fauna pendatang di Sulawesi dibandingkan dengan pulau lain di Nusantara. Misalnya, jumlah mamalia dan burung di Sulawesi kurang dari separuh di Pulau Jawa. Padahal, Sulawesi jauh lebih luas dibandingkan dengan Jawa.


Sebaliknya, fauna khas Sulawesi justru sangat berlimpah. ”Sulawesi memiliki jumlah spesies endemis yang mengagumkan,” tulis Wallace.


Pengamatan Wallace soal kekhasan satwa Sulawesi lebih banyak didasarkan pada pengamatannya terhadap burung. Dia mencatat, dari 128 burung yang ditemukannya di Sulawesi, 80 spesies di antaranya adalah endemis. Di antara burung endemis itu, terdapat beberapa keanehan struktur yang mengejutkan dan tidak memiliki kerabat dekat dengan spesies di pulau-pulau sekitarnya. ”Spesies itu cukup terisolasi, mengindikasikan ada hubungan dengan tempat-tempat yang jauh letaknya, seperti Papua, Australia, India, atau Afrika,” ungkap Wallace.


Selain itu, Wallace juga banyak meneliti keragaman kupu-kupu Sulawesi. Dia mendata, dari 48 spesies kupu-kupu yang ditemukan di Sulawesi, 35 jenis di antaranya adalah endemis. Jumlah ini jauh lebih tinggi dibandingkan dengan di Jawa yang hanya memiliki 23 spesies endemis dari 70 kupu-kupu yang ditemukan di sana.


Wallace tidak membuat data rinci mamalia endemis. Namun, dia menyebutkan beberapa satwa Sulawesi yang menurut dia ajaib, di antaranya adalah babirusa, anoa, dan monyet hitam (yaki).


Penelitian terbaru tentang satwa endemis Sulawesi yang dirangkum Anthony J Whitten, Muslimin Mustafa, dan Gregory S Henderson dalam buku The Ecology of Sulawesi (1987) menyebutkan, dari 127 jenis mamalia Sulawesi, 79 di antaranya (62 persen) merupakan spesies endemis. Persentase ini bisa meningkat hingga 98 persen apabila kelelawar dimasukkan dalam penghitungan. Jumlah mamalia endemis Sulawesi merupakan yang tertinggi di Indonesia, disusul Papua (58 persen), Kalimantan (18 persen), dan Maluku (17 persen).


Pulau seluas 174.600 kilometer persegi itu juga menjadi daerah burung dan reptil endemis terbanyak nomor dua di Indonesia setelah Papua. Dari 328 jenis burung di Sulawesi, 88 spesies (27 persen) di antaranya adalah endemis. Dari 104 jenis reptilia, 29 jenis (27 persen) adalah endemis Sulawesi.


Anomali Sulawesi membuat Wallace mencari jawabannya pada proses geologi yang membentuk pulau ini. ”Pertanyaan ini hanya bisa dijawab dengan penyelidikan geologi yang mendalam,” kata Wallace. Dia menduga keunikan satwa Sulawesi terkait dengan perubahan permukaan Bumi pada masa lalu, konsep yang waktu itu terdengar aneh, tetapi belakangan terbukti betul.

Sumber:http://sains.kompas.com/read/2012/09/07/16032710/Inilah.Sulawesi.yang.Memikat.Wallace

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar