Sabtu, 08 September 2012

Frithjof Schuon, Terpikat pada Filsafat Islam


Frithjof Schuon, Terpikat pada Filsafat Islam (2)
Frithjof Schuon

REPUBLIKA.CO.ID, Kalangan akademisi maupun mahasiswa filsafat dan orang-orang yang menggemari ilmu filsafat tentu mengenal sosok Fritjhof Schuon.

Ya, dia adalah salah seorang ahli filsafat yang sangat terkenal. Tidak hanya di kalangan ilmuwan Barat, tapi juga cendekiawan Muslim.

Semasa hidupnya, Frithjof Schuon dikenal sebagai seorang filsuf sekaligus metafisikawan serta penulis berbagai buku bertema agama dan spiritualitas.

Namanya juga selalu dikaitkan dengan gagasannya yang tertuang dalam buku fenomenalnya berjudul “The Transcendent Unity of Religions”. Sebuah buku yang dijadikan rujukan oleh para penganut paham pluralisme agama.

Frithjof Schuon dilahirkan di Basel, Swiss, pada tanggal 18 Juni 1907. Ayahnya berdarah Jerman dan ibunya berasal dari Asaltia. Ayahnya adalah seorang pemain biola, sedangkan ibunya adalah ibu rumah tangga.

Masa kecilnya ia habiskan di Basel dan bersekolah di sana hingga kematian ayahnya. Sepeninggal ayahnya, Schuon kecil bersama sang ibu memutuskan untuk hijrah ke Mulhouse, Prancis.

Ketika bermukim di Prancis inilah Schuon mulai menunjukkan ketertarikannya terhadap ilmu filsafat. Salah satu tokoh filsuf yang amat dikaguminya adalah Rene Guenon, seorang filsuf berkebangsaan Prancis. Guenon yang juga merupakan seorang mualaf dikenal sebagai pelopor filsafat abadi.

Sejak usia 16 tahun, Schuon telah melahap berbagai karya Guenon, selain mengkaji karya-karya Plato. Lantaran terobsesi oleh pemikiran Guenon, Schuon memberanikan diri berkorespondensi dengan tokoh panutannya tersebut selama hampir 20 tahun lamanya. Kelak ia menjadi salah seorang tokoh penerus pemikiran Guenon.

Setelah menjalani wajib militer selama 1,5 tahun, Schuon memutuskan untuk hijrah ke Kota Paris. Di kota mode ini, ia mencoba bekerja sebagai desainer tekstil. Pada sela-sela waktu luangnya, Schuon mengikuti kelas bahasa Arab yang diselenggarakan di sebuah masjid di Paris.

Hidup di Paris telah memberikan kesempatan kepada Schuon untuk mengenal berbagai bentuk kesenian tradisional dari berbagai negara, khususnya Asia.

Kecintaannya terhadap kesenian tradisional inilah yang kemudian membawanya berkelana hingga ke Aljazair pada 1932. Di sana ia bertemu dengan seorang sufi yang bernama Syekh Ahmad Al-Alawi.

Pada 1935, untuk kali kedua ia melakukan perjalanan ke Afrika Utara. Kali ini tidak hanya Aljazair yang dikunjunginya, tetapi juga Maroko. Pengembaraannya ke wilayah Afrika Utara dilanjutkan dengan mengunjungi Mesir antara tahun 1938 dan 1939.

Di sini, ia bertemu Guenon untuk pertama kalinya. Pada saat itulah, terjadi transfer ilmu dari guru kepada muridnya secara langsung.

Dari Mesir, ia meneruskan perjalanannya hingga ke negeri India. Di negeri-negeri yang telah dikunjunginya tersebut, Schuon banyak berjumpa dengan tokoh sufi Islam, Hindu, dan Buddha.

Pada 1939, sesaat setelah kedatangannya di India, Perang Dunia II meletus. Keadaan tersebut memaksanya untuk kembali ke Prancis dan mengabdikan diri dalam angkatan bersenjata Prancis. Keikutsertaannya dalam pasukan Prancis membuat dirinya menjadi tahanan perang Jerman. Ia pun mencari suaka ke Swiss.

Oleh pemerintah Swiss ia diberikan status kewarganegaraan Swiss dengan syarat ia harus menetap di sana selama 40 tahun. Pada 1949, ia menikahi seorang perempuan Swiss keturunan Jerman. Sang istri, selain memiliki ketertarikan yang sama dalam bidang agama dan metafisika, juga dikenal sebagai seorang pelukis yang berbakat.

Bersama sang istri, Schuon melakukan perjalanan spiritual ke berbagai belahan dunia sampai ke Amerika Serikat (AS).

Dari beberapa kunjungannya ke Amerika, mereka meneliti kehidupan suku India Crow. Pasangan suami istri ini pun sempat menjalani ajaran tentang ritual ibadah dan falsafah hidup suku India Crow.

Akan tetapi, dari sekian banyak ajaran filsafat yang dipelajarinya, ia tertarik dengan filsafat Islam. Hal ini pula yang pada akhirnya mendorong dirinya untuk berpindah keyakinan dan memeluk Islam.

Namun, tidak banyak data mengenai kebenaran tersebut dan yang menyebutkan kapan persisnya ia masuk Islam. Tetapi, disebutkan bahwa setelah menjadi seorang Muslim, ia mengganti namanya dengan Isa Nuruddin Ahmad Al-Syazhili Al-Darquwi Al-Alawi Al-Maryami.

Dalam pandangan Schuon, Islam lebih baik dari Hindu karena agama ini memuat bentuk terakhir dari Sanatana Dharma. Ajaran Islam, menurutnya, tidak hanya memuat aspek esoterisme (mencakup aspek metafisis dan dimensi internal agama), tetapi juga aspek eksoterisme (mencakup aspek eksternal, dogmatis, ritual, etika, dan moral suatu agama). Sementara ajaran Hindu hanya mengedepankan salah satu aspek tersebut.

Tahun 1980, Schuon dan istrinya bermigrasi ke Indiana, Amerika Serikat. Ia bermukim di negeri Paman Sam ini hingga akhir hayatnya pada 1998. Sepanjang hidupnya, ia telah menghasilkan lebih dari 20 karya tulisan.

Meski berbagai gagasan yang ia tuangkan melalui karya-karyanya ini banyak menuai kritikan dan perdebatan, namun hingga kini pemikirannya tersebut masih dipuji dan diikuti oleh sejumlah intelektual bertaraf internasional dan lintas agama.

Frithjof Schuon dikenal luas sebagai seorang tokoh terkemuka dalam bidang religio perennis (agama abadi).

Ia menegaskan prinsip-prinsip metafisika tradisional, mengeksplorasi dimensi-dimensi esoteris agama, menembus bentuk-bentuk mitologis dan agama, serta mengkritik modernitas.

Schuon, sebagaimana dipaparkan Adnin Armas MA dalam tulisannya yang bertajuk “Pluralisme Agama dan Gerakan Freemason”, juga mengangkat perbedaan antara dimensi-dimensi tradisi agama eksoteris dan esoteris, sekaligus menyingkap titik temu metafisika antarsemua agama ortodoks.

Ia mengungkap, satu-satunya Realitas Akhir, Yang Mutlak, Yang Tidak Terbatas, dan Mahasempurna. Ia menyeru supaya manusia dekat kepada-Nya. Dia adalah Tuhan Yang Maha Esa, yakni Allah SWT.

Dalam pandangan Schuon, dogma, hukum, moral, dan ritual agama adalah berbeda. Ia berpendapat agama-agama mengandung dimensi eksoteris dan esoteris. Kedua dimensi ini yang inheren dalam agama berasal dari dan diketahui melalui intelektual.

Menurut Schuon, secara psikologis, ego manusia terkait dengan badan, otak, dan hati. Jika badan diasosiasikan dengan eksistensi fisik, otak dengan pikiran, hati dengan intelektual.

Jika dikaitkan dengan realitas, intelektual dapat diasosiasikan dengan esensi Tuhan (Yang Satu) dan langit (alam yang menjadi model dasar), sedangkan pikiran dan badan meliputi dunia fisik, terestrial. Intelektual dalam hal ini sangat penting karena otak dan badan di bawah kendali dan berasal dari intelektual.

Intelektual adalah pusat manusia (the centre of human being), yang bersemayam di dalam hati. Kualifikasi intelektual harus didampingi dengan kualifikasi moral. Jika tidak, secara spiritual, intelektual tidak akan berfungsi.

Hubungan antara ‘intelektualitas’ dan ‘spiritualitas’ adalah bagaikan hubungan antara pusat dan pinggiran. Intelektualitas menjadi spiritualitas ketika manusia sepenuhnya hidup di dalam kebenaran.

Intelektual lebih tinggi dari rasio. Karena, jika rasio itu menyimpulkan sesuatu berdasarkan kepada data, mental berfungsi karena eksistensi intelektual. Rasio hanyalah media untuk menunjukkan jalan kepada orang buta, bukan untuk melihat.

Sedangkan intelektual, dengan bantuan rasio, bisa mengungkapkan sesuatu dengan sendirinya secara pasti. Selain itu, intelektual dapat menggunakan rasio untuk mendukung aktualisasinya.

Di dunia fisik, intelektual terbagi menjadi pikiran dan badan. Di alam langit yang menjadi model dasar atau di dalam ide Plato, pikiran dan badan merupakan makna yang tidak dibedakan.

Manusia memahami kebenaran melalui intuisi. Sebagai sebuah daya, intelektual adalah dasar bagi intuisi. Intuisi membedakan antara yang riil dan ilusi, antara wujud yang wajib dan wujud yang mungkin. Implikasinya, ada realitas transenden di luar dunia bentuk.

Dengan intelektual, manusia mengetahui bahwa realitas dapat dibagi menjadi dua: absolut dan relatif, riil dan ilusi, yang harus dan mungkin, yang esoteris dan eksoteris. Menurut Schuon, agama-agama bertemu pada level yang esoteris, bukan eksoteris.

Eksoterisme dan Esoterisme
 
Schuon menjelaskan, eksoteris adalah aspek eksternal, formal, hukum, dogmatis, ritual, etika, dan moral sebuah agama. Eksoteris berada sepenuhnya di dalam maya, kosmos yang tercipta.

Dalam pandangan eksoteris, Tuhan dipersepsikan sebagai Pencipta dan Pembuat Hukum, bukan Tuhan sebagai esensi karena eksoterisme berada di dalam maya, yang relatif dalam hubungannya dengan Atma. Pandangan eksoteris bermakna pandangan yang eksklusif, absolut, dan total, sekalipun dari sudut pandang intelektual adalah relatif.

Pandangan eksoteris, menurutnya, bukan saja benar dan sah, bahkan juga keharusan mutlak bagi keselamatan individu. Bagaimanapun, kebenaran eksoteris adalah relatif.  Inti dari eksoteris adalah ‘kepercayaan’ kepada huruf—sebuah dogma esklusifistik (formalistik)—dan kepatuhan terhadap hukum ritual dan moral.

Selain itu, eksoterisme tidak pernah akan melampaui individu. Eksoterisme bukan muncul dari esoterisme, namun muncul dari Tuhan.

Schuon menyadari jika masing-masing form agama meyakini bahwa sesuatu form itu lebih hebat dibanding dengan form yang lain.

Pemikiran seperti itu, lanjut Schuon, sangat wajar. Perpindahan agama terjadi justru karena adanya superioritas sebuah form terhadap yang lain. Bagaimanapun, superioritas tersebut sebenarnya relatif.

Sementara itu, esoteris adalah aspek metafisis dan dimensi internal agama. Tanpa esoterisme, agama akan teredusir menjadi sekedar aspek-aspek eksternal dan dogmatis-formalistik.

Esoterisme dan eksoterisme saling melengkapi. Esoteris bagaikan ‘hati’ dan eksoteris bagaikan ‘badan’ agama. Schuon menambahkan, titik temu agama bukan berada pada level eksoteris.

Sekalipun agama hidup di dalam dunia bentuk (a world of forms), namun ia bersumber dari Esensi yang Tak Berbentuk (The Formless Essence). Agama memiliki dimensi esoteris yang berada di atas dimensi eksoteris. Titik temu antaragama hanya ada pada level esoteris.

Melalui esoterisme, manusia akan menemukan dirinya yang benar. Pandangan esoteris akan menolak ego manusia dan menggantinya dengan ego yang diwarnai dengan nilai-nilai ketuhanan. Esoterisme menembus simbol-simbol eksoterisme.

Sekalipun terkait secara inheren kepada eksoterisme, esoterisme independen dari aspek eksternal, bentuk, formal agama. Independensi tersebut karena esensi dari esoterisme adalah kebenaran total. Kebenaran yang tidak terbatas dan tidak teredusir kepada eksoterisme yang memiliki keterbatasan.

Sumber:
http://www.republika.co.id/berita/dunia-islam/mualaf/12/09/06/m9vo53-frithjof-schuon-terpikat-pada-filsafat-islam-1
http://www.republika.co.id/berita/dunia-islam/mualaf/12/09/06/m9voip-frithjof-schuon-terpikat-pada-filsafat-islam-2
http://www.republika.co.id/berita/dunia-islam/mualaf/12/09/06/m9vpdk-frithjof-schuon-terpikat-pada-filsafat-islam-3
http://www.republika.co.id/berita/dunia-islam/mualaf/12/09/06/m9vpmc-frithjof-schuon-terpikat-pada-filsafat-islam-4
http://www.republika.co.id/berita/dunia-islam/mualaf/12/09/06/m9vpsy-frithjof-schuon-terpikat-pada-filsafat-islam-5
http://www.republika.co.id/berita/dunia-islam/mualaf/12/09/06/m9vq01-frithjof-schuon-terpikat-pada-filsafat-islam-6habis
 
 

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar