Jumat, 07 September 2012

Lapan Siap Luncurkan Satelit Produk Sendiri

                                                            KOMPAS/IWAN SETIYAWAN
Teknisi memeriksa satelit Lapan A2 yang dibuat para ahli di Pusat Teknologi Satelit Lembaga Penerbangan dan Antariksa Nasional di Rancabungur, Bogor, Jumat (31/8). Satelit seberat 78 kilogram ini dilengkapi kamera beresolusi tinggi untuk pencitraan dan membantu komunikasi di daerah bencana. Satelit ini akan menjadi satelit pertama dengan orbit ekuatorial mengikuti garis ekuator.
BANDUNG, KOMPAS - Lembaga Penerbangan dan Antariksa Nasional mempersiapkan satelit A2 untuk diluncurkan di India, Juni 2013. Satelit tersebut didesain oleh bangsa sendiri dan diproduksi di Indonesia meski persentase komponen lokalnya masih rendah.”Satelit kami merupakan satusatunya yang mengorbit di garis khatulistiwa,” kata Kepala Lapan Bambang Setiawan Tejakusuma seusai penutupan Ritech Expo 2012 di Bandung, Jawa Barat, Sabtu (11/8).

Fitur dari satelit A2 adalah mengambil gambar permukaan Bumi dengan dua kamera video. Sensor identifikasi juga disematkan untuk memantau dan mengidentifikasi lalu lintas kapal di laut. Kemampuan sensor relai bencana juga dipasang untuk membantu komunikasi radio amatir di daerah-daerah, khususnya menanggapi bencana alam.Seluruh data yang dikumpulkan satelit tersebut akan dikirimkan ke stasiun pengendali di Rumpin, Bogor, Jawa Barat.

Menurut Bambang, satelit yang dikembangkan selama dua tahun ini berbeda dengan pendahulunya yang dibuat di Jerman. Dengan menumpang roket peluncur milik India, Polar Satellite Launch Vehicle (PSLV), satelit A2 kini tengah dipersiapkan dengan menjalani serangkaian pengujian, mulai getaran hingga gravitasi nol.

Terkait rencana berikutnya, Bambang juga mengungkapkan rencana pembuatan satelit A3 yang memiliki fitur penginderaan jauh dan dirampungkan tahun 2014. Tidak hanya itu, satelit A4 juga direncanakan rampung antara tahun 2015 dan tahun 2016. Dengan rampungnya satelit A2 berbobot 100 kg ini, Lapan kian percaya diri untuk membuat satelit berbobot 600 kg. 

Dipilihnya India sebagai lokasi peluncuran, diakui Bambang sebagai bentuk dari kerja sama yang dilangsungkan sebelumnya. Untuk peluncuran berikutnya, China juga dipertimbangkan sebagai mitra. Ritech Expo merupakan rangkaian kegiatan Hari Kebangkitan Teknologi Nasional Ke-17 yang dipusatkan di Bandung. Penutupan Ritech Expo dihadiri Sekretaris Menristek Mulyanto. Acara tersebut juga diisi dengan pemberian penghargaan kepada tiga riset teknopreneur seperti baterai berbahan dasar lumpur Lapindo serta kapal pelat datar.

JAKARTA, KOMPAS.com - Lembaga Penerbangan dan Antariksa Nasional (Lapan) berhasil menyelesaikan Satelit Lapan A2 yang merupakan suksesor dari Satelit Lapan Tubsat. Jika sebelumnya pembangunan Lapan Tubsat dilakukan di Technische Universitat Berlin, Jerman, maka untuk penggarapan Lapan A2 sepenuhnya dilakukan di Pusat Teknologi Satelit Lapan di Rancabungur, Bogor, Jawa Barat.

"Pokoknya Lapan A2 100 persen buatan dalam negeri, proses pengerjaan sudah rampung dan rencananya sama seperti pendahulunya satelit ini akan kita luncurkan menggunakan roket dari Sriharikota, India," ujar Suharmanto, Kepala Pusat Teknologi Satelit Lapan ketika di temui di Pusat Teknologi Satelit Lapan di Rancabungur, Bogor, Jawa Barat, Jumat (30/8/2012).

Menurut Suharmanto, Lapan A2 memiliki keunggulan sensor dibanding Lapan Tubsat. Hal ini dapat dilihat bagaimana Lapan A2 memiliki tiga fungsi yaitu pengamatan bumi, pemantauan kapal, dan komunikasi radio amatir. Satelit dengan sensor Automatic Identification System (AIS) ini dipercaya dapat melakukan identifikasi terhadap kapal yang akan melintasi wilayah jangkauan Lapan A2."Harapan kami Lapan A2 dapat menjadi solusi untuk melakukan pemantauan lalu lintas wilayah laut Indonesia," kata Suharmanto.

Satelit dengan bobot 78 kilogram ini akan melintasi wilayah Indonesia secara diagonal sebanyak 14 kali sehari, dengan kisaran 20 menit perputarannya. Pada orbit AIS, Lapan A2 memiliki radius deteksi lebih dari 100 km dan mempunyai kemampuan untuk menerima sinyal dari maksimum 2000 kapal dalam satu daerah cakupan.

Lapan A2 yang akan mengorbit secara ekuatorial nantinya akan menjadi satelit pemantauan bumi pertama di dunia yang memiliki orbit ekuatorial. "Meskipun Indonesia masih merupakan pendatang baru di teknologi antariksa, namun adanya Lapan A2 seperti menjadi awal baru perkembangan dunia satelit di Indonesia," ucap Suharmanto.

Sumber:
http://sains.kompas.com/read/2012/08/31/14443720/Lapan.A2.Satelit.Produksi.Indonesia
http://sains.kompas.com/read/2012/08/31/14443720/Lapan.A2.Satelit.Produksi.Indonesia

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar